Latest Postings
Loading...
Nov 3, 2014

1/11/14 THE "NAMES" OF ALLAH in relation to a benchmarking.....mencari diri? (draft)

A friend is having a deep shit in his business. He can't even pay his staff salary in full since August, 2013. Most of his staffs had resigned and are initiating some legal actions on him. Debt is also huge. Through another friend, I was introduced to him. I volunteered to come in, not because of this friend or the friend. All these while I had been praying for Allah to give me great strength and opportunities to serve Him better, thus when his case was mentioned to me I have a great thought, that this it is. He is involved in "empowering the disadvantage". Purposely I quote as "empowering the disadvantage" for he "might be taking advantage of the disadvantage". Nonetheless, what more important to me is about empowering the disadvantage.  My personal view of Allah, He always gives me things that are not always easy. But I believe in the concept of a true leader is always born in hardship. Now I really have to think hard to resolve his problem. While Allah seem making my life hard, yet His hidden blessing hikmah is so beautiful. I had been saying that the way Islam being taught among today Muslims has been hijacked to a narrow band width. I had been wishing to unlock such syndrome. He is giving me great chance to build leaders among the disadvantages, which indeed is to unlock their potent leadership values. With this coming issue in hand I do hope Allah had given me a venue to really contribute to the glory of Islam for the best of all. In Shaa Allah, I hope to share my discovery in the next paras.

Seorang sahabat tengah mengalami masalah besar di dalam perniagaannya. Sejak bulan Ogos, 2013 beliau telah tidak dapat membayar gaji penuh kepada kakitanganya. Hutang kian berlambak. Saya mengenali beliau lewat perkenalan dari seorang sahabat lain. Pertemuan kami yang pertama adalah 10 hari sebelum Aidil Fitri lepas. Dalam pertemuan itu, saya amat teruja dengan perniagaan beliau lalu saya memberikan beberapa saranan yang beliau anggap sebagai kedatangan Lailatul Qadar. Saya berasa amat pelik, kerana beliau benar-benar sangat gembira tentang Lailatu Qadar itu. Waktunya adalah sekitar jam 12.00 tengahari. Lailatul Qadar banyak orang mengerti turun di tengah malam bening. Ini di tengah hari panas. Minat saya kepada bidang perniagaannya lantaran dia seperti sangat bersungguh-sungguh dalam memperkasakan kalangan tidak berkemampuan terutama para belia di luar bandar. Saya melihat usaha beliau sebagai cara untuk mencerna segala bakat terpendam di kalangan anak-anak muda luar bandar agar mereka boleh bangkit menjadi warga yang punya kewibawaan kepimpinan yang utuh dan segar. Saya sangat ingin untuk merubah caramana Islam difahami, diamalkan dan diajarkan. Saya melihat Islam telah terlalu lama berada dalam narrow band width yang kian melemaskan Ummah. Saya melihat usaha beliau sebagai wadah untuk saya dapat menyumbang gigih ke arah apa yang selama ini saya doakan kepada Allah agar saya diberikan segala ruang dan kekuatan untuk berbakti kepada UmmahNya sebaik-baiknya. Mudah-mudah saya mampu memberi harapan kepada beliau juga semua warga dalam pimpinan beliau.

(2) Once, I was hit by a real bad emotional disturbance. I walked off my routine lives and my heart took me to the breath of Nusantara and last without a single spiritual preparation as most love to do, I ended up in Mecca and Madinah. If not for certain respect to Tabung Haji Travel I would to this day is still wandering even to Alaska to search for myself. Indeed, my wandering, just took me to a round about. I ended to nowhere better. Last night, one of the staff messaged me, telling me she need to search for herself to reason out why are all these problems that they are facing so bad to the level of very tragic and frustrating. I told her, she need not to search for herself. She should just walk ahead to Allah's Al Husna. Indeed last week I gave a talk to some of the remaining loyal staffs, they I would say are leaders in the making. They stay put working hard without loosing hope. My next move is to keep them morally high and making the best out of the worst. What needed is a system, a good governance system. In Shaa Allah, I'll help to develop the system for them.

(2b) Suatu ketika saya pernah terpukul kuat oleh derita resah jiwa. Penderitaan itu, menjadikan saya memutuskan dari kehidupan damai harian saya. Saya berkelana merantu ke segenap Nusantara. Saya mencari roh nenek moyang saya, agar mungkin dengan cara itu saya kembali dapat berjalan dan bernyanyi seperti biasanya saya dengan beban kerja dan tanggungan tugas yang sulit dan mengusarkan. Saya tidak menjumpai apa-apa di sepanjang perjalanan itu biar akhirnya saya menangis lirih di Al Haram dan Nabawi. Terfikir, pada waktu itu, saya ingin saja terus lari merantau ke segenap pelusuk padang pasir, namun sedikit rasa bertanggungjawap akhirnya tetap membawa saya pulang dengan sedikit pengalaman baru serta cara lain melihat Islam. Maka, bila saya menerima Pesanan Ringkas mencari diri dari salah seorang kakitangan beliau malam tadi, lantas berdasarkan pengalaman juga pemerhatian dan pembacaan saya, mencari diri tidak harus ada di kalangan Umat Islam. Mencari diri sering terjadi saat kita terpukul. Saya dengan berani mengatakan kita tidak perlu mencari diri. Kita harus terus saja berjalan, berpedoman Al Husna yang banyak kian hanya dimengertikan sebagai tasbih dan wirid. Anih hanya banyak kian yakin dengan berwirid bertashbih akan "nama-nama Allah" manusia boleh terlepas dari segala. Islam kian manusia permainkan cara pendakwahannya dan apa lagi amalannya. Cara lama pada rebranding baru kian menular luas tentang dakwah Islam. Mungkin dari dakwah, dakyah sudah menjadi permainan banyak. Islam sudah terjerat menjadi alatan permusuhan dan menakut-nakutan dari fitrah Allah untuk menyuburkan. Inilah narrow band width Islam yang kian diasak kepada Umat Islam kini, agar fikiran dan jiwa mereka kian kerdil dan bacul supaya mereka mudah dikuasai. Semuanya adalah atas tamak haloba kegilaan kuasa. Haruskah ini kita biarkan dan lari ke gua sepertinya tujuh lelaki Al Kahfi yang harus dijaga oleh seekor anjing?

(3) Last night, as I was reading my little Al Quran, before I fall asleep,  I came across the Allah's Alhusna "great names" was printed right on the fist page of the Book. Allah has basically 99 wonderful "names". Out there the Ustaz had been telling people to memorize these "names". Nowadays, there is already a madness among Muslims to make these names into lyric to help Muslims to memorize such 'names". Such memoir was taught to help one at time of hardship ie at the Day of Judgement in Masyar. My mind began to question, when He is already known as Allah, why does He has to have these 99 other names? Secondly, what is the point of memorizing these names? My intention to have an early sleep was really disturbed. A though came rushing into my front, right and even left brain. My hind brain can't recalled any of my reading to tell me exactly why all these are as such. Allah I believe, He has His way to get thing to be understood at oneself ability. An idea crossed into my mind. All this while I might be a blind, being led by another blind. I must get out of this fast and firm. I must think and put my thought fast across.

(3b) Semasa membelek-belek cuba mengerti beberapa potong ayat Al Quran, sebelum tidur, saya secara lalu membaca akan Al Husna Allah di halaman depan Al Quran itu. Dalam terjemahan Bahasa Melayu, Al Husna di sebut sebagai di antara "nama-nama Allah" yang terhebat. "Nama-nama" itu difahami sebagai sesuatu yang dapat menyelamatkan Umat Islam dari siksa di Padang Masyar di Hari Hisab nanti. Atas kepercayaan itu kini banyak usaha sedang diperkenalkan agar Umat Islam hafal akan "nama-nama" tersebut. Nyanyian, kasidah, zikir dsb kian berkumandang untuk menyemarakkan penghafalan "nama-nama" itu. Persoalan yang timbul dalam kepala saya adalah Allah itu Maha segalanya-galanya, lantas di sebut Allah Huakbar, Allah MahaBesar. Lantaran Dia adalah MahaBesar, maka apakah perlu lagi nama-nama lain buatNya? Pada fikiran saya, yang disebut Al Husna Allah itu pasti adalah sifat-sifat Allah yang mendokong gelaran MahaAgungnya Dia sebagai Allah Huakhbar. Kedua, kenapa kita harus menghafal akan "nama-nama" itu? Adakah kita menghafal untuk sekadar menyebut-nyebut atau apa? Suatu jalan fikir menerjah ke dalam kepala saya, dan di sini akan saya perkongsikan.

  (4) Al Husna is not the names of Allah as most though. There are, I would believe the characters of Allah. Allah was, is and forever Allah. His name never change. If one cares to read the Al Quran with great research mind, those the so called name's of Allah indeed are always affixed to Allah. They never stand alone. That is my first point. My second points, why indeed Islam ie Muhammad SAW had to tell we the Muslims these are the "names' of Allah, which in another word, the characters of Allah? Indeed, name it whatever "names or characters", Allah indeed has one very profound name and or character ie Allah Huakbar, the Almighty Greatest. If He has such a character, the rest are indeed mere signifying such a character. To me I just need to know, believe Allah is the Almighty Greatest. The question of why Muhammad SAW told us to "remember" the characters of Allah, lingering to my mind till I fell into deep sleep. This morning as I was bathing, the problem faced by my friend and his staffs, and the issue of "memorizing the Al Husna" came to merge into my head and in a blink of time, the Computer Programming Language rushed into my forehead, and let me share this with you readers.

(4b) Saya mengingat-ngingat segala bacaan dokumen-dokumen Islami dan juga Al Quran, apakah pernah terjelas Al Husna sebagai "nama-nama Allah". Saya yakin dan percaya Al Husna adalah di antara sifat-sifat besar Allah.  Allah tetap Allah namaNya. Jika kita membaca Al Quran, apa yang disebut sebagai '"nama-nama" Allah, sering adalah menjadi penambah kepada nama Allah. Tidakkah itu menunjukkan itu sebagai sifat-sifat Allah, bukan "nama" dalam ertikata literalnya? Namun apapun, persoalan saya adalah kenapa kita harus mengingati "nama-nama" Allah tersebut? Persoalan itu terus berlegar dalam kepala saya sehingga saya tertidur mati. Namun, MahaPemurah Allah, semasa air menjirus badan, semasa mandi pagi, sebuah fikiran menerjah di kepala saya. Ini mungkin adalah ilham Allah untuk saya dapat membantu mengekalkan semangat juang rakan dan kakitangannya dalam menghadapi saat getir mereka ini. Al Husna, pemasalah mereka, bergumpal dalam Computer Programming Flowchart, memberikan saya pedoman untuk menyuburkan semangat juang mereka.

(5) Allah is the Almighty Greatest. He laid this world for us to lead. We are in His mission a created and born leaders. A leader must be someone whom always be thinking for his subjects. His duty is simple, to ensure that his subjects forever be strong, so as to make himself a strong leader. No strong leader ever exist by a weak followers. Even if such exist, his near perish will soon to come. A leader who believes that his followers must be naive, weak he indeed is not a leader but a culprit. A leader is a person who develops and leads leaders. Such is a true leader. Muhammad SAW in his lifetime, developed and led leaders. He aggresively developed and led leaders. He never had followers. Even his poorest, illiterate friend Bilal Rabah to this day is a leader.  Only today Muslims I would believe treated the Muslims as Muhammad SAW followers. That is wrong. Indeed by character, Allah never made anyone naive or weak. He lets everyone to have their own free choice. He even granted His creations including men to challenge Him if they choose to. Scanning the overall scenarios, in this situation, the problem arise because my friend he memorized the names of Allah yet he only knows its meaning purely literally. I was amazed when I first talked to him, how wonderful was his mind, he can narrated to me those "names" just like a rain drops. I can't and its hard for me. Then indeed, why should I?

(5b) Allah itu MahaBesar. Dia telah menghamparkan segalanya untuk kita ambil iktibar. Kita sebermula daripada tujuan penciptaanNya adalah sebagai pemimpin, tidak kurang dari itu. Kita adalah pemimpin kepada diri kita sendiri, kita adalah pemimpin kepada lingkungan kita. Pemimpin, adalah seseorang yang harus sentiasa berfikir untuk kebaikan pimpinannya. Dia seharusnya terus memperkukuh kekuatan pimpinannya, secara lahiriah dan batiniah. Itulah tugasnya. Kekuatannya tergantung di atas kekuatan pimpinannya. Tidak ada pemimipin yang kuat dari pimpinan yang lemah. Jika keadaan sebegitu wujud sekalipun, sesungguhnya keruntuhan sedang menghambat dia. Seseorang yang percaya dan mendukung menjadikan pimpinannya lemah, diperhamba bukanlah pemimipin, melainkan adalah pengkhianat. Pemimpin tidak gentar melahirkan lebih banyak pemimpin. Itulah sifat pemimpin sejati. Sebegitulah sikap dan fitrah Muhammad SAW. Baginda mendidik dan menyuburkan kelahiran pemimpin. Baginda memimpin para pemimpin. Biar Bilal bin Rabah, yang paling miskin, hitam legam, dhaif sekalipun tetap dia berupa pemimpin sehingga kini. Muhammad SAW tidak membangun pengikut. Cuma kita di zaman ini melihat kaum Muslimin sebagai pengikut Muhammad SAW. Saya berkira itu salah. Muhammad SAW mahukan Umat Islam menjadi pemimpin, bukan pengikut. Lantaran itu, berkali-kali baginda mengingatkan kita agar punya jati diri sendiri, to be different. Sesunguhnya Allah menjadikan setiap manusia punya kekuatan. Dia tidak menjadikan manusia sebagai kalangan dhaif dan lemah. Manusia Allah berikan segala kebebasan utuk memilih. Maka di dalam prihal permasalahan perniagaan sahabat ini, kelemahan ketara adalah biar dia sangat hafal akan "nama-nama" Allah, beliau hanya sekadar hafal dan tidak mengerti kenapa beliau harus hafal akan "nama-nama" tersebut. .

(6) I have a great believe that when Muhammad SAW narrated the "names" of Allah, what he did really meant was the Benchmarks or in today jargon the "Key Performance Indicators (KPIs)" of Allah. Thus in my friend case ie dried of his resources, he should just take the Computer Programming Flowchart for him to muhasabah ie doing Acid Test onto himself. He claimed he had been very generous at the peak of his business. He even declared 4-6 months bonus to the staff. Such generosity had be fall him. People took advantage of his generosity. To me if he had understood the Al Husna is not the list name's of Allah yet among His "KPIs", then definitely he won't have to point fingers to whom the problems should be blamed upon.

(6b) Saya punya keyakinan bila Muhammad SAW menyebut akan "nama-nama" Allah tersebut, baginda sebetulnya mahukan Umat Islam menjadikan "nama-nama" tersebut sebagai Penanda Aras sifat dan perilaku diri dan kelompok jika mereka mahu menjadi pemimpin yang benar-benar hebat. Dalam istilah pengurusan terkini, "nama-nama Allah" itu adalah "KPI Allah" yang harus semua teladani. Untuk memahami prihal ini, mari kita perlakukan ke atas permasalahan rakan saya tersebut. Masalah besar beliau adalah kekeringan sumber kewangan. Sesungguhnya, segala masalah yang menimpa kita, ianya sering bermula dengan diri kita sendiri. Apa benar? Fikirkan. Cuba kita perlakukan Acid Test ke atas punca penyebab masalah teman saya itu. Dia sering berkata, betapa di zaman kegemilangan perniagaannya, dia adalah sangat pemurah, arrahman. Dia pernah mengistihar bonus sehingga 4-6 bulan. Begitu juga banyak hadiah-hadiah diberikan kepada kakitangannya. Dia mendakwa, sifat arrahman beliau mengundang banyak mengambil kesempatan ke atasnya. Dia runtuh lantaran sikap khianat keluarga dan teman-teman sendiri. Di sinilah sebetulnya khilaf beliau dan kebanyakan Umat Islam, Al Husna diyakini sebagai "nama-nama" Allah dan bukan penanda Aras KPI Allah yang harus semua teladani.

(7) His Acid Test process should be very simple. He has been in the past very generous. Just put a question to himself. Was his generosity equal to Allah "KPI" of ArRahman, the Most Generous? Test it on step-to-step Computer Programming Flowchart. I doubt. Allah ArRahman is for everyone to enjoy good harmony lives. Allah needs nothing in return. He just wants His people to be good. But my friend generosity is for what? To thank the staff? He indeed not. If he had done so to meant to appreciate the staff, at this point in time he would never mention about his past generosity. His generosity I would figure out is part of riak a show off and or buying loyalty. He had been wanting to create followers. A group of weak, naive followers. He brought his unskilled, uneducated family members and friends into his business system and paid them generously. Thus, in hard time, most of them left him for they are followers. He indeed, betrayed Allah mission of a man creation. Man was created to lead, to be leader. Man must never be made a follower. Such is against the fitrah, the very purpose of a man creation by Allah.  Once man can't serve to be and or build leaders, he is on his way to pariah perish. Now, to come to a solution, could he revive his business?

(7b)  Secara kasar, sifat arrahman beliau itu kelihatan bagus. Dia sepertinya, punya sifat ArRahman Allah. Cuma mungkin bedanya, ArRahman Allah adalah untuk menyuburkan Umat, sedang. arrahman, pemurah dia mungkin untuk menuntut perhormatan dan ketaatan. Dia tidak berbuat lantaran itu adalah tanggungjawab kewajiban. Dia tidak berbuat kerana Allah. Dia berbuat demi kepentingan dirinya. Dia berbuat arrahman, untuk membangun pengikut, bukan membangun pemimpin. Pengikut yang lemah dan dhaif pula akhirnya. Rakan-rakan dan kaum keluarga yang lemah-lemah dan dhaif penuh pura-pura kemudian menjadi pengikutnya.  Di samping itu, setelah mendapat penghormatan dan penghargaan beliau kian lupa diri lantaran taraf I'm your boss sudah dalam gengaman lalu dia boleh berbuat apa saja tanpa batas. Kalangan pimpinan pula, leka dan lalai dengan kemurahan umpanan beliau lantas menghamba diri. Di saat senang, semua bersenang-senang, sedang di saat susah semua lari meninggalkan dia kesurupan. Sesungguhnya beliau telah khianat kepada fitrah asal penciptaan manusia. Manusia dicipta untuk menjadi pemimpin, bukan pengikut. Dia telah mengkhianati Allah. Pemimpin yang gagal membangun pemimpin, pasti akan menuju jalan pariah akhirnya. Sadam Husein, Muamar Ghadafi, Suharto, Ferdinand Marcos, George Bush, dan bahkan di negara ini kinipun kita sedang menyaksikan para pemimpin yang takut dan gagal membina pemimpin sudah dan sedang menuju jalan kehinaan. Namun, tetap ada yang tabah dan jujur. Mereka kekal dalam kapal yang sedang karam.


(8) Let then look at what would Allah best Al Husna to serve such task? I would believe, the Most Humble is the one.  Is he willing to humbly listen and be looking and take good advice? Even if his though and want to be humble, will his humble be clean and pure as the next Al Husna of Allah? To me these are few steps of Personal Acid Test or in Islam what is termed as Muhasabah that one could takeon the Al Husna's of Allah. Such, Al Husna is not the names of Allah, they are His "KPIs" for every man to acquire and benchmark upon if they want to be great leaders. Indeed Muhammad SAW, Allah's messenger, whom he sent to men at heir chaotic time, was indeed a close reflection of Himself as the Almighty Leader that every man should complied.

(8a) Saya melihat arrahman beliau tidak selanjutnya menjurus kepada sifat MahaJujur dan MahaBijaksanaNya Allah. Begitu juga taat hormat pimpinanya juga adalah kepura-puraan nyata tetapi tersembunyi. Sesungguhnya Acid Test beliau harus mempertalikan setiap dari "nama-nama Allah" Al Husna yang beliau sangat hafal. Sifat Allah tidak terhenti pada satu. SifatNya adalah menyeluruh. Dia tidak terhenti pada ArRahman, Dia juga adalah ArRahim, MahaPengasih dan berjejeran berterusan bersepadu sehingga menjadikan diriNya Allah Huakhbar. Maksudnya, jika kita melakukan Acid Test secara benchmarking dengan salah satu sifat Allah, maka jika kita lulus sekalipun, kita harus terus menguji diri pada sifat-sifatNya yang lain selanjutnya, sehingga sekurang-kurangnya sehingga 99 sifat-sifatNya seperti di dalam Al Husna. Saya melihat semua harus kembali rendah diri, cekal dan bijaksana untuk kembali bangkit. Beranikah beliau dan anak-anak buah yang masih ada? Sesungguhnya, Al Husna adalah step-to-step benchmarking yang Muhammad SAW anjurkan bagi semua umat Islam untuk ikuti agar mereka menjadi manusia-manusia hebat. Sesungguhnya, bagtinda adalah cermin hidup yang semua harus contohi, dan ini terbukti bagaimana baginda tidak pernah lelah dalam membina pimpinan Ummah. Sebegitulah teladan yang ditunjukkan oleh para sahabat terdekat beliau seperti Abu Bakar, Umar, Othman dan Ali. Mereka tidak pernah letih dalam memperbaiki diri dan membina pimpinan baik-baik dan kuat.


(9) Thus, one self search for oneself, I would believe is to take a journey to benchmark oneself to his Creator, whom had created him to be nothing but a leader, a caliph. In any situation, one should run an Acid Test on oneself by taking on Allah's Al Husna as his testing parameters. If all the 99 tenet characters are complied, In Shaa Allah he for sure has been doing things merely in the course of Allah. Failing which, then he has to continue to improve on. Allah love a perfect person, but He never look down to imperfect whom working hard to be perfect. In Shaa Allah.

(9b) Maka sesungguhnya pencarian diri harus menjurus kepada perjalan panjang kita dalam menjadikan diri kita punya jati diri bercerminkan Al Husna. Al Husna tidak harus dijadikan wirid kegilaan namun ianya harus menjadi jati diri kita. Hanya dengan cara itu, barulah Al Husna dapat menjadi penyelamat kita di Padang Maysar nanti dan bahkan memberikan kebahagian abadi di dunia ini. In Shaa Allah.

Kuching, Sarawak
3 Nov., 2014

1 comments :

Anonymous said...

just like what you wrote, there are 99 characters/attributes e.g Ar-rahman, Ar-rahim etc
They are used as names by dropping the Al- Ar- .. e.g Ya Rahman Ya Rahim. not Ya Ar-rahman Ya Ar-rahim.

Back To Top