Latest Postings
Loading...
Jan 4, 2012

7/1/12 Ibu Kota Kota Ibu



di belakang kehidupan yang merimas. di depan, langkah-langkah bunuh membunuh!

dalam panas memanah. aku menelusuri berpusar-pusar lorong-lorong kehidupan sentiong. rumah-rumah sempit. bersambung-sambung tiada sengang. di dalamnya, ruang-ruang sekadar cukup untuk baring-baring. supek sesak membunuh. apa yang ingin kubandingkan?seperti anak-anak bebek keserimpet terasak di ketiak ibunya? setiap wajah kulewati, bermata sayu. bertubuh sayu. jiwa-jiwa nan sayu. indonesia, jakarta, anak-anakmu kepepet terhimpit dalam kemerdekaan apa?

(2) dengarlah, lamunan remy sylado ini tentang dirinya jakarta:

kalau aku makmur
kubeli jakarta, kucelup jadi putih

kau bisa bayangkan
kalau jakarta tiba-tiba putih semua
mas di puncak monas: putih
patung selamat datang: putih
pohon taman surapati: putih
lapangan sepakbola istora: putih
air ciliwung: putih

barangkali dengan putih
dosa-dosa jakarta akan tersamar
pengjambretan, penodongan, pemerkosaan
perjudian, pelacuran, pembunuhan
:putih!

putih kau tau warna kesucian
tapi putih kau pun tau, warna kekalahan
bagaimana orang bisa dipercayai berbicara
jika ia berada dalam kelas yang kalah
seperti kini jakarta disesaki olehnya

kalau aku kalah
kumau kalah dengan kesucian
tapi aku tidak persis dalam kalau-ku
kunyanyikan ode ini untukmu
betapapun tak merdu, sediakanlah kupingmu

ini kota, kau tau, bukan sekadar ibu kota
tapi kota ibu
dengan sejumlah kalau


(3) tiga jam berputar-putar. berjalan lurus, berjalan buntu. berdoa dalam tiga masjid. penat bukan kepalang. pulangku, dalam keringat menyimbah. aku terkapar di kamar. terlentang. buku merak, d.n aidit: revolusi indonesia kutatap ketat. aidit, jika dia masih ada, bangkitkah jakarta bagai london selepas kebakaran besar?, bagai chicago selepas penyakit kencing tikus membunuh ribuan?, atau jakarta sedang menanti tsunami manusia perih, pedih, kehampaan!

(4) aidit, bencinya pada kapitalisma yang kini menjurus kepada imperialisma atas nama hak dan kebebasan, lalu hanyut terbawa-bawa globalisasi, namun adalah lukah yang menjerat kita jadi konyol dalam arus monopoli bukan dari penjajah, adalah dari anak-anak negeri yang bukan anak-anak negeri jiwanya.

(5) pribumi, di mana saja, seperti tengelam di telan bumi sendiri! kenapa? kapitalisma mencekek mereka. dari mana? dari penjajah?penjajah baru tampaknya, ya, hadirnya kini lewat fdi, mnc, corporatization, segala. awas! saat kebakaran mendatang, pasti api tidak kenal apanya. hangus. mati semua siapa saja.

jakarta pusat, indonesia
4 jan., 2012

0 comments :

Back To Top