Latest Postings
Loading...
Feb 18, 2010

10/2/10 KUDEKAP ERAT MAGDALENA....



Sedari mulai aku menyentuhnya, Magdalena tidak mahu kulepas sehingga aku puas membuka satu persatu kain yang membaluti tubuhnya dan Stevan bagi mendalami isi cinta hati mereka. Seharian kelmarin (15 Feb.) dia dalam genggamanku, dan tadi malam (16 Feb.,) dia kudekap erat, dalam dingin hujan yang meniup deras ke dalam kamar kayuku pada pintu lipat yang kukuak luas. Di kejauhan, biar samar dalam biasan titis-titis hujan, kerdipan lampu-lampu rumah dari Lembah berhamburan bagai permata disuluhi cerah mentari pagi, menambah asyik kalbuku melepas rinduku pada Magdalena. Kepada seorang Hamba Allah yang telah mempertemukan aku dengan Magdalena, aku ucapkan kesyukuran dan terima kasih penuh penghargaanku. Kepada sebuah hati, yang memberiku 'Tjinta Pinkish: yang menjadikan aku mengerti tentang menangis' yang menggerak aku kepada Magdalena, semoga berbahagia seindahnya. Buat Nurul Aida dan Ibu Yanti di Pustaka Nasional Indonesia, Jakarta yang telah begitu sabar mengeratkan hubungkanku dengan Magdalena, semoga kalian dalam pelihara Allah sentiasa dan sejahtera hendaknya. Lantaran kebaikan kalian itu, aku sengaja titipkan sisipan kisah cinta Stevan dengan Magdalena, buat mereka yang mahu berfikir dan mengerti.

(2) Magdalena telah terlahir lewat Tengelamnya Kapal van der Wijck. Kelahirannya telah mengegarkan nama besar, Pak Hamka, yang biar hanya sedikit, telah menjadi guruku semasa anak-anakanku, tentang aku dan ibubapaku, tentang aku dan para guruku, dan tentang aku dan matlamat hidupku. Kerananya hatiku menjadi terlalu tjinta pada Magdalena: anak kepada Abdullah Salam Alatas, cucu kepada Musthafa Luthfi Al-Manfaluthi dari anaknya Madjdulin dan cicit kepada Alphonse Karr dari anaknyanya Sous les Tilleuls.

(3) Sewaktu-waktu, fikiranku telah melayang melekat pada Magdalena biar telah kutinggalkan 36 tahun yang lepas. Bukan kerana Magdalena adalah gadis genit berkulit putih dan ayu yang mengimbau ingatan itu, namun, Magdalena seperti menyadariku tentang falsafah-falsafah cinta yang sukar aku mengerti pada sebahagiannya, dan yang juga telah tidak aku peduli selama ini (mungkinkah ada waktu untuk aku mengutipnya kembali):

(a) (Asmara:5) Jang ku(Stevan)ingini dari keindahan alam ini tidak lain hanjalah seorang teman jang dapat membuat aku merasa bahagia berada disampingnja, dan merasakan bersama ia kelezatan hidup didunia ini. Laki2 itu seperti dikatakan hanjalah suatu belahan jang mentjari belahan lainja diantara wanita2. Laki2 itu sentiasa merasa pada dirinja kekurangan sebagaiman jang dirasakan dahulu oleh Adam sebelum iganja sebelah kiri berubah bentuknya. Sesudah mendapatkan seorang wanita jang ditjiptakan baginja, barulah ia mendjadi tentram dan puas…..Kemudian dia naik kekamarnja dengan sudah mengetahui bahwa apa jang dirasakannja sedjak hari ini bukanlah lamunan atau gannguan pikiran, djuga bukan kebimbangan atau panasnja demam sebagaimana dia dahulu mengiranja, tetapi ini adalah asmara…

(b) (Warkah Stevan kepada Magdalena: 13) Maka djika kau memandang keichlasan dalam tjinta, kesetiaan dalam djanji, pengorbanan djiwa dengan ichlas tanpa penjesalan, sebagai sifat2 jang karenanja aku berhak mendapat tjintamu, inilah diriku kupersembahkan padamu. Terimalah itu dan katakanlah bahwa berbahagia sebagaimana aku berbahagia dengan kau.

(c) (Djanji: 14) “Aku (Magdalena) hanja menangis kerana takut oleh tjinta. Aku hanjalah seorang gadis miskin jang hidup seorang diri dan merasa kebimbangan jang dirasakan oleh tiap gadis jang tidak mempunjai ibu untuk menuntunja dan tidak mempunjai pembela jang akan menolongnja”….”Apakah engkau tidak pertjaja bahawa hatimu itu bersih dan sutji?”…..”Aku pertjaja dan menjadikan Allah sebagai saksi.”……”Jika demikian Allahlah jang akan membelamu dan menolongmu. Ialah jang akan menuntun kau diwaktu kebingungamu dan menjinari djalanmu ditengah kegelapan penghidupan itu. Djanganlah engkau takut terhadap tjinta dan djanganlah engkau takut kemurkaan Allah karena itu. Ketahuilah bahwa Allah jang mentjiptakan matahri dan memberinya tjahaja, mentjiptakan bunga dan memberinja keharuman, mendjadikan tubuh dan memberinja njawa, mendjadikan mata dan memberinja tjahaya. Ianya pula jang mentjiptakan hati dan memberinja tjinta. Allah tidak memberikan berkah pada sesuatu sebagai jang Ia berikan pada dua hati jang sutji dan tjinta mentjintai satu sama lain melainkan karena menuruti fitrahNya pada machlukNya.


(d) (Warkah Stevan kepada Magdalena: 15) Sikap ber-hati2 dalam pertjintaan adalah sikap perempuan latjur jang setiap hari mempunjai seorang kekasih dihadapan siapa dia bersumpah dengan sumpah2 jang berat bahwa ia tak pernah membuka pintu hatinja bagi pengundjung sebelumnya. Maka ia takut memberi kesaksian dengan tanganja atas dirinja pada hari itu apa jang akan merusakkan keadaannja pada esok harinja, karena ia tjinta dengan ichlas, mengatakannja dan kemudian berani menulis apa jang dikatakannja itu…..Engkaupun bukanlah seorang gadis jang rela mempesembahkan hatinja kepada laki2 jang memperdagangkan rahasia2 kaum wanita.

(e) (Danau: 16) Djangan takut, Magdalena. Kodrat tidak akan sampai tangannya ketempat pertjintaan melainkan djika orang yang bertjinta sendiri mengizinkan. Berdirilah disampingku agar dapat aku membuat ketjitaanmu suatu perisai dengan mana aku dapat melawan antjaman takdir dan bahaja2nja membinasakan daja dan kekuatannja.

(f)(Pertjakapan: 21) ….tapi aku tidak sudi mengambilnja sebagai mantu karena ia adalah seorang jang sengsara dan miskin……(inilah kalimah keramat sebagai pemula segala sengsara Stevan dan Magdalena).

(g)(Berita: 22) Djika seorang pemanah menembus dadanja dengan anak panah, tidaklah akan terasa lebih sakitnja dari jang disebabkan surat itu (pertjakapan)……..bahwa ia berada dalam alam pertengahan antara hidup dan mati dimana pantjainderanja masih mendjalankan tugasnja tetapi segala perasaan tak sampai kepada otak……..Aku manusia berakal dan laki2 berani. Aku harus menpunjai harapan untuk hidup dan kebahagian jang harus kunikmati……Aku mengakui bahwa aku berdosa terhadapMu, karena aku mnjombongkan diri dan bersandar kepada kekuasaan dan kekuatanku sendiri. Aku telah lupakan kekuasaan dan kodratMu. Lupakan putusan2 kebahagian dan kesengsaraan, pengambilan dan pemberian, jang Engkau djalankan atas hamba2Mu. Aku telah menetapkan bagi diriku kebahagian kemudian hari dan kesenangannja, apa jang tidak kumiliki dan tidak akan kudapatkan melaiankan dengan pertolongan dan kekuasaanMu. Ampunilah dosaku! Tuntunlah aku dalam kemalanganku, karena aku mendjadi seorang jang sangat tak berdaja untuk bersabar dan memikul penderitaan.

(h)(Pesta Dansa: 29) Dan oleh karena aku tidak menemui seorang jang kutjintai atau seorang jang dapat kudjadikan teman jang akrab, maka aku telah mentjintai diriku sendiri dan kemerdekaanku, menjadikan keduanja sebagai kawanku. Kupilih keduanja dan kuhargai lebih dari segala dan apa didunia ini. Karena aku tidak tahan melihat orang bersengketa dengan diriku mengenai keduanja itu atau berusaha untuk merampasnja…. Aku tidak akan mendjual hidup dan kemerdekaan dengan harga berapa sadja, sekalipun sangat tinggi, melainkan pada pentjiptanja jang memeberikannja padaku….

(i)(Dari Stevan kepada Magdalena: 38) Tak ada jang sukar dalam penghidupan ketjuali langkah pertama. Djika seseorang dapat melangkahkannya, segala jang berikutnja menjadi mudah. Sedjak hari ini dapatlah kita bersenang dengan pertemuan dan bergembira dengan kebahagian jang sudah lama kita angan2kan dan telah kita tjapai sekarang.

(j)(Pria dan Wanita: 51) Pria memandang kepada wanita dalam mentjintainja dengan mata jang lain daripada jang digunakan oleh wanita untuk melihat pada pria. Laki2 itu memandang wanita sebagai alat jang chas baginja jang orang lain tak berhak untuk mempergunakannja dengan tjara apapun djuga. Ia memandang bahwa adalah kewadjibannja untuk mengistimewakan dia dengan segala kelebihannja dan sifat2nja…..sedangkan wanita memandang kepada pria jang ditjintainja seperti pandangannja kepada perhiasan jang dipakainja jang menjadi kebangaannja dan menentukan kedudukannja terhadap kawan2nja dan wanita2 sesamanja.

(k)(Dari Stevan kepada Magdalena: 63).....(Magdalena merapat diri kepada Edward, sahabat akrab Stevan semasa kecilnya)…..Engkau tak mengetahui sesuatau tentang hal ihwal Edward, tetpi aku mengetahui segala sesuatu tentang dia. Jang terutama kuketahui ialah bahwa ia tidak mempunjai kalbu seperti kalbumu, tidak memahami arti tjinta dan rahasianja seperti engkau pahami. Ia tak dapat mendjadi kawanmu dalam perasaanmu dan hati nuranimu. Seluruh soalnja terhadap engkau adalah bahwa ia mendapatkan engkau tjantik dan ia menginginimu bagaikan bajangan berpindah-pindah. Tak lama lagi engkau akan mengalami kesengsaraan jang akan disebabkan olehnja dan jang sekarang tjoba elakkan dirimu daripadanja, Djika hal itu sudah menimpa dirimu maka tak bergunalah lagi harta, turunan, perak dan emas. Djika hal itu telah terjadi, akulah jang akan merasi kesengsaraan jang terbesar, mengalami kemalangan jang terhebat, kerana aku mentjintaimu dan menginginkan kebahagianmu, dimana sadja engkau berada. Untuk dirimu sendiri, bukan untuk diriku.

(l)(Dari Stevan kepada Magdalena: 64) Lagi pula apakah engkau tidak takut bahawa djeritanku akan mengikuti kau kemana kau pergi? Dalam kesunjianmu, waktu engkau berkumpul dengan orang2 lain, masa tidur dan djagamu, kalau engkau berada dalam pelukan suamimu, disamping buaian anakmu? Apakah engkau tidak merasa kuatir bahwa Allah akan menuduhmu telah membunuh seorang laki2 jang kalau ia tetap hidup akan mendjadi tauladan jang baik sebagai suami jang saleh, ajah yang pengasih dan teman jang setia dan orang jang terbaik diantara seluruh manusia?

(m)(Dari Stevan kepada Magdalena: 65) Tahukah engaku Magdalena, mengapa aku masih hidup, sedang maut lebih menjenangkan daripada penderitaanku sekarang? Sebabnja ialah karena aku tak menjakini apa jang akan terdjadi sesudahnja. Aku kuatir kalau aku mati tertjabutlah dari jiwaku kenang2an pada hari2 indah jang memberi kesenangan padaku. Inilah semua jang ketinggalan padaku sesudah apa jang telah terdjadi. Djika tidak karena itu sudah lama aku membunuh diri……Engkau telah mentjabut kebahagiaanku, Magdalena, dengan tidak memberikan gantinja untuk bekal hidupku. Engkau telah tinggalkan aku begitu sadja bagaikan seorang musafir meninggalkan seorang temanja jang luka parah dan haus pula. Ditinggalkannja di-tengah2 padang pasir jang membakar, dimana tak terdapat pohon rindang atau air. Simusafir itu hanja memikirkan keselamatan dirinja dan tak memperdulikan nasib temannya jang ditinggalkan itu. Alangkah kedjam sikapmu dan langkah djauh rahmat dari kalbumu!

(n)(Dari Magdalena kepada Stevan: 67) Tak dapat kusembunjikan bahwa aku telah menangis ter-sedu2 ketika membaca surat2mu tetapi aku kembali kepada diriku dan mengatakan bahwa itu adalah suatu keluhan putus asa jang akan dipadamkan zaman, sebagai keluhan2 lainnja dari orang2 jang tjelaka.

(o)(Perkahwinan: 69) Ia mengeluarkan djeritan jang hampir meruntuhkan iga2nja, berkata pada dirinja:…” Segalanja sesuatu telah berlaku dan Magdalena sudah terlepas dari tanganku. Tanganku mendjadi kosong dari semua angan2 dan haparan2ku. Apa jang hendak kuperbuat? Bagaimana aku jang tertinggal bagiku dalam alam ini dan untuk apa aku harus hidup?

(p)(Putus Asa: 71) Stevan terbaring ditempat tidurnja. Ia menderita sakit dua bulan pernah. Selama itu ia menderita tekana djiwa dan raga sebagaimana telah ditakdirkan baginja. Kemudian dia agaksembuh, meninggalkan kamarnja, dan mulai mengembara siang malam. Tidur dimana sadja dapat tidur, baik dipembaringan jang empuk maupun jang kasar. Makan dimana sadja ia mendapatkan sepotaong roti, putih atau hitam. Tidak menetap disatu tempat dan tidak berteduh disatu perteduhan…..dia ber-tjakap2 denganm dirinja sendiri tentang maut:

Telah berdustalah mereka jang berkata bahwa membunuh diri itu adalah suatu kelemahan dan ketakutan. Padahal kelemahan dan ketakutan itu sebenarnja ialah menerima suatu penghidupan jang penuh dengan kepedihan dan kesakitan, se-mata2 untuk melarikan diri dari satu saat jang sekalipun ia harus menderita penderitaan dan keasakitan, semua itu akan pergi dan tak akan kembali…

….Apakah kebodohan yang lebih buruk bagi seorang lelaki2 jang mengutamakan penghidupan dimana ia mati seratus kali dalam sehari dari mati sekali denga ntjepat, jang akan membebaskan dia dari kematian2 yang ter-putus2 dan ter-ulang2 ini?

….Aku tidak mengerti mengapa seorang laki2 jang bosan pada pakaiannja menanggalkannja. Orang jang tak betah dirumah meninggalkan rumahnja. Orang jang bosan pada kawannja memisahkan diri dari padanja. Tetapi djika ia bosan pada hidupnja, ia tidak boleh menanggalkannja dan tidak memkikrkan untuk membebaskan diri daripadnja. Penghidupan itu jika sudah membawa kesengsaraan merupakan sesuatu jang lebih pedih dan lebih berat bagi djiwa dari pada pakaian jang sesak dan pikulan jang berat.

….Kita hanja takut mati membunuh diri, karena kita mentjintai hidup. Kita hanja mentjintai hidup dengan segala kesusahan dan kesulitannja, karena kita bodoh dan tolol. Kita mengharapkan apa jang tak dapat diharapkan, meng-ingatkan sesuatu jang tak akan terjadi.

….Sama sadja keadaan kita dalam hal itu dengan seorang pendjudi. Ia bertambah tamak dalam mengedjar keuntungan pada tiap kali ia menderita kerugian. Oleh karena itu ia terus menerus rugi, terus menrus tamak hingga achirnya ia kehilangan seluruh apajang dimilikinja.

….Kita tidak datang kealam ini dengan kemahuan kita. Mengapa kita tidak dapat keluar daripadanja kapan sadja kita kehendaki? Kita tidak mengekat diri kita dengan sesuatu perdjanjian dihadapan siapapun untuk tinggal didalam ala mini selama2nya. Mangapa uasaha kita untuk membebaskan diri daripadanja dinamakan suatu pengchianatan, penipuan, tak berteima kasih terhadap nikmat Allah dan karuniaNya?

….(Dia tekad mahu membunuh diri, lalu ia berfikir untuk mengutus surat kepada Magdalena, menceritakan seluruh kesengsaraan putus cintanya dia, lalu menyatakan niat, bila dan di mana dia bercadang untuk membunuh diri….agar Magdalena datang kemudiannya mengangkat mayatnya…agar Magdalena akan menyesal dan seterusnya akan ikut pergi juga bersamanya)

….kemudain kembalilah pikiran warasnya, dan perasaan hati2nja. Ia lalu berkata pada dirinja:….Orang yang seperti dia dalam pengchianatan, tipu daja dan kekerasan hatinya tak akan memperdulikan apa jang dibuatnja. Mungkin suratku diterima olehnja dan dilupakannaj kemudian. Mendengar kematianku, ia menarik nafas pandjang, sebagai kelapangan hati dan kegiranagan, disebabkan lenjap awan gelap jang dahulu menutup langit penghidupannja….

….Stevan mengeluh dengan keluhan jang sangat menjakitinja lalu berkata:..”Alangkah besar kesengsaraanku, oranh jang harus dikasihi. Segala apa telah mendjadi mustahil bagiku, mautpun djuga”

(q)(Kebahagian: 72) Stevan berdiam diri sedjenak. Djiwanja me-layang2 kesegala pendjuru. Lalu ian mengangkat kepalanja dan berkata:..”Aku telah mentjoba segala itu, Fritz (temannya), sdjak lama. Tetapi aku gagal dan tidak berhasil. Djika aku berdaja menentang kodrat Allah, nistjaja aku akan menghantjurkanhatiku dengan kakiku, lalu aku akan sebarkan debunnja keempat pendjuru angina agar terbawa kemana sadja sekehendaknja. Namun tak mungkin hal itu bagiku. Soalku merupakan bentjana jang harus kupikul untuk sementara waktu, sebagaimana telah ditadirkan bagiku. Tetapi meskipun demikian sedjak saat ini aku berdjanji dengan suatu djanji jang tak akan kupungkiri, jaitu bahwa engkau tak akan melihat lagi aku ingat pada Magdalena. Aku tak akan menangisinja lagi. Mengenai kepupusan dan kerinduan jang terkandung dalam hatikiu, hanja pada Allah aku memohon agar Ia membantu aku untuk melupakannja”.

(r)(Ketenangan: 73) Hal paling penting jang menolong dia membikin ia mendjadi tenang dan tentram ialah bahwa ia telah memutuskan akan berbuat kebaikan dan dermawan…

(s)(Dari Magdalena kepada Susana: 76) Sedjak wafatnya ajahku aku merasakan dadku mendjadi sesak dan djiwaku mendjadi lemah. Aku tak mengetahui apa jang terdjadi pada Edward (suaminya). Sikapnja terhadapku sudah berubah sdikit daripada sikapnja dahulu. Ia tidak lagi memandang padaku dengan pandangan seperti dahulu…..

Ia sekarang senang pada orang2 jang mengundjunginja dan bertamu padanja. Ian memperpngdjang duduknja dengan mereka….waktu jang lampau….jang disukainja pada waktu itu tak lain melainkan duduk dan ber-tjakap2 dengan daku….sekarang ia tidak memerdulikan itu menganggapnja penting. Padahal rasa tjemburu adalah merupakan asap tjinta. Djika apinja telah padam, asapnjapun lenjap.

(t)(Dari Magdalena kepada Susana: 79). Api tjinta itu, djika tidak dipelihara dan dirawat, nistjaya akan padam dan punah serta baranja akan berobah mendjadi abu. Tjinta adalah bagaikan burung jang tak dapat hidup melainkan djika beterbangan kian kemari, menjanji dan berkitjau. Djika lama ia terkurung dalam sangkar, ian akan mendjadi lemah dan menundukkan kepalanja kerana putus asa lalu mati…

(u)(Kesunjian Jiwa: 80) Edward memiliki djiwa keduniawian jang gembira, sedang Magdalena memiliki djiwa rohaniah jang walang. Masing2 telah memaksakan dirinja untuk meninggalkan wataknja jang asli untuk sementara, karena maksud hidup jang tertentu. Magdalena meninggalkan wataknja kerana terpengaruh oleh kekilauan jang gemerlapan, jang mengelabui matanja diwaktu ia meninggalkan desanja pergi kekota.

Edward telah meninggalkan wataknja karena ia mentjintai Magdalena, terpengaruh oleh ketjantikan jang menjebablkan ia terpaksa mengambil hatinja dan menuruti kemauannja.

Edward bisa mendjadi suami jang baik djika ia kawin dengan seorang wanita seperti Susana jang berdjiwa keduniawian. Magdalena bisa mendjadi istri jang sangat berbahagia djika ia mengawini seorang laki2 seperti Stevan jang berwatak seni.
Susana tidak menipu Magdalena dalam memudji2 perkawinan ini dan membudjuknja untuk itu. Ia djuga tidak ingin berbuat djahat terhadap kawannja, karena ia telah memilih untuk Magdalena apa jang akan dipilihnja bagi dirinja sendiri. Ia tidak mengandjurkannja menempuh djalan lain ketjuali djalan jang telah ditempuhnja sendiri dalam hidupnja…

(v) (Hati Magdalena: 84) …Kadang2 ia merasakan djuga kebangaan terhadap dirinja pada tiap kali ia ingat bahwa suatu waktu dalam hidupnja ai telah ditjinctai oleh hati jang sutji dan mulia itu. Kebahagiaan masa jang lampau itu merupakan hiburan terhadap kesengsaraannja jang sekarang.

(w) (Dari Magdalena kepada Susana: 85) …Benar katanja itu, kerana seorang laki2 jang kaja tak boleh kawin selain dengan seorang wanita kaja, jang djiwanja sesuai dengan djiwa sisuami. Seorang wanita jang miskin tak boleh kawin melainkan dengan seorang laki2 miskin jang penghidupannja sama dengan penghidupan istrinja.

(x) (Dari Magdalena kepada Susana: 87) Aku telah kehilangan se-gala2nja, Susana, tak ada lagi harapan jang tinggal padaku dari semua tjita2ku. Harta jang kuterima sebagai harga kebahagianku sudah hilang, perkawinan dimana kuletakkan semua harapanku telah membawa sengsara padaku. Laki2 jang kutjintai lebih dari sisapapun dialam ini dan jang tak dapat kutjintai seorang selain dia, sudah terlepas dari tanganku. Aku sekarang tidak mengetahui apa jang masih tersimpan didalam nasibku sesudah ini.

(y) (Dari Magdalena kepada Susana:88) Aku tak punja keluarga jang dapat kutumpangi, tak ada teman jang kuharapkan pertolongannja. Aku tak mempunjai sesuatu untuk menolongku melewatkan sisa hari2 hidupku jang telah ditakdirkan bagiku untuk melewatkannja dialam ini. Stevan tidak mengundjungi Koblenz, hingga aku tak melihat dan mendengarnja lagi. Aku tidak tahu mengapa ia tidak datang.

Ber-kali2 aku terpikir dalam hatiku untuk membunuh diri. Tetapi fikiran lain meghalangi aku untuk berbuat demikian, karena djika aku membunuh diri, akan kubunuh djuga baji dalam kandunganku jang tak berdosa dan harus dikasihani.

(z) (Tiada Tajuk:93)….”Aku dapat memikul semua bentjana ini dangan sabar dan tabah hati, Stevan, asalkan engaku sudi memaafkan daku”..

Demikainlah sikap wanita pada tiap waktu dan tiap tempat. Ia mengaku dirinja lemah dan tak berdaja. Mengatakan bahwa laki2 itu kuat dan perkasa. Karena itu ia menuntut daripadanja tanggung djawap tentang segala sesuatu, tetapi ia tidak mau menuntut tanggug djawap dari dirinja sendiri…

(aa) (Dari Magdalena kepada Stevan: 95) Segala keslahanmu telah kuampuni, Stevan, karena aku tjinta padamudan karena aku tahu bahwa engkau melakukan kekedjaman jang begitu hebat se-mata2 karena kau tjinta padaku. Berikanlah daku maafmu. Tempatkanlah aku ditempatku jang dahulu untuk mana kukorbankan hajatku hari ini.

Djika kau mesti djuga memberi hukuman pada orang jang sudah mati karena dosanya, djanganlah kiranja kau hukum anak yatim miskin jang tak ada saudara dan pegangannja se-mata2 kerana dosaku. Walaupun ia nak wanita jang berchianat padamu, namun ia adalah anak wanita jang telah mentjintai kau.

Aku harapkan perlindunganmu demi kebaiakdan kedermawananmu, agar djangan sampai anak itu menderita sengsara disampingmu atau mendapat satu bentjana didepan mata atau telingamu.

Berilah makan padanja. Berikanlah sedekah, karena engkau sudah sering berbuat baik terhadap ajah bundanja. Djadikanlah dadamu jang rahim sebagai perlindung baginja dimana ia akan mendapatkan kesajangan seorang ibu dan asuhan seorang ajah. Djanganlah biarkan dirinja sendiri menghadapi bahaja2 penghidupan. Peliharalah ia pada saat mendaki kehidupan ini, agar tidak tergelintjir dan sengsara untuk se-lama2nja.

Peringatkanlah senantiasa padnja bahwa ibunja sangat mentjintainja danmemilih maut atas hajat, karena merasa tak sanggup hidup disampingnja dank arena ia sengsara dan putus asa. Ia kuatir kalau2 anaknja terkena salah satu dari panah2 kesengsaraannja.

Selamat tinggal Stevan. Selamat tinggal, wahai orang jang paling kutjintai. Aku berpisah dari kehidupan ini sedangkan engkau adalah oranh jang terachir kupikirkan dan jang merupakan segala apa jang kusajangkan perpisahnja. Ingatlah padaku dan djangan lupakan daku. Kundjungilah pusaraku se-waktu2 djika aku ditakdirkan menpunjai pusara diatas muka bumi. Djagalah apa jang kuamanatkan padamu karena itulah peringatnaku jang kekal berada padamu.

Djanganlah di-besar2kan soal engkau merasa kehilangan karena aku tak ada lagi. Ingatlah salalu bahwa djiwaku sudah bersatu dengan djiwamu dengan begitu mesranja, sehingga tak dapat dirusakkan oleh fana atau maut. Djika takdir memisahkan kita didunia ini, kita akan berdjumpa didunia jang lain dengan tak dikerahkan oleh maut atau perpisahan.

Selamat tinggal Stevan. Kata terachir jang akan kukatakan padamu pada saat terachir dari hajatku ini ialah: …Aku tjinta padamu. Aku mati karena engkau…

(bb) (Lagu maut:98)….Aku hanja menangisi orang jang harus dikasihani itu. Ia telah melalui masa hidupnja sebagai seorang sengsara dan ia telah mati sebagai seorang miskin. Belum pernah zaman tersenjum padanja kendati sekali sadja untuk memberi gandjaran bagi djasa jang ia berikan kepada masjarakat. Tampaknja takdir menghendaki bagi para karyawan dimuka bumi ini untuk hidup sebagai pohon2 besar di-padang2 jang membakar, memberi keteduhan kepada banyak, namun ia sendiri terbakar oleh teriknja matahari. Djika takdir itu berlaku adil dan mau memberi gandjaran kepada mereka, nistjaja tak ada seorangpun jang akan berbahagia dalam hidupnja seperti mereka itu……

...Aku berwasiat kepadamu Friederich, agar kau kumpulkan lagu2ku semuanja dalam sebuah buku. Kepadamu, Seedof, aku berwasiat agar engkau menulis riwayat hidupku sebagaimana jang diketahui olef Fritz, lalu disiarakan kepada chalajak ramai. Kepadamu Fritz, kuwasiatkan agar engkau menguburkan daku sekubur dengan Magdalena dan peliharalah anak perempuan ketjil ini, lindungilah dia sebagaimana engkau melindungi keluarga dan anak2mu. Djika ia dewasa kawinkanlah ia kepada pilihannja sendiri. Aku wasiatkan kamu sekalian agar djangan bersedih hati atas kematianku, karena sekalipun aku telah melewatkan hajatku dalam kesengsaraan, engkau sekalian melihat kini bahwa aku mati dalam suasana bahagia.

Demikianlah achir riwajat seorang besar jang asamara telah membunuh badannja, namun menghidupkan djiwanja dalam buku tjatjatan djiwa orang2 jang hidup abadi.

(4) Magdalena kututup rapat. Haruman tubuhnya menusuk kekal dalam pituitriku di kepala batuku. Jiwanya telah aku mengerti dan kusimpan dalam bersama darah jantungku. Airmatanya telah kusambut sama mengalir dan kini sudah seperti tiada lagi. Pohon Tilia tempat Magdalena dan Stevan pernah persatu nafas cinta, yang sama saja dengan pohon Milk Plant yang sedang tumbuh segar di laman rumahku, adalah sama saja tujuan dan akhirannya. Di situ, disuatu waktu, aku akan tahu apakah Stevan, Magdalena, atau Bethoven akan kudrat diriku.
(5) Magdalena lewat Karr, lewat Manfaluthi, lewat Alatas, terima kasih kerana di saat ini aku telah bersedia untuk mengerti bahawa aku harus terus berlari tanpa henti, kerana tangan ghaib kematian sudah hampir mendekati. Semoga akan kutinggalkan Magdalena Kecil seperti juga teinggalan kalain berdua, dengan kehidupan yang sama-sama tidak tidak sengsara dan berdukacita. Dari tubuhnya, mudah-mudahan tumbuh bangsa merdeka!

Jakarta-Bandung-Jakarta
15-19 Feb., 2010

1 comments :

Anonymous said...

The bed, a nice cool one. The wish of many to sleep and rest well. But, the kid, with an ignorance glimp, is she not entitle to have a nap on that bed, full of comfort, full of love, full of care. Do you care to give her the chance?

Back To Top