Latest Postings
Loading...
Nov 13, 2015

1/11/15 MELEBUR DIRI DALAM AL QURAN .....making Al Quran my true guidance?

Sekitar 55 tahun berlalu, Allah telah menjadikan diriku ini. Itulah apa yang sering aku dengar dan terus dengarkan sehingga kapanpun. Aku dijadikan oleh Allah, dan semua di sekelilingku adalah hasil penciptaan Allah. Dari sekecil atom membawa ke yang paling panas sang matahari dan yang paling luas langit-langit alam, semua adalah ciptaan Allah. Dan aku tercipta bersama entah berapa trilionan jenis mahlukNya. Apa saja yang bisa terlihat, tersentuh, terasa, terdengar, bahkan yang tidak bisa masuk akal juga semua adalah ciptaan Allah. Tiada apapun yang tidak dalam pengetahuan dan kekuasaanNya. Dialah yang MahaMenguasai. Maka kerana itu, MahaBesarnya Dia, segala sesuatu Dia aturkan untuk berlaku pada aturan yang rukun dan seharusnya. Aku sebagai manusia, sang ciptaan paling sempurna kataNya, Dia tidak membebaskan aku terjadi dan berbuat sekehendak aku. Bagai bumi, segala planet, bulan semua, terikat oleh suatu aturan graviti matahari, maka aku juga telah Dia ikatkan dengan apa yang Dia sebutkan sebagai Al Quran. Al Quran, kataNya adalah pedoman perjalanan panjangku. Al Quran kataNya, tidak akan pernah khilaf apa lagi salah. Al Quran, kataNya adalah jalan aturan yang paling sempurna untukku. Al Quran, kataNya, adalah pedoman jelas untuk aku berpulang ke Kampungku, Syurga. Namun, satu yang muskhil padaku, kenapa Al Quran tidak menjadi darah dagingku? Dia yang menciptakan aku. Dia yang menciptakan Al Quran untukku, namun kenapa kami dua mahlukNya terpisah jauh?

About 55 years ago, I was said, created by Allah. Such was heard and will continue to be heard by me to my life end. I was created by Allah, and everything surrounding me, all were created by Him. From the smallest, such as the atom to the hottest burning sun and the large universe covering sky were all created by Him. Whatever I can see, touch, feel, hear and even all the non logical to my mind, all were created by Him. Yet nothing is without His knowledge and control. I am just among, I can't figure out how many trillions types are there, all of His creations. He is the Al Mighty Greatest. As such, with His super supremacy, He has and ordered for everything He created to be as what they must be. I'm of no exemption. Though He said, I was His perfect creation, holding to the highest position among all His other creations, I was not free to be of my own by my own. The earth, the planets, the moons, are all bounded by the rule of the sun's gravitional force. I am, by His order, is bounded by the law as He sent in the form of the Book, the Al Quran. He ordered, the Al Quran is the purest guidance of my long journey to my old home, the Heaven where He resides. He made Al Quran with no mistake. An absolute perfect Deed. But, the big BUT, why then the Al Quran never succint into my blood and mind? He created me, He created the Al Quran for me, yet we both are far apart? Why?

(2) Tanganku ini Allah jadikan untukku. Telinggaku, hidungku, mulutku, segala apapun yang ada padaku, segala-galanya adalah ciptaanNya juga untukku. Namun kenapa semua itu bersatu melekat kukuh menjadi aku? Tanpa satu atau sebahagian itu, apakah masih aku seharusnya aku?  Tanpa kepala apakah aku masihnya aku? Tanpa perut, hati, jantung, apa saja cuba robekkan dan buangkan dariku, apakah aku tetapkah aku, masih aku? Pastinya, aku akan menjadikan aku yang pincang, aku yang OKU dan bukan aku sebetulnya aku yang sebenar, bahkan bisa saja sekujur mayat yang kian membusuk, membangkai yang menjijikan. Maka, tetapi kenapa, Al Quran yang tercipta untuk aku, tidak pula melekat menjadi aku? Kenapa Al Quran itu masih mahu duduk jauh-jauh dari aku juga atau sebaliknya? Apa harus kini aku robek-robekkan Al Quran itu, kujadikan chip lalu kutanam dalam benak otak dan jantungku, agar menjadilah ia suatu pace maker dalam mengawal seluruh cara dan tabiatku agar menjadilah aku sebagaimana yang Allah mahukan aku jadinya aku? Apa itu mungkin? Apakah sebegitu mahunya Allah? Ataukah Allah sedang mencabar aku untuk berbuat sebegitu? Kambing tetap kambing, bukankah lantaran dalam dirinya tertanam kuat chip kambing. Belum pernah aku melihat kambing mahu jadi kera. Ayam tetap ayam. Berkokok, kelorok, berketak, mengawan, bertelur, menentas, dan siap untuk disembelih. Tidak ayam ada keinginan apa lagi bertukar menjadi ular sawa. Semua, segala, apa saja yang Allah ciptakan, mereka tetap pada tujuan penciptaanNya, tetapi tidak aku. Ada waktu aku adalah aku. Ada waktu aku jadi kucing. Ada waktu aku jadi tikus. Ada waktu aku jadi singa. Ada waktu aku jadi monyet. Berbilang jadinya aku. Kenapa? Kenapa aku tidak saja tetap menjadi aku, sepertinya aku yang Dia telah tetapkan seharusnya aku? Bagaimana harus aku bisa jadi sebegitu, agar aku bisa pulang enak ke Kampung asalku, Syurga di mana kedua Ayah Bondaku telah terciptakan? Bagimana harus aku menjadikan Al Quran itu sentiasa ada dalam diriku?

(2b) My hands, my nose, my mouth, all those that are with me, all of them were created for me to make one me. But why then He made all those easily be well crafted and bonded to make me? Say without my head, would me be still me?  Without my tummy, my heart, my lung, or just detached anything from me, would me be still the wholesome me? Without even just one, would I not be a handicap and or retarded? Or may I not be just a rotting death? Therefore, and why is the Al Quran being created for me yet never being part and parcel of one me? Why is the Al Quran stays afar from me and or vice versa? Should I just tare the Al Quran, turn it into a chip and plant it into my brain and heart so as to make it a new pace maker to regulate my one wholeself and acts? Will Allah allow me to do so? Or is Allah challenging me to do so? Look at everything else. All are as they are. Goat is a goat. Is it not, for goat being planted the chip of goat so as it remain forever as goat? Goat never wanting or being a monkey. The same with the chicken. The chicken chip that was implant into them made them chicken forever. They pecking, they mates, they lay eggs and grown to be eaten. They never deny as what they are for. They remain as chicken and never wanting or transforming themselves say into python snake. Everything that Allah had created, they remain to what and the purpose of their creation, yet not me. There are times, I'll be me as me. But there are times I just be cat, rat, lion, monkey, all sort as I wish to be. I have so much faces. Why? Why is me not just remaining as me as He want me to be? How would then be me be on my easy way to be back to my old home, where my dad and mom were born, the Heaven, when the Al Quran is never an integral of me?

(3) Mudah saja untuk aku katakan, betapa Al Quran itu sudah tersalah diajarkan kepadaku. Aku diajar mengaji Al Quran. Kata semua para guruku, itulah maksudnya Al Iqra'. Mengaji, iaitu membaca. Membaca Al Quran itu memberikan aku pahala. Jika berulang-ulang aku membaca maka lagi banyak pahalanya. Apa lagi kalau aku membaca berlama-lama. Dengan pahala itu, esok-esok pasti aku juga akan ke Syurga. Sebegitulah terus-terusan aku dengarkan sehingga saat ini. Sepertinya, aku harus makan, kerana dengan makan aku pasti kenyang. Makanlah apa saja, tanpa perlu berfikir makan apapun, pasti aku kenyang. Sebegitulah mudah caranya. Sebegitu mudah jalan doktrinasinya. Dan aku telah ikuti itu. Namun tidak juga Al Quran itu adalah aku. Hafal juga aku kian hafal. Tetapi tetap aku belum menjadinya aku seaku-akunya. Masih ada waktu-waktunya sifat-sifat  kucing, tikus,  singa, monyet dan paling parah aku tetap ada sifat-sifat babi celeng yang tidak mengenal puas dalam apapun. Sifat-sifat jelek babi kian menguasai aku. Nafsu makanku tidak pernah puas. Milikku habis kulahap. Milik yang lain juga tetap mahu kurampas dan lahap. Mencuri, merampok, menipu, rasuah, memeras, namakan apa saja tabiat perut gendut sang babi kian menjadi-jadi padaku. Aku kian menjadi babi melampaui babi. Aku kian menjadi manusia babi. Sangking semakin umurku kian pendek, semakin jauh senggangku dari Al Quran biar Al Quran itu ada di mana-mana dekat aku. Kenapa? Apa bisa aku katakan guruku dan ibu bapaku yang salah dan bukan aku? Maka kasihanlah kedua ibu bapa juga guru-guruku harus menaggung segala dosa atas sifat-sifat celengku. Apakah itu wajar?

(4) Keduanya, yang bisa saja aku sesalkan adalah lingkunganku. Apa bisa sebegitu? Kenapa tidak? Lingkunganku yang menjadikan aku sepertinya aku. Darwin dan malah Sigmond Freud memperakui itu. Alam menjadikan sesuatu pada sifat dan prilakunya. Manusia berlumba-lumba dalam segala. Maka aku juga harus berlumba. Di mata manusia, tanpa apa-apa aku jadi hina. Tiada siapa mahu dihina. Maka aku bekerja keras untuk menguasai apa-apa saja pada jalan apapun. Jangn dikira jalan itu benar atau salah, pokoknya aku harus memiliki. Apa penghormatan pada sang jujur yang miskin papa kedana? Siapa bisa ikhlas untuk miskin? Lihat saja bertapa terhormat si celeng gendut biar makanannya dan wajahnya paling ambruk? Dari dihina tiada apa-apa, wajar saja aku terima dihina kerana bobrok cara. Bukankah sebegitu fitrah manusia, pasti akan melupakan jalan bagaimana aku memperolehi apa yang aku miliki? Dan jalan Al Quran itu paling sangat banyak membatas. Maka tidakkah lantaran keliling maka aku kian senggang dari jalan Al Quran yang Allah buatkan untukku? Maka lebih wajar, lingkunganku yang bersalah di atas siapa aku jika aku adalah bobrok. Cuma apa benar itu?

(5) Aku berpaling kepada Allah. Kenapa kepada Dia? Seharusnya sebegitulah, kerana Dia yang bersaran sebegitu. KataNya "Biasa saja Dia membantu dalam dan untuk apa juapun". Dia juga berkata "Di Akhirat, biar di Syurga atau di Neraka, tiada siapa yang menentukan aku ke mananya aku melainkan diriku sendiri." Sepertinya, akulah yang menentukan siapa aku, di mana dan kapanpun. Selain diriku, tiada kuasa ke atas aku. Anih Tuhan ini. Dia yang MahaBerkuasa, aku pula yang berkuasa pada diriku. Jika ibu-bapaku yang bersalah, jika para guruku tidak benar, jika lingkunganku beronar, maka kenapa aku sendiri menanggung segala? Bukankah aku tidak pernah minta terlahir, bahkan aku juga tidak pernah minta menjadinya aku. Maka, ketiganya, boleh saja aku berkata "Ah Ya Allah, Engkau yang menjadikan aku. Engkau menjadikan segala. Maka ke atas Engkau aku harus dipertanggungjawabkan tentang siapanya aku.". Ya benar. Sememangnya mutlak benar betapa Allah bertanggungjawab ke atas aku. Maka, bukan aku, dan tidak benar  aku yang bertanggungjawab ke atas diriku. Allahlah yang bertanggungjawab ke atas aku. Kutemui jawabannya. Lapang dadaku. Namun belum puas akal fikiranku. Maka, kerana Dia adalah Allah. Kerana Dia yang menciptakan aku malah segalanya, maka aku akui saja Dia adalah benar-benar betul. Bukan kerana aku dunggu tidak menyoal. Pokoknya, segala sesuatu ada saja sang penciptanya, termasuklah aku. Fikiranku terus kian menjadi tercari-cari atas sebab kenapa Al Quran yang penciptaannya adalah untuk aku tetapi itu bukannya dan atau sebahagian aku? Benarlah Allah paling bertanggungjawab ke atas aku, dan tanggungjawab itu, adalah pada aturan Al Quran yang Dia serahkan kepada aku. Ikut atau tidak ikut Al Quran, itu mutlak urusanku. Maka, selagi aku tidak pada jalan Al Quran, maka terlepaslah Allah dari tanggungjawabNya pada aku. Sungguh Dia MahaBijaksana. Dia terlepas dari siapanya aku selagi aku bukanlah Al Quran. Maka, kenapa aku dan Al Quran sebergitu jauh?

(6) Apa mungkin aku sorot saja persoalan itu sebegini. Muhammad (20 April, 570M) dari seusia anak-anaknya, dia juga mencari-cari jalan benar dalam lingkungan yang cukup onar. Masyarakat lingkungan Muhammad sangat ambruk. Jiwa, fikiran, dan malah segalanya bobrok. Segala natijah-natijah kemanusiaan jauh menyimpang dari apapun ukuran kemanusiannya. Lingkungan masyarakatnya, sudah mendekat haiwan sang binatang buas. Muhammad mencari kebenaran dalam segala kekeruhan kegelapan zaman, Jahilliah. Dia mencari bersendiri. Kedua ibubapanya, tiada tangan membimbingnya mencari diri juga kebenaran, lalu menjadikan dia sebagaimananya dia. Kedua mereka berpulang sebelum dia mengenal erti hidup. Muhammad dari bocahan hidup penuh kepayahan. Jalan hidupnya penuh keperitan. Perit kerana sememangnya alam tabii tidak bersahabat, juga kerana lingkungan yang menyesakkan. Dia menongkah arus dengan caranya yang tersendiri. Dia mencari dan memperlakukan apa saja, dengan cara lain dari kebiasaan. Dia hakikatnya mencari kebenaran yang bernama Tuhan. Dia mencari Tuhan yang boleh memberikan dia sirna kekuatan bertahun-tahun lamanya. Dari sebermula beliau sehingga mendewasa pada umuran 40 tahun (6 Ogos, 610M) , barulah Jibrail datang kepadanya mengkhabarkan Tuhannya adalah Allah.

(7) Maka aku mulai berfikir betapa Al Iqra itu bukanlah pertaruhan agar Muhammad membaca. Al Iqra adalah mula perkhabaran Allah adalah Tuhan yang Muhammad carikan. Tuhan yang menjadikannya, Tuhan yang bisa menunjuk jalan benar untuk Dia, masyarakatnya, dan seluruh manusia untuk bisa terlepas dari segala kekalutan. Kerana sudah tahu dan kenal akan Alah, Tuhannya yang sebenar iaitu bukan Al Usta dan Al Unza, lalu Muhammad kemudian diperintah patuh sujud kepada Allah. Dan selanjutnya, Allah hadirkan kepada beliau segala jalan pertunjuk kebenaran. Allah terus-terus membimbingnya dalam segala jalanan hidupnya. Muhammad menghafal pertunjuk-pertunjuk itu lewat sholat-sholat jauh-jauh malamnya. Dia mengamalkan setiap Ayat Allah dalam hidupnya. Dia menjalani kehidupan hariannya berasaskan pertunjuk-pertunjuk itu. Dia benar-benar menjerap dirinya kepada pertunujk-pertunjuk itu. Sebegitulah Allah, mensebatikan jalan pertunjukNya kepada Muhammad. Jalan itu, Tuhan lahirkan sebagai aturan yang kemudiannya bernama Al Quran. Al Quran hadir kepada Muhammad tanpa henti selama sekitar 23 tahun. Muhammad patuh kepada itu, dia menghidupkan itu, dan dia hidup bersamanya. Muhammad melangkah dengan Al Quran. Muhammad menyentuh dengan Al Quran. Muhammad berkata-kata dengan Al Quran. Muhammad melihat dengan Al Quran. Segala langkah gerak laku Muhammad sentiasa bersama Al Quran. Buah fikirnya, cita rasanya, segala apa juga tentang dia, semuanya adalah dengan iringan Al Quran. Al Quran menjadi sebati pada diri Muhammad. Akhirnya, Muhammad adalah roh hidup Al Quran lalu menjadilah dia sebuah Al Quran. Muhammad dan Al Quran terpisah tiada. Dirinya adalah Al Quran. Muhammad menghidupkan Al Quran. Dia hidup bersama Al Quran. Al Quran menjadi dirinya. Sangat panjang waktunya dan pengorbanannya untuk Muhammad bisa sebegitu.

(8) Suatu perbedaan jelas. Muhammad hidup dalam Al Quran dan sebaliknya. Namun kini, aku termanggu mendengar dan melihat betapa Al Quran sekadar suatu bahan pengajaran biar oleh pendidiknya juga murid-muridnya. Al Quran terasing dalam hampir semua dan segala.



(9) Tiga belas tahun pertama Muhammad hidup bersama Al Quran dengan segala payah perit penentangan masyarakatnya. Akhirnya Allah perintahkan dia Hijrah ke Madinah pada 28 Jun, 621M.  Pada usia awal 50an, Muhammad atas kesungguhnannya maka Allah kemudian permudahkan perjuangan jalan hidupnya. Di dan dari Madinah, Muhammad merobah segala-gala. Pada Jan, 630M, pada usia 60 tahun, Mekah dibebaskan dari segala kekufuran dan Islam kembali bertapak di titik mulanya iaitu di Baitulllah. Itulah kejayaan mutlak terbesar Muhammad, mengembalikan Islam di titik mulanya di bumi ini untuk semua umatnya warisi dan kembangkan. Muhammad SAW meletakkan asas bagi ketemadunan umat dan manusia sejagat, suatu sumbangan yang tiada tandingannya.

(10) Sesungguhnya tetes-tetes air yang menimpa batu, pasti lekuklah batu itu. Dengan kelanjutan untuk seberapa lama, akhirnya pecah berderailah batu lekuk itu, perlahan-lahan terurai menjadi pasir lalu tanah liat dan debu-debu yang larut di dalam air. Di alam maya ini, sebegitulah Allah mencairkan dan mensebatikan biar yang paling keras sekalipun. SubhanaAllah. Muhammad sebegitulah jalanan pensebatian Al Quran kepada dirinya. Dia tidak pernah sedetikpun berpisah darinya. Saban waktu biar selama apapun dia terus bagai air yang menitik menimpa batu yang akhirnya luluh menjadi selut cair bersama air. Maka benarlah, ibubapaku sekadar melahirkan aku. Mereka hanyalah perantara Allah untuk aku hadirkan di sini juga pulang damai atau penuh celaka ke Kampungku nanti. Bukan mereka yang menentukan siapa aku akhirnya. Benarlah juga, kelilingku bukan yang menjadikan aku adalah aku. Jiwa dan fikiranku harus menilai keliling dan menguasainya untuk aku menjadi aku. Memang benar Allah yang menentukan aku. Namun akulah yang harus patuh kepada Al Quran agar aku adalah benar-benar aku seperti kehendak Allah padaku. Kenapa sebegitu?

(11) Sebentuk cicin, tidak indah saat terukir bukan pada citarasa empunya jari pemakainya. Samalah juga, sebentuk cicin tidak menjadi cincin seandainya bahanbuatannya tidak dapat dibentuk sebagai cincin. Sebentuk cincin tiada ertinya, seandainya ianya bukan pada kedudukannya. Maka, aku jika bukan aku, siapakah aku?  Jika aku tidak terbentuk sebagainya aku, siapakah aku? Jika aku, tidak menjadinya aku, siapakah aku? Jika aku, tidak pada kedudukan aku, siapakah aku? Sesungguhnya, Al Quran adalah acuan yang Allah telah sediakan untuk aku menjadinya aku. Maka, kenapa aku tidak melebur diri ke dalam acuan Al Quran sepertinya batu melebur manjadi selut bersama air menjadi lumpur? Kini aku sudah 55, dan Muhammad pada usia sebegitu sedang siaga untuk mencapai puncak tujuan hidupnya, maka apakah aku sudah sampai ke situ? Muhammad SAW meninggalkan Kaabah yang merdeka berdaulat sehingga kini. Apakah yang merdeka berdaulat peninggalanku, saat berpulangnya aku nanti? Jawabannya, sejauh mana Al Quran sudah melebur dalam diriku. Juga pasti itu terkait tentang kejayaanku dalam tujuan hidupku yang Dia pertanggungjawabkan kepadaku.

(12) Al Quran bisa menghantar aku menjadi aku demi Dia. Tanpa Al Quran, pasti aku sekadar aku untuk aku, dan tidak untuk Dia. Jika nan terkemudian jadi pilhanku, pastinya aku tiada harga buat Dia. Firaun, menjadi Firaun untuk Firaun, maka hancurlah mereka. Abu Jahal dan Abu Lahab, menjadilah Abu Jahal-Lahab paling angkuh dan riak, juga hancur musnahlah mereka hina. Segala, yang menjadi atas kemahuan nafsu mereka yang bukan pada kehendakNya, hancur segala penuh perih dan duka. Apa aku harus memilih? Titianku untuk harus kepadaNya cuma 6,236 ayat-ayat ternukil di dalam Al Quran. Kenapa tidak saja kumulai saat ini juga. Air menetes di batu, bisa juga meleburnya kemudiannya. Muhammad menghambat dekat kepadaNya, sebegitulah biar penuh perih, dia tekad jelas, dan kejayaan besar dia raih biar setelah dia tiada. SubhanaAllah.

(12) Apakah terlalu payah untuk aku melebur diri bersama Al Quran? Kuusahakan dulu sebegini dalam penemuan kali ini. Dari mulai buka mata, sehingga aku pejam mata setiap harinya, apa saja yang kuperbuat, untuk siapa? Kerana apa?  Atas jalan apa? Atau bagaimana? Kerana Allah yang menciptakan aku, untuk menjadi aku atas tujuan aku pada jalanNya, maka biarlah terbuka mataku atas untuk Dia. Segalanya dari itu, bagaimana kehendak Al Quran seharusnya aku perlakukan? Alhamudlliah, HidayahNya sampai juga kepadaku, kini aku mengerti apa saja yang akan aku lakukan, lihat saja bagaimana Al Quran menghendakinya. Maka haruslah aku tetap di jalan ini saban ketika, maka aku pasti aku (kita) melebur akan ke dalam Al Quran. Iman dan Taqwaku (kita) pasti saban hari kian manis dan subur. Ya Rabbi, In Shaa Allah mengertilah aku kini.

Nota:
(a) Bila aku punya masalah dan atau aku ingin berbuat sesuatu yang baru, sedari usia enam tahun, aku membuka buku dan meneliti apa kata buku-buku itu. Cuma aku tidak melakukan sebegitu kepada Al Quran. Al Quran ada 6,236 Ayat. Dari sejumlah Ayat-Ayat tersebut, berapakah yang berupa perintah Fardhu Ain, berapa pula berupa perintah Fardhu Kifayah, dan berapa sekadar sejarah untuk teladan dan kata-kata dorongan. Aku menduga 80 peratus dari isi Al Quran adalah Sejarah Teladan dan Kata Dorongan. Maka kenapa terlalu payah untuk aku mengarap 20 peratus kandungannya sebagai jalanan acuan hidupku?

(b) Syurga itu benar. Syurga itu nikmat mutlak sempurna. Ianya adalah hadiah kasih sayang Allah kepada aku yang aku. Neraka itu benar. Neraka itu siksa tiada tara. Neraka adalah untuk aku yang acuan diri dan perilakuku adalah bukan Al Quran. Janji Allah itu benar, persis. Dunia ini hanya ujian. Biar susah perit sekadar ujian. Biar senang mewah, juga ujian. Dunia ini bukanlah hadiah juga hukuman. Dunia hanyalah ujian. Tiada yang kekal. Aku harus lulus cemerlang dalam semua ujian. Seharusnya, itulah peringatan yang harus aku pegang dan mengikat pada setiap detik langkahku. Harus bermulalah aku melihat segala langkah sikapku pada jalan Al Quran, untuk aku melebur ke dalamnya, sebagaimana aku telah merujuk kepada segala buku yang berlimpah.

Semua sisipan ilustrasi adalah capaian dari internet. Terima kasih kepada semua yang menyumbang.

Kuching, Sarawak
17 Nov., 2015

0 comments :

Back To Top