Latest Postings
Loading...
May 11, 2015

4/5/15 AKU yang AKU ..... satira para pepatung. (DRAFT)

Bab I: Bunga Langkah

Di sebuah negeri, bernama Merung Mahawangsa, direngkaskan sebagai MM, tumbuhnya diriku. MM bukan bermaksud Mahathir Mohammed bekas segala bekas di Negara bernama Malaysia. Juga bukan Mustapha Mohammed, Menteri paling kuat bekerja juga di Malaysia.  Malaysia itu singkatnya My. Cukup bagus, cocok sekali. Namun My tidak bermaksud Muhhyiddin Yasin, cuma mungkin jika sebegitu, harus saja, lantaran kemahuan Allah itu tidak kita ketahui. My itu harus membawa semangat kekitaan yang utuh bagi Malaysia. Apakah itu sebegitu? Juga, Malaysia, apa mungkin terbit dari kata Malay + Sia,  aduh pasti kurang bagus itu. Kenapa Malaynya sia? Biarkanlah. Fikir sendiri. MM, apa mungkin maksudnya Merung itu? Seekor burung mungkinnya. Burung apa? Burung dari angksa jagat raya mungkinnya. Apa mungkin seekor Burak? Mahawangsa itu jelas, hanyalah kata Sankrit bagi perkasa. Anih juga, kenapa harus Negeri ini dinamakan sebagai Burung Gagah Perkasa? Di Negeri inilah adanya aku. Aku yang sebetulnya aku. Aku yang aku. Namaku adalah Aku. Tidak lain melainkan aku. Siapa aku nanti sebentar kuceritakan siapa aku.

(2) Biar sebermulanya aku ceritakan dulu tentang teman-teman paling akrabku. Kemudian baru aku bercerita tentang pandangan dan pegangan hidupku. Lantas mimpi-mimpiku, bukan untuk aku tetapi malah lebih luas dari aku. Pastinya, nanti juga akan kuceritakan payah hidupku yang biar matipun pasti akan aku terjah. Aku punya teman-teman, banyak teman-teman. Ada teman berjalan. Ada teman ngobrol, borak-borak menperkasa Mamak. Ngopi, ngeteh, minum-minum tanpa henti menitip sedikit-sedikit untuk Mamak kumpul buat biaya bini-bini di India. Ada teman sengoyoran, keluyuran, jajan-jajan, membeli apa saja yang sebetulnya tidak pernah dibutuhkan. Ada teman ya bikin yang bejat-bejat, melakukan kejahatan seenaknya, juga banyak. Teman-teman tidur-tidur juga ada. Tidur-tidur berdua-duaan bahkan banyak-banyak. Teman-teman ngocehan paling banyak. Saban hari ngoceh bercerita apa saja biar beneran atau rekaan. Teman maling? Kenapa tidak disoal apa aku punya ngak teman pengerampok? Soal profesion dan kesukaan teman-teman itu soal pribadi mereka. Aku cuma berteman. Soal mereka soal mereka. Aku ya akulah. Mana mungkin sama. Teman itu maksudnya apa? Tidakkah teman, sesiapa saja yang kita berasa senang berada di sisinya. Biar hanya sedetik, jika kita seneng bersamanya, maka temanlah namanya itu. Jika anjing kita senengi pasti itu juga namanya teman. Apa lagi kalau isteri, kekasih, siapa saja. Teman pertamaku bernama CiAni. Jangan salah lihat bagi yang sudah kurang jelasa penglihatannya. CiAni, bukan CIA. Hampir, tetapi tetap tidak sama. CiAni, namanya sememangya anih. CiAni, apa ertinya, dalam kitab manapun tidak akan ada. Dia bukan anak Sunda. Tidak dari Sungai-sungai Ci-cian di pergunungan di desa-desa daerah Bandung. Dia anak Siam sebetulnya. Aku paling hati-hati dengan dia ini. Badannya besar. Suaranya paling lantang. Punya taring panjang. Dia paling mahu bersikap memusuhi aku. Paling dia suka dan aku tidak suka, dengki dan tamaknya. Rakus kuasa. Mahunya dia jadi Kepala segala Kepala maka di mana saja kepalanya harus masuki. Cemberut sebetulnya. Aduh sifat jelek itu sangat besar pada dirinya. Mungkin lantaran itu, wetengnya gendut menangung rasa cemberut yang tidak kepalang. Namun dia tetap temanku, anih bukan? Harus ingat, dari dia, aku kian hari kian belajar untuk waspada sehingga kini aku benar-benar menjadinya aku. Setidak-tidak dia adalah teman tempat aku belajar menjadi aku. Kedua Brahim. Orangnya kerdil. Kecil. Mungkin zaman anak-anaknya kurang nyusu, maka saat dewasa tulangnya pendek-pendek. Manusia terbangun dari kurang zat batu karang, kalsium, maka sebegitulah jadinya. Matanya sepet. Kuat menangis mungkin dia di zaman anak-anaknya. Otaknya bejat. Paling licik. Hobinya bener-bener bejat, jahat paling kotor. Hatinya entah dipenuhi apa, aku tidak mengerti. Mungkin juga darahnya dari asem cuka, nafasnya dari asap toko amonia. Namun dia ini, paling berada. Kalau mahu diceritakan kekayaannya, paling hebat. Tiada Bank di dunia mahu menerima wangnya. Terlalu banyak. Cuba lihat yang dinamakan Gunung Jerai, dulu kawasan itu sebetulnya tanah peran, persawahan. Kerana hari-hari dia menanam peti-peti besi berisi duitnya di situ, kini ianya sudah terbangun menjadi Gunung Jerai. Itu baru di Negeri MM ini. Di dareah Perak, di Cameroon Highland sama saja. Di Johor, di Ledang, Gunung itupun adalah tumpukan duitnya. Apa lagi Gunung Tahan. Sama saja. Di Kinabalu, paling hebat dia. Gunung Kinabalu itupun adalah kuburan duitnya dia juga. Dia manusia duitan. Punya duit dia umpet-umpetan ngak mahu bersedekah apa lagi berzakat. Dialah orang kaya Hj Bakhil. Hidupnya cari duit dari pagi sampai malam, dari malam sampai siang. Dia ngak pernah puas untuk mencari duit. Anih ya, manusia harus pelit kedekut untuk kaya. Di matanya, pelit itu hemah. Maka lagi pelit maka lagi berhemahlah tafsirnya. Kalau ngak pelit apa ngak bisa kaya? Mungkin inilah pemikiran konyol, lungu bodoh, tidak sedar betapa yang mencipta dia, MahaPemurah tetap MahaKaya. Anih bukan, manusia ciptaanNya yang hidup dari nafasNya, punya jiwa yang menyimpang dari rohNya? Namun sebegitulah Brahim, kekadang kusebut dia Pak Hing, lantaran usia mudanya sudah kian menyingkat. Ketiga aku panggil saja namanya Bob. Kupanggil namanya Bob, lantaran sikapnya amat Cowboy-cowboyan Orang-orang sebegitu, bukankah namanya banyak bermula dari Bobby. Booby Bang. Bobby Rosenblum. Bobby Pian juga ada. Maka aku kira bagus saja dia kupanggil Bob agar sifat Cowboy-cowboyannya jadi lebih hebat. Namun dia pria paling bagus. Ganteng. Tinggi lampai. Agak hitam-hitam. Sepertinya dia dari Nigeria asalnya. Rambut kerinting. Punya kumis paling seksi, cuma hidungnya agak semangcung kodok betot nongkrong di punggung kerbau. Piter main golof. Ramai orang akur kepadanya lantaran golof. Saat dia bermain golof, kalau dia memukul masuk buah golof ke lubang biar paling jauh dengan sangat mudah, maka apa saja yang dipinta darinya pasti sudah tertunaikan. Jangan dikira jika buah golof ngak mahu dia pukul, tetapi terus saja dimasuk ke kantong celana, itu lagi jelas, betapa isyaratnya paling dalam: "Kamu sudah masuk ke kantungku". Saat itu gaya mainannya, maka turuti saja apa mahunya. Cuma hati-hati jika dia memukul buah golof sekuatnya, lalu langsung tidak dipedulikan, maka serah saja tengorok kita. Kita dikira finished pasti modar sebelum ajal. Banyak ketika, dia hanya mengantong buah golofnya. Dia jarang memukul buah golofnya. Dia sebetulnya lebih santai bermain-main buah golof di kantong celananya sambil ngobrol berjalan senang. Namun sifat sebegitu, harus jangan salah membacanya. Itu tanda, dia manusia paling banyak mahu menerima dari memberi. Sebegitu hebat diplomasi golof Bob ini. Kuasa Bob adalah di buah dan padang golof. Di situ dia menentukan segala. Gaya permainan golof beliau adalah petanda-petanda segala kuasa Kun Fayakun yang beliau miliki seperti mengalah kuasa Maha Kun Fayakun yang duduk di Arasi. Hampir semua manusia melihat dan berharap kepada Bob untuk segala kebutuhan mereka. Manusia apapun lebih senang bersama Bob dari bersama Dia yang di langit. Di tangannya Bob buah golof bisa terbang deras, di tangan dia juga buah golof bisa aman di dalam kantongnya, apa lagi di tangan dia juga buah golof bisa saja pada kedudukaannya. Bob seperti MahaBerkuasa, MahaBerhitung dan MahaMenerima. Paling berbeda dengan Dia yang MahaBerkuasa, MahaPengasih dan MahaPenyayang yang sebetulnya yang menjadikan Bob hanya dari setitis air yang kotor. Cuma kudratnya Bob mungkin paling terkedepan jalan fikirnya, maka sesiapa juga ketakutan dengan kuasa golofnya. Sepertinya, bersama Bob segala ketentuan adalah jelas dari lelah berdoa kepadaNya yang di atas. Manusia sebegitulah, sudah jauh sekali jalan penyengutuan mereka. Bob dengan CiAni adalah teman akrab. Bisa dibilang teman setiduran. CiAni ibarat bola golof yang sentiasa di kantong celana Bob. Tidak pernah dikeluar dipukul. Terus saja tersimpan bagus di kantong celana Bob. CiAni seperti buddy-buddy setianya. Buddy-Buddy dalam mengurus kambing-kambing liar mungkinnya, khusus di sebuah Negara seperti MM ini yang punya cita-cita mahu menjadi besar dan gagah. Sebuah cita-cita yang bisa mengugat kuasa golof Bob. Itu tidak harus dibiarin. Keempat Murthee. Dia sepertinya dari India kalau dilihat dari kulit hitamnya. Namanya juga Murthee, persis nama orang Hidustan. Namun darah dagingnya tetap Siam juga. Orangnya otak paling pinter. Mengaji Al Quran saja khatam tiga puloh enam kali sebelum giginya tumbuh. Cuma mungkin lantaran kuat mengaji, sehingga kini giginya seperti tidak pernah tumbuh-tumbuh. Ompong terus. Kalau Matamatika, Albert Einstein mungkin ngak setanding dia. Apa lagi jika Newton atau Galileo. Paling tajam segala perkiraannya. Mungkin tarafnya harus setinggi Al Jabar. Pokoknya dia paling pinter.  Cita-citanya kepingin merobah bangsanya menghambat dunia, namun kini cuma mampu menghitung hasil gajian kecil nyicil. Bicaranya, apa saja pasti penuh makna dan isi. Cuma jalan fikirannya agak lain. Dia sering melihat segala secara lain. Dia benar-benar kepingin bangsa Melayunya mampu melihat segala lain dari tradisi. Dia tegap pada kata dan buah fikirnya. Biar jika dia mengatakan buah nangka itu bulan, lihat saja nantinya, dia tidak akan pernah mahu kalah untuk meyakinkan nangka itu adalah bulan, dan semua pasti akan menjadi yakin akhirnya betapa buah nangka itu adalah bulan. Sebetulnya tidaklah payah sangat untuk menyamakan nangka itu dengan bulan. Cuba fikir, untuk melihat nangka tidaklah mudah. Daun nangka yang lebat sama saja seperti awan yang sedang melitupi bulan. Melihat nangka harus mendongak, sama seperti mahu melihat bulan. Bulan kembang dari kecil ke besar. Dari anak bulan ke bulan purnama. Sebegitu juga buah nangka. Dari putik ke buah yang ranum. Menunggu buah nangka, harus berbulan-bulan, maka atas persamaan semua itu, tidakkah nangka itu sama saja dengan bulan? Petah bicaranya, mungkin Isa AS saja yang bisa menantang dia. Cukup bagus, paling hebat. Politiknya hebat. Dia pernah menjadi anggota Parti Bulan. Lantaran kecewa langsung bersarung Keris menyimbah darah merah. Kini partainya berlambang Keris. Kepingin dia dikenali sebagai Melayu sejati. Pembela Melayu sejati. Pejuang Melayu sejati. Seorang Negarawan akhirnya. Tidak salah bukan. Cita-citanya murni. Dia dan CiAni juga pernah akrab. Paling akrab. Tiada siapa mampu menandingi mereka saat mereka bersama berdua. Kalau nongkrong di warung kopi, jangan diharap orang lain bisa tumpang menikmati kopi, sekadar menghidu asap rokoknya saja sudah dikira lumayan. CiAni itu kira-kira wakilnya dia. CiAni nombor dua, dia nombor satu dalam segala. Cuma kerana tubuhnya kecil, sedang CiAni besar, maka di situ CiAni merencana sutau perlombaan paling hebat antara keduanya. Taruhannya, siapa kalah harus turun dan diam. CiAni ngak mahu terus-terusan hanya dikenali sebagai wakilnya. CiAni kepingin banget mahu jadi nombor satu dari terlalu lama sebagai nombor dua. Mereka beradu olahraga. Padang adu olahraga Murthee persetujui di hutan penuh onak dan duri. CiAni, dengan megah diri tersangat yakin dia pasti menang dalam meredah huta. Acara cross country sudah biasa bagi CiAni. Cuma, CiAni khilaf perhitungan, tubuh besar tidak semestinya boleh menang olahraga. CiAni tersungkur kalah, lalu dia terus dipijak-pijak pepes oleh Murthee.

(3) Mereka itu teman-temanku. Kerjaanku amat berat. Lantas, aku juga harus punya wakil, orang nombor dua. Aku butuh orang nombor dua. Hukum alam sudah sebegitu, di mana-mana harus ada orang nombor dua. Adam AS ada orang nombor duanya iaitu Hawa AS. Ibrahim AS ada orang nombor duannya iaitu Ismail AS dan Ishak AS. Musa AS, Daud AS, Sulaiman AS, semua yang besar-besar punya nombor duannya. Isa AS yang sering kelihatan sendiri-sendiri ada juga nombor duannya. Apa lagi Muhammad SAW, paling banyak orang nombor duannya, bahkan orang-orang kanannya. Namanya, orang nombor duaku adalah, Mudin Yasin. Sering saja aku sebut MyDin. My ya 'my' sepertinya maksud dalam Bahasa Balau, adalah 'milikku'. MyDin Din milikku, wakilku. Adanya My pada MyDinku sangat kuharap setia selagi hanyatnya padaku. Aku perlukan MyDin. MyDin wataknya warak. Sering pakai pece, ketayap putih. Bisa jadi Imam. Kalau sekadar sepotong dua ayat Al Quran, pasti dia hafal lafasnya bagai meminum air zam-zam. Bisa bergaul bersama rakyat. Paling rajin bekerja. Mundar mandir ke seluruh Negeri juga ke luar Negara. Punya segala apa yang rakyat mahukan. Cuma, mulutnya agak kelampuan bila saja kusuruh menyerang khususnya CiAni. Kalau dia berpidato tentang CiAni, pasti segala bulu, segala lubang, segala celahan, segala belahan, segala parut CiAni dia semperot kepada rakyat biar rakyat tahu kebejatan CiAni. Apa bener atau ngak segala semperotannya, dia sepertinya belum tentu pasti. Lantaran sifat itulah maka dia selayaknya menjadi MyDinku, taat setia yang tidak perlu dipersoalkan.

(4) Kembali kepada aku. Aku sebelumnya aku, juga manusia hebat. Bapaku dulu juga orang besar-besar. Tahukan maksudnya orang-orang besar-besar? Mana mungkin seorang bapa adalah anak-anak kecil, pasti bapa adalah orang-orang dewasa besar-besar. Jika teman-temanku hebat, aku tidak kalah hebat. Malah aku yakin aku lagi hebat.  Hebatnya aku lantaran aku adalah murid pembelajar terbaik. Aku belajar segala dari segala teman-temanku. Dari CiAni, aku beljar gaya pidatonya. Cukup membakar. Cukup mengetarkan. Cukup meyakinkan. Cukup untuk menutup apa saja keresahan rakyat. Sangat Melayu, sangat Nasionalis, sangat Islami hemburan pidatonya. Paling bersifat universal dan sejagat sekali pidato dan buah fikirnya. Paling bagus, pidatonya paling cukup membawa harapan sirna kepada rakyat. Rakyat paling asyik dengan pidatonya. Biar perut berkeroncong, biar segala bahana kedukaan kian menyerang, saat mendengar pidatonya, segala-gala pasti lebur. Dari dia aku mengerti, rakyat paling percaya jika punya harapan. Maka seharusnya aku dalam semua pidato harus memberikan harapan. Padanya, dirinya adalah pejuang. Pejuang harus melalui segala pancaroba. Bukan pejuang jika takut dilambong ombak. Dia mengajak rakyat menjadi pejuang. Lantaran itu derita rakyat hanyalah jalan sebuah perjuangan. Rakyat bertepuk sorai menanti kemenangan sebuah perjuangan. Pinter dia. Hebat. Kalah Sukarno oleh pidatonya. Begitu juga liat tegar daya juangnya biar sekadar perjuangan sebuah kebejatan. Biar bejat, biar bukan, itu tidak penting, yang utama, roh semangatnya harus aku serap ke dalam aku. Aku sudah memiliki itu. Murthee, kukira dia bukan sekadar teman. Dia ibarat Om dari sebelah bapaku. Dia dulu berguru dengan bapaku. Fikirannya yang jauh ke depan dalam mengolah segala, adalah inspirasiku. Biar dia hanya bisa bertiori Matamatika, namun aku sadar akan kebenaran segala apa yang dia fikirkan. Aku mengerti cara untuk menzahir segala buah fikirnya menjadi kekuatan aku. Murthee pernah semua takuti. Orang takut kepadanya bukan kerana dia manusia besar sebesar-besarnya. Dia tidak seperti Bob. Bob bermain buah golof. Dia tidak. Dia hanya manusia biasa. Cuma buah fikirnya sangat segala Kepala-Kepala Negara Dunia Ke Tiga dengarin. Dia paling boleh membawa dunia saling memberontak. Dia ibarat obor di tengah malam gelap. Sumber inspirasi untuk sebuah kebangkitan menantang segala penindasan. Paling semua hormat dan takuti, dia ibarat Sang Magic. Apa saja dia mahu pasti biar sebelum menyebut "Kun Fayakun" pun sepertinya semua terberhasil. Dia paling nyata akan keberhasilan buah fikirnya. Dia paling kuat bekerja. Orang takut kepadanya lantaran dia sangat mengkota apa dikata. Juga, saat dia membahas buah fikirnya, Bob pasti akan sering ke padang golof mencari buah fikir bagaimana harus menantang dia. Pidato-pidato Murthee sering membikin Bob gergeten geram tanpa sedar lalu memukul buah golofnya terbang entah ke mana-mana. Bingas sekali Bob saat Murthee berpidato. Bob melihat dia sebagai api di dalam sekam. Murthee, biar Allah menjadikan dia hanya seorang manusia hitam hina, namun di sebaliknya Allah memberikan dia segala keberanian. Bob dan Murthee, dua musuh yang tidak pernah bertemu mata. Mereka sekadar dor doran tembak-tembakan bagai Cowboy Lunsi di Padang Kebun Tembakau. Murthee paling berani menantang Bob. Padanya Bob tidak lebih manusia bacul berani ngedor saat orang sedang tiduran. Jika di Padang terbuka, Bob pasti ngak berani berantem depan-depanan. Buat Murthee, Bob harus diajar betapa dia bukan manusia yang harus sesiapapun takuti. Bob juga hanya punya dua kaki, dua lobang hidung, dua telinga, dua tangan, dua belah jantung, dan paling nyata juga hanya punya dua kandul batu. Maka harus siapa takut sama Bob? Namun aku mengerti. Biar Bob kurang berpidato, namun tangan diamnya tetap mampu melenyet Murthee. Kini Murthee kecundang di tangan Bob lewat CiAni. Bob paling pinter licik bermain baling batu sembunyi tangan. Aku sang aku kini paling mengerti, biar Murthee, biar Bob keduanya tidak harus aku takuti. Kandulku juga dua, kandul mereka juga dua. Yang pasti kandulku masih kenceng bisa memuncerat-muncerat hasil yang banyak. Itu bekalku, lantaran Murthee kini sudah mahu bermain api dengan aku. Aku akan memukul Murthee cara Bob, lewat Bob. Aku sudah bisa menari dalam rentak lagu yang paling asing sekalipun.

(5) Sedikit waktu dulu CiAni menghentamku. Kami bertarung dalam syaitan kuasa. Dia mahu jadi nombor satu. Aku juga harus jadi nombor satu. Pertarungan kami terjadi dibulan Sialan. Saat itu para malaikat semua terkurung bagai syaitan di bulan Ramadhan. Syaitan punya kebebsan untuk bersama aku dan CiAni. Kami berantem bukan atas dasar kami adalah manusia semulia-mulia mahluk Allah. Kami berantem menjadi sepaling ganas mahluknya Allah. Kami menepati sumpah dugaan para malikat, menebar kerusakan yang paling rusak di muka bumi. Bumi Melayu kami bakar dengan segala kekonyolan. Kami jadikan Melayu bangsa binggung. Kami jadikan mereka bangsa meraba-raba celaru. Kami tidak peduli, demi kuasa. Allah menjadikan kami harus berkuasa maka pertarungan harus dilakukan demi siapa paling berkuasa. Maka, segala apa tentangku habis terbongkar. Seluar dalamku pun semua orang tahu berapa lobang koyaknya. CiAni saat berantem dengan aku paling lancang bicaranya. Paling jorok, celupar sekali. Maka aku sangat bersyukur kerana Allah memberiku seorang mualim MyDin yang bisa saja jauh lebih hebat celuparnya dari CiAni. Segala isi najis biar belum tercerna sekalipun tentang CiAni terbongkar habis. Perut gendutnya jadi kurus memuntah segala. Kini CiAni sudah bungkam, meringkuk kuhantar ke sebuah pulau sendiri-sendiri bersama para kera dan lotong, maka aku kira aku sudah paling aman. Murthee yang juga membantu aku berantem habis-habis kikis dengan CiAni, kukira paling gembira, dan pastinya paling mendokong aku dalam apa juga. Mimpi kekuasaanku terang lagi bersuluh. CiAni terpenjara ke pulau. Murthee juga kian tua menelan zaman. Namun, rupa-rupa Murthee punya Metamatika lain. Dia seperti mahu aku terus saja terhutang budi kepadanya. Dia mahu aku menjadi manusia yang harus tunduk kepadanya. Segala jalan urusanku harus saja mesti cocok dengan dia. Cuma keberuntungannya aku kerana aku kini adalah Kepala Negara. Ketua Negara. Bukan Kaki Negara. Bukan Tangan Negara. Bukan Perut Negara. Kepala Negara. Ketua. Bukan pengikut. Kudrat Allah paling besar buat aku, aku kini sudah menjadi Kepala, aku jadi Ketua. Di mataku akulah paling hebat. Sesiapa tidak melihat aku sebegitu, pasti lantaran mereka itu dengki, tamak dan tidak sadar diri. Aku hadir di masanya aku. Itu, semua harus mengerti.

(6) Sebetulnya, aku sedikit binggung dalam perangku bersama CiAni sedikit waktu dulu. Waktu itu isteriku sedang sarat mengandung. Saat dia akan melahirkan, aku benar-benar galau. Itulah saat puncak peperangan aku dan CiAni pada waktu itu. Pelbagai dakyah baru dia tebarkan tentang aku. Paling aku tidak dapat terima, bila aku difitnah punya bini piut Ghengis Khan. Siapa mahu sama anak gadis dari Puncak Dunia itu. Gadis-gadis di sana, dingin, sejuk, dan kaku. Untuk mendapatkan kehangatan, pasti harus berlakunkan adingan paling ganas. Bayangkan gadis-gadis nan biasa menonggang kuda. Bisa maput mati aku mereka tonggangi. Jangan ditanya bagimana aku tahu semua itu. Juga, mana mungkin aku mahu meninggalkan apa lagi menduakan isteriku yang hangat, panas, pedes. Isteriku ini paling suka bikin kari dan makan kari. Semua pasti tahu kesan kari. Enak, pedes-pedes anget-anget. Masa mahu ditukar dengan masakan dingin. Apa lagi jika pelayanan bagai tentera perang Ghengis Khan. Tidak sekadar itu, telah hadir fitnah buatku betapa lantaran kecewa gadis dari Puncak Dunia, maka dia membunuh diri lewat meledakkan kepalanya. Bukan sekadar mati cinta, gadis itu juga dikatakan punya pertalian dengan usahaku untuk menyusun perdamaian dengan semua bangsa di Lautan Selatan Tingkok. Gadis itu dikatakan punah kecewa lantaran sedang kesempitan duit di atas sifatnya sebagai perantara antara aku dan pihak ketiga dalam sengketa di Lautan Selatan Tiongkok. Sudah berleter-leter fitnah ke atasku dijaja CiAni. Tidak bisa aku tanggung fitnah-fitnah sebegini. Segala bukti semua dia atur menujui aku. CiAni yang gurunya dulu adalah Murthee, paling bejat jika melakukan kebejatan. Entah ilmu hitam apa Murthee pernah perturunkan kepadanya. Pinter sekali jalan jerat para pemfitnah ini. Aku benar-benar binggung. Aku tidak mahu semua fitnah ini bisa kesampaian kepada isteriku. Matilah aku jika cintanya putus di saat sebegini. Cinta isteriku adalah kekuatan bagiku. Tiada apa yang bisa menandingi cinta isteriku dalam mempertahankan kekuasaanku. Isteriku adalah segalanya. Dia mengerti setiap nano-micro-meter isi tubuh dan hati-perutku. Tidak bisa aku ketiadaan dia. Hidup matiku kerana dia dan dari dia. Allah? Dia jauh di sana, terlalu telat untuk aku menanti apa juga dariNya yang terlalu jauh di atas sana. Namun pada isteriku, segalanya ada dekat di sini. Bob dan isteriku, paling serupa permainan mereka. Kedua-dua paling suka bermain buah golof. Semua tahu, aku paling suka bermain golof. Namun sebagai isteri MahaPenyayang segala urusanku pasti terurus olehnya. Buah golofku dia simpan baik. Saat aku hendak bermain golof, pasti kepadanya harus aku minta. Cuma, cara dia memberiku buah golof saja harus aku perhatikan. Jika dengan senang dia menyerahkannya, maka sehingga bulan terbitpun tidak mengapa untuk aku terus berantem di padang golof. Namun, jika buah golofku dia gintil-gintil, usap-usap lalu dimasukan perlahan ke dalam kantung celanaku, pasti ada saja upahan yang harus aku bayar. Tidak mengapa, sememang sudah menjadi adat suami isteri. Kepada siapa harus sang isteri meminta jika bukan dari suami. Mintalah apa saja, semua kehendaknya pasti akan kutunaikan. Biar nyawa sekalipun. Inilah korban cinta sejatiku kepadanya. Juga, paling aku khuatir, jika diminta buah golofku, dia memberi secara baling-balingan, maka hancurlah hari bahagiaku. Segalanya akan menjadi neraka. Maka, pada buah golof isteriku menyimpan segala MahaKeberkuasaannya padaku. Maka aku tidak mahu fitnah apapun tentang aku kesampaian kepada isteriku. Apa lagi isteriku sedang mahu melahirkan. Bukankah lantaran dia masih boleh melahirkan tanda kasihku kepadanya belum terhakis. Tidak mungkin aku bisa berlaku onar sama isteriku yang paling aku hargai jauh lebih dari ya untuk sementara waktu ini dari yang bersemayam di langit sana. Biar Murthee bisa mendokong aku, aku tidak yakin dia mampu segagahnya memenangkan aku dalam perperangan ini. Dulu dia sendiri sudah terkecundang di tangan CiAni. Mana mungkin dia mampu menghadang kemaraan CiAni yang perut rakusnya sudah jauh lebih tinggi membusung. Lagian, CiAni sudah jelas punya dokongan Bob.

(7) Di puncak peperangan aku dengan CiAni, kebinggunganku bertimpa-timpa bertindih-tindih bagai najis lembu bertompok-tompok mengalir dari empunyanya. Ada-ada saja fitnah CiAni ciptakan untuk aku. Paling dahsat, saat entuban isteriku sudah pecah, entuban yang luar biasa besarnya, maka saat pecah habis kebanjiran lantai hospital. Ribut segala. Para doktor, para jururawat malah rakyat yang ada di sana semua ribut. Apa entuban yang pecah atau atap hospital sedang bocor? Aku binggung. Benar-benar binggung. Binggung kerana CiAni juga isteriku yang cara bersalinnya sangat anih. Kebetulan di waktu itu hujan sudah tidak pernah berhenti turun lebat sekitar dua pekan.  Banjir bah juga sudah diramal akan melanda. Dikhabarkan banjir kali ini akan jauh lebih besar. Pecah entuban isteriku, apakah membenarkan dugaan itu, atau celaka sedang menghambatku, jika CiAni tidak kutangani bijak dan segera. Dalam aku resah gawat berdepan masalah persalinan isteriku, sekonyol-konyol Bob mengajak aku bermain golof. Matilah aku. Bener-bener mahu mati. Dua MahaKuasa sedang menjerut aku. Di tangan Bob adanya CiAni. Di tangan isteriku adanya buah golofku. Siapa dan apa harus aku lepaskan? SubhanaAllah. Alhamdullillah. Dia masih di atas sana. Aku kembali sadar, betapa Dia sedang mengatur segala. Aku kembali memohon pertunjuk dariNya. Lalu Dia ilhamkan kepadaku. Di tangan para doktor pasti isteriku selamat. Aku pasrah. Di tangan Bob, adanya CiAni. Semua kegawatan ini adalah lantaran keberadaan CiAni yang sukar aku bendung. Isteriku kutinggalkan untuk bermain golof. Buah golofku, di saat gawat sebegini, tidak perlu aku dapatkan dari isteriku. Jikapun aku meminta darinya, khilaf-khilaf buah golof melayang ke dahiku. Benjol malu kepada Bob akhirnya aku. Maka ke Pulau Tioman, sebuah pulau yang paling indah dari segala pulau yang ada aku terbang pergi. Liuk lintuk punggung kelapa di Tioman jauh lebih asyik dari lenggang segala punggung perawan yang entah apa masih ada perawannya di Hawaii. Apa lagi desir angin di celah-celah dedaun rhu, yang berpilin kerinting lebih kerinting dan harum dari rambut menjurai gadis-gadis bukan perawan Hawaii. Bob ada kelas. Sebegitulah manusia paling MahaBerkuasa. Punya citarasa paling tinggi. Cuma aku agak kaget, Bob menyuruh aku memukul buah golofku. Saat giliran dia, dia hanya tersenyum. Sambil mengosok-gosok belakangku, dia seperti terus mengentil-gentil buah golof di kantong celananya. Dia seperti sangat asyik berbuat sebegitu. Dia mengajak aku ke meja minum dan di atas sana sudah ada foto-foto CiAni dan Pak Hing. Aku keheranan. Kenapa harus ada foto Pak Hing bersama foto CiAni. Dia melihat lembut padaku. Buah golof dia keluarkan dari kantongnya. Dilabuhnya buah golof itu di depannya. Dia mengambil sebatang kayu golof. Dia cuba-cuba bergaya memukul. Dia melenggang-lenggang punggung dan hayunan tangannya. Banyak kali. Lama sekali. Seperti bebek mahu berbini dia kulihat gayanya dia. Namun tidak juga dia memukul buah golofnya. Akhirnya dia bertongkatkan kayu golof dan memandang tepat padaku. "Pak Hing, dia juga anak buah kamu. Wangnya terlalu banyak, kamu bantulah dia kembangkan wangnya", begitulah bicara Bob sambil tangannya terus mengengam erat kepala kayu golofnya. Aku menganguk-nganguk. Dia tersenyum. Dia berjalan pergi meniggalkan buah golofnya. "Bob, harus bagaimana dengan CiAni?" teriakku kepadanya. Dia berjalan terus, jalan segak seorang, MahaBerkuasa tanpa menoleh lalu berteriak "Kamu simpan buah golofku. Mungkin nanti kita boleh bermain lagi". Aku mengerti. CiAni adalah buah golof yang akan kusimpan kuat biar sang isteriku juga tidak tahu di mana aku akan menyimpannya. Di pulau, aku diberikan kuasa, ke sebuah pulau akan kuhantar dia. Kupenjarakan engkau CiAni bangsat. Sebegitulah pada keyakinan aku betapa Allah telah memilihku untuk lebih berkuasa dari biar Bob juga isteriku. CiAni bukan tandinganku. Murthee juga sama kuhitungkan. Aku Kepala yang Paling MahaBerkuasa kini.

(8) Murthee biar dia mulanya adalah seperti Omku, namun kini dia adalah sekadar seorang dari rakyat bawahanku. Seorang dari jutaan. Maka siapalah dia? Apa lagi, dia sekadar murid bapaku. Aku ini adalah anak bapaku. Siapa harus lebih hebat? Apa tidak mungkin si anak harus lebih hebat dari sekadar seorang murid? Aku adalah anak bapak. Aku juga adalah murid babapaku. Murthee sekadar murid, bukan anak. Darah bapaku ada padaku. Pada Muthtee hanya air liur bapaku yang ada padanya. Apa dia tidak mengerti? Kini CiAni sudah bukan galangku. CiAni sudah kuhantar dia untuk dekat kepada Tuhannya. Biarkan dia mengenal Tuhan, dari membikin aku dan rakyat sering kegalauan. Biarlah dia aman bersama Tuhannya. Lihatlah, betapa aku menjadi lebih MahaPenyayang dan MahaPengasih buat CiAni. Murthee pula jangan berani-berani menagih hutang dariku. Hutang apa aku padanya? Bukan dia yang membantu aku membunuh CiAni. CiAni tersungkur dari pukulan golofku. Jika aku bisa memukul tersungkur orang yang pernah menyungkurkan dia, maka siapalah Murthee bagi aku? Dia bukan yang mengangkat aku. Tanganku sendiri yang menjulang aku. Bukan Murthee. Biar rakyat berkata dia paling berjasa, namun nan pasti dia adalah seorang yang berjasa yang kalah perang. Aku kini adalah Kepala yang berjaya pada jalanku sendiri. Aku akan lebih berjasa kepada seluruh Umat sejagat.

(9) Kini isteriku paling sayang kepadaku. Dia sangat bersyukur aku punya akal lebih tajam dari Murthee dalam usaha mengaman tadbiranku. Dia paling mendokong aku. Isteriku, adal;ah segalanya bagiku. Dialah badan, dialah nyawa bagiku. Dia adalah segalanya. Syurga dan Nerakaku di tangannya. Juga, aku lebih licik dari CiAni. Namun CiAni kini sudah bungkam. Aku yakin mampu membungkam sesiapa sahaja selepas ini. Apa lagi, wang untuk membangun Negara bukan lagi suatu persoalan payah. Aku sangat terhutang kepada Bob. Benarlah dia seorang yang harus semua harapkan. Bukan seperti bodohnya Murthee, sukanya bermusuh dengan Bob. Tanpa tahu di tangan Bob segalanya bisa terurai. Pak Hing ada bersama aku. Pak Hing adalah Tuhan Khazanahku. Aku mudah berurusan dengannya. Untuk Pertama-tama, sebanyak 42 kapal minyak paling besar akanku pinjam wang darinya. Jika dihitung duit itu, pasti aku bisa menutup Sg Kelang dan Gombak di Malaysia untuk aku jadikan tanah lahang untuk membangun segala macam kebutuhan yang orang Malaysia sangat perlukan. Aku akan berurusan dengan Kepala Negara Malaysia untuk melabur di sana. Muthee dia hanya bisa bercita-cita, konon mahu memakmur tetangga, membina Melayu Raya, dia hanya sekadar bercita-cita, namun bukti kerjanya tidak ada keberhasilan nyata. Dengan Pak Hing bersama aku Malaysia pasti sudah dalam genggamanku. Murthee, jikapun dia boleh berkuasa, kehebatan dia paling hebat mungkin sekadar bisa membantu aku membina Jambatan Gelong di Pekan Rabu di sebuah Kota di negeri MMku. Tidak lebih dari itu. Aku bersama Pak Hing, bukan sekadar MM akan menjulang mencecah bulan, tetapi seluruh Malaysia, seluruh rantaunya Malaysia yang bernama Nusantara akan kujulang biar sampai ke Arasi sekalipun. Itulah cita-cita, mimpi-mimpi dan tekad bulatku. Kemakmuran sejagat. Dengan isteriku, dengan Bob, dengan Pak Hing, aku adalah aku yang Paling MahaBerkuasa

(10) Murthee, dia berfikir pandangannya paling terkedepan. Ke depan sejauh mana? Paling-paling mungkin sekadar ke Teluk Bengala. Tanpa sedar, dia memusuhi Bob, apa lagi menidakkan Pak Hing, sebetulnya di situlah kekonyolan Murthee. Bob ada kuasa. Kuasa itu boleh melindungi sesiapa juga yang dia mahu. Lihat saja sudah berapa banyak manusia yang kira-kira sangat berkuasa telah mati sebelum ajal di tangan Bob. Tidakkah Murthee sadar betapa Bob adalah Tuhan yang baru. Tuhan yang paling dekat. Pak Hing punya duit. Duit Pak Hing mendokong Bob. Runtuh Pak Hing, kacaulah Bob. Jika Bob kacau pasti Pak Hing akan paling pusing. Seharusnya kita jangan bikin Tuhan kita kacau kerana jika fikiran Tuhan kita kacau akan jadi kacaulah seluruh alam jagat raya ini. Di situ Murthee tidak kenal hubungan buaya dan udang pada Bob dan Pak Hing. Keduanya bersimbiosis paling jitu. Aku mengerti itu, maka aku akan terus menyuburkan Bob dan Pak Hing. Bob jika terus berkuasa, paling MahaBerkuasa maka aku pasti akan juga  terus berkuasa. Pak Hing terus-terus bisa bikin duit, pasti Bob akan tersenyum puas dan aku menjadi paling aman. MMku pasti menjadi Negara paling maju, jauh lebih maju dari Negaranya Malaysia. Aku akan satukan seluruh rantau Malaysia, Nusantara demi Bob dan Pak Hing. Sesungguhnya, Murthee sedang dengki melihat betapa aku jauh lebih ke depan darinya lantaran aku bisa menghancurkan CiAni buat kali muktamatnya. Murthee sedang hasad dari kejayaanku bersahabat dengan Bob dan Pak Hing. Paling jelas, tidak Murthee bisa mengadakan dana yang dibutuhkan MM bahkan Malaysia dan rantaunya seluruhnya sebanyak yang aku bisa himpun di atas persahabatan ini. Murthee sedang kepingin laba dari segala ini, namun itu tidak sekali-kali akan aku perkongsi bersamanya. Kronisma dan Korupsi adalah kebencianku yang dia pernah suburkan. Aku tidak bisa membenarkan dia punya tangan lagi ke atasku. Pandangan ke deepanku pasti kini bisa saja melangkau menebusi Mt Everest, di Puncak Dunia. Murthee, diamlah sekadar menanti waktu ajalmu.

(11) Atas nama Negara Merung Mahawangsa, sebuah nama keramat dari seekor burung di jagat raya bernama Burak. Merung Mahawangsa adalah Negeriku yang aku adalah yang Paling MahaBerkuasa. Di atas Burak ke mana saja isteriku, Bob dan Pak Hing mahu aku berada, pasti di sana aku akan berada biar ke Arasi sekalipun. Mengertilah, Tuhan telah memilihku. Rakyat kamu akur saja kepadaku, jangan repot-repot bercemberut sepertinya CiAni apa lagi Murthee. Atas nama MM, melarat matipun kalian harus sanggup.....bersambung In Shaa Allah

 Kuching, Sarawak
11 Mei, 2015

0 comments :

Back To Top