sebuah mulut, melopong kosong
perut manusianya berkeroncong lapar
lalu lewat sebuah tubuh gagah perkasa
tempiknya: berikan mulut itu sepotong roti
lalu lahap sang mulut makan gratis
namun tangannya tetap menadah meminta: air
tubuh itu semakin kuat tepiknya biar seluruh alam mendengar
berikan dia air, sepuasnya juga menuding kepada si mulut
lalu dia tersenyum lebar dan gembira: aku sudah berbakti
namum mulut tetap juga terus meminta: bagaimana esokku?
terkebil-kebil sendiri si mulut tanpa jawap
tubuh hanya berlalu pergi, dalam hatinya: mulut ngak tahu berterima kasih
sedang,
di jalan lain, lewat situa bungkuk
firasatnya kaya, keberadaannya tiada
menghampiri si mulut terus melopong menadah
dia berbisik halus: tangan memberi lebih baik dari tangan menerima
melontar lihat tajam pada si mulut: ayuh, jangan hanya menerima, mari kendiri
mulut sebagainya mulut, menyanggah: masa bisa, aku miskin!
si tua tidak berputus asa: cacing hidup tiada siapa membantunya
terus mendamping: kamu cuma miskin akal dan usaha
terus memperingat: Allah belum berpaling dari kamu
terus mendesak: kamu adalah pilihan kamu!
si bungkuk mengheret diri, berlalu meninggalkan nasihat
seperti perginya Muhammad SAW tanpa harta pusaka diwarisi sesiapa
kuching, sarawak
6 jun., 2012
0 comments:
Post a Comment