Latest Postings
Loading...
Jun 7, 2009

Novel II: BAHTERA MEMBELAH SAMUDERA....menelurusi tunjang, menghambat martabat (Add-on 21.5.09).



KHILAF
makin jauh kau terkubur
lingkaran angan-angan
engkau tak sanggup lepas
dari belenggu terbenam dalam mimpi
yang melambung jauh ke syurga
dan lupakan sagala-galanya
matamu kau bulatkan
telinga tak mendengar
perjalanan roda dunia
engkau menipu diri
menyusup dalam lumpur
terbang melayang
hinggap dikeindahan semu

kawan demi Tuhan aku rela menangis
bila saja air mataku
dapat membuka keasadaranmu
kembali melintas sisa hari
dengan bertobat buang jauh-jauh
mimpi yang memabukkan
terbuka mata
marilah kita jalan bersama
entah apa yang kau tangkap
dengan kataku ini
aku masih menghormatimu
cobalah berfikir waras
hadapi semua tantangan
maafkan aku terpaksa meninggalkanmu
maafkan aku terpaksa meninggalkanmu
Abiet G Ade (Yogyakarta)

Payah sungguh untuk Manan menerima apa yang didengarnya. Dia seperti anak gila, rusak hati dan rusak fikirannya, mundar mandir dengan mata berpinar tajam, di ruang tamu rumah kayu berdinding bambu, beratap nipah, sehingga bergegaran seluruh rumah usang itu. Darah amarah mudanya sedang mendidih panans. Butiran keringat jantan tumbuh lebat di muka dahinya.

Pak Dolmat, ayahnya si Manan, tahu benar akan gelora jiwa anak jantannya ini. Sebentar tadi, Osman, terkejar-kejar, memekik-mekik, berlarian lintang pukang, bagi mendapatkan Manan. Kerana kekagetan dan ketakutan dengan lagak ribut si Osman, habis ayam-itek sekampungan bertempiaran melarikan diri sembunyi entah ke mana-mana, ibarat acaman sang helang menyerbu desa damai ini. Anak-anak kecil ada yang bertangisan, dan ada yang belarian bertelanjangan bulat ke dalam pelukan ibu-ibu yang sedang menyapu laman rumah, desa berpasir ini. Riuh rendah sekampungan di buatnya.


Memang, kedamaian dan ketenangan Desa Tualang, desa kecil di Muara Palembang kini sedang disentap dengan kekalutan yang maha dahsyat. Beberapa minit yang lalu, baru ribut sekampungan atas paluan ketontong dan beduk-beduk di surau dan masjid menghebahkan berita menyatakan Medan sudah tumbang. Kota benteng pertahanan Sumatera, bumi Melayu Indonesia sudah tumbang. Anak-anak Medan sudah menyerah kalah. Belanda sudah merampas Medan dari para pedagang cengkih Tionghua. Rakyat Medan sedang diperintah keras untuk akur seakurnya kepada Belanda. Belanda kini menjadi raja, menjadi pembesar, bahkan sedang bersultan di hati beraja di mata.

Para bahtera Tionghua yang sarat dengan cengkih dan segala rempah sudah dirampas segala isi muatannya, dan semua jong-jong itu di bakar, tanda amaran kepada seluruh rakyat Medan bahawa Belanda sudah berkuasa, sudah luas kuasanya, hampir lengkap kuasanya, seluruh Indonesia sedang dalam kuasanya, dan sesiapa saja berani menantang kuasanya Orang-orang Bule ini pasti diganyang lumat. Asap tebal hitam, memenuhi ruang angkasa Medan, meriam-meriam para Bule ini kian berdentam dentum menantang sisa-sisa keris, golok dan tombak para hulubalang Melayu Medan. Medan kini kian punah ranah, merata menyembah bumi, sama seperti tumbangnya kota-kota lain, Surabaya, Betawi, Surakarta, Yogyakarta, dan Bandung seawal majunya penjajahan dan penjarahan negaranya Indonesia. Kini Palembang sedang di ambang hanyut dalam pelukkan tangan-tangan kasar Belanda.

KUAH KE NASI JUGA TUMPAHNYA

Osman dan Manan berbisik-bisik. Mereka tampak begitu geram dan marah. Dengan mengenggam tangan, menyinsing lengan, tetiba, Manan, melaung sekuat halilintar. Bangsat! Kenapa begitu cepat maka pejuang kita cepat mengalah! Bangsat! Di mana semua para maha guru, yang sekian lama tampak maha handal, kenapa semuanya terkecundang. Aku tak boleh terima ini! Akan kafirlah negara kita ini seluruhnya! Akan terjajah, terjarahlah kita semuanya nanti.

Bule ini pasti mahunya, menjajah kita, menindas, menjarah segala. Pasti si Bule ini akan rakus menelanjangi anak bangsa kita, biar terus miskin dan sengsara, agar kita bisa terus tunduk dan menghamba kepada mereka. Kulit mereka yang putih, muka mereka yang merah, mata mereka yang besar tajam, serta tubuh seakan-akan bandut gagah, adalah modal paling ampuh buat menjadikan kita, bangsa kita tampak kerdil dan sia-sia, dengus Manan. Tidak kecukupan hanya Tanah Jawa, kini, Tanah Melayu ini mahu dijarahnya. Besar dan perkasa sungguh nafsu bangsat Bule ini. Terus saja Manan mengerutu memandang tajam Osman, kedua orang tuanya, dan semua mereka yang ada di sekelilingnya. Semua mereka tunduk tidak berani melihat nyala api mata Manan.

Cukup sudah kita dijajah sebelumnya oleh tangan kita sendiri. Lihat, apa jadi dengan bangsa kita ini. Manut tidak karuan. Taatnya bukan kepalang. Kita merunduk, tunduk, sampai tidak kuasa mahu mengangkat kepala bila berbicara dengan siapa saja sehingga orang-orang besar kita sendiripun. Kita telah dimatikan dengan sifat kasta yang sangat dalam. Dari sebelum Belanda sampai kini, kita terus-terusan di abdikan dengan budaya runduk, sujud, menyembah, tidak merdeka. Tidak. Aku tidak rela ini berulang lagi. Kita akan seperti celeng nantinya. Mahu angkat kepalapun sudah tidak berani, malu. Dia seperti sudah mahu menyalahkan budaya bangsanya sendiri yang selama ini, terus mengongkong, tidak punya kemerdekaan berfikir, tiada kemerdekaan membuat untuk ke hadapan. Segala fikiran, perkerjaan, segala sesuatu, semuanya selama ini adalah atas titah dan kata perintah para pembesar yang rakus dan gendut-gendut bagai bandut. Apapun dari rakyat, adalah di curigai, bisa saja dilihat bakal menggugat kekuasaan yang berkuasa. Fikiran dan jiwa kasta, yang entah ditemuruni dari budaya candi hindu dan budha sudah melekat kuat di tulang, daging, darah, dan kulit bangsa ini. Payah untuk dilepaskan.

Lihat sajalah. Hati Manan terus-terus membentak, air mata kian mengalir deras, sederas peluh jantan yang kian menyimbah tubuhnya. Kita agungkan para Raja, Permaisuri, Putera dan Puteri kita bagai dewa, bagai Tuhan. Kita agung dan kita sujud kepada mereka. Semua titah perintah mereka adalah kata keramat yang tidak bisa dilangkah. Inilah budaya candi hindu dan budha yang mahukan kita hanya taat kepada mereka. Mereka jadikan para raja kita alat penguasaan mereka ke atas kemerdekaan fikiran dan olah kita. Para dewata candi-candi ini, juga begitu bijak, memperguna para pembesar kita, mengangkat para pembesar kita sebesar-besar kemahuan nafsu mereka, lantas mengikat mereka dengan segala puja-puji keramat, yang hakikatnya adalah pancingan agar mereka terus manut, menurut akan kehendak, para dewata candi-candi ini.

Lihatlah, di Yogyakarta, Kota lambang kekuasaan Jawa. Di sana, dulunya terbina Borobodhur yang jauh lebih gagah, lebih agung dari Keraton Raja Jawa. Itulah lambang penjajahan Hindu ke atas akal dan fikiran bangsa Jawa kita di sebalik kulitnya agama. Segala Raja Jawa kemudian dengan mudah sujud di kaki dewata Borobodhur, lantas, anak-anak Jawa pun bukan sekadar sujud, malah terus-terusan menjadi hamba kepada nafsu rakus para pendita bagi membina banyak lagi para candi di seluruh Jawa, bukan untuk agama, hanyalah itu bagi keenakan para pendita dan mubaligh-mubaligh yang malas dan tiada upaya mahu ke depan. Itulah budaya ikutan anak bangsa kita sehingga kita jadi lalai, kita jadi bangsa suruhan di tanah air sendiri. Itulah mulanya budaya sanjungan tanpa fikiran, itu budaya manutan tanpa persoalan yang tertanam dalam-dalam dalam tubuh setiap anak bangsa kita Indonesia ini.

Kini, biar Islam sudah tertebar luas, Islam yang sudah memerdekakan kita dari para dewata dan pendita-pendita candi hindu dan budha, namun kemerdekaann jiwa dan budaya kita masih terlalu ulet untuk terlaksana. Kita terus leka dipeluk budaya kasta, engan merobah, engan mengerti seruan sebenar ilahi. Manan, mulai berkira-kira nakal, yah mungkin, amalan Islam kita juga telah dicampur adukkan dengan budaya hindu yang tebal pada diri kita ini. Maka dengan ini, Allah menurunkan musibah penjajahan agar kita sadar. Namun apakah kita akan sadar, dan bersatu, memerdekakan diri, memerdekakan diri sejajarnya tuntutan Allah, hanya berlandaskan wahyuNya, tidak pada budaya dalam hindu yang berkurun-kurun mengurung kita ini. Terus-terus mendengus Manan, sambil menumbuk-numbuk tiang induk rumah bambu itu, membuat Pak Dolmat semakin gusar dan resah akan amarah jiwa anaknya ini.

Bangsat! Memang bangsat. Mana semua maha guru kita? Mana semua para ahli sihir kita? Kenapa tidak digunakan segala ilmu hitam atau putih itu untuk menghacurkan Bule-bule penjajah ini? Kenapa semua ilmu-ilmu ini hanya guna buat pertarungan sesama kita sahaja! Kesal dan geram benar tanjaknya Manan. Hati kita cukup hitam bila bertarung sesama sendiri, namun kocor bila berdepan dengan musuh sebenar.

Bangsat! Mereka pasti mahu terus menganyang Palembang. Tanah sisa kekuatan Jambi ini, kini sudah terbuka luas sawah padi, kebun-kebun kelapa, kebun-kebun buah segala, dan segala ladang rempah. Kemewahan di sini, di bumi sisanya keagungan Jambi ini kian kembang jauh lebih pantas dari Tanah Jawa. Semua ini kerana kerja keras dan keringat panas anak-anak Palembang. Pastinya mereka mahukan Palembang, mahukan kekayaannya, juga sebagai tapak bagi mereka melancar perang sesama Bule-bule lainnya. Inggeris sudah sekian lama menghambat keluar Portugis dari Tanah Malaya, dan kini mereka sudah bertapak hebat di Malaya, Singapura, dan Borneo. Kota-kota persisir Malaya, Kelang, Malaka dan Pulau Pinang khususnya sudah kembang begitu hebat. Seluruh Malaya dan Singapura khabarnya sudah jauh lebih aman dan mewah dari bumi Indonesia ini. Pasti Belanda ini akan menggunakan Palembang sebagai tapak untuk melancar perang dengan Malaya dan Singapura. Bangsat bangsa Bule rakus ini. Kalau mereka berbunuh sesama Bule, tidak apa, ini pasti Melayu di seberang sana dan anak-anak Melayu-Jawa di sini juga yang akan mati katak di tengah-tengah perebutan ini nanti. Akan terus curiga dan berdendam kesumatlah bangsa Melayu Malaya dan Melayu-Jawa kita nanti. Tidak akan pernah damailah nusantara Melayu ini. Bedebah bule! Begitulah gejolak perkiraan jiwa Manan. Darahnya kian menggelegak! Semangat juangnya sudah Merapi!

Di mana semua hulubalangnya Imam Bonjol, kenapa tidak di hantar semuanya ke sini, ke Palembang ini, jangan hanya diam di Padang! Semua itu, di mana mereka. Kita mesti terus teguh dan berani. Biar darah membanjiri bumi Palembang ini, kita mesti bangkit menantang, terus menantang tanpa gentar. Suara memberontak si Manan terus memecah kedamaian keluarga Pak Dolmat, dan seluruh desa Tualang. Temannya, Osman hanya tertunduk bisu mengikuti kata hati keras si Manan.

Pak Dolmat dan Ibu Aishah semakin resah. Ah. Manan ini, tidak habis-habis jiwa merdekanya. Sama seperti kakeknya Abdullah. kakeknya Abdullah, dulu-dulu sanggup dia bertarung dengan segala macam bentuk macan, samaada benar atau jelmaan dalam usahanya mendirikan desa ini. Tidak gentar dia berdepan, biar hanya sendirian, dengan apa juga ancaman dalaman dan luaran, demi menegakkan desa ini. Maka kerana keberaniannya itu, banyak kenalan, mengusulkan agar desa ini di namakan Desa Tualang, atas ingatan bahawa tumbuhnya desa ini adalah kerana keteguhan dan kekuatan pendukongnya menantang segala pertualang yang menghambat terbinanya desa ini.

Ya. Desa Tualang. Kerana matinya para pertualang, segala harimau yang memamah para kambing, sapi dan kerbau dan sesekali teman-teman seperjuangannya kakek Abdullah, juga kalahnya para ahli sihir yang hasad dengki saban malam menjelma menjadi Pak Belang jadian, kini Desa Tualang berdiri gagah dan di impikan oleh kakek Abdullah agar Desa Tualang adalah pelindung bagi anak cucunya nanti untuk boleh menjadi manusia merdeka dan hidup penuh kesejahteraan sambil terus berbakti kepada Allah subhanahuwatala. Desa Tualang, mimpinya, mesti tumbuh dan gagah juga seperti pohon Tualang dengan banir dan dahan yang tegap-tegap. Gagasan kakek Abdullah, Desa Tualang, biar kecil namun panjang menjalar, teguh, mengakar sehingga ke anak cucunya, mesti dipertahankan, begitulah, itulah amanatnya, dan sering diperkesahkan Pak Dolmat kepada Manan semasa bocahnya. Kini, jika Palembang tumbang, maka tumbanglah Desa Tualang!

MELABUH LAYAR MERENTAS SAMUDERA

Namun, dalam benak Pak Dolmat, Manan tidak boleh hanya menghunus keris, mecabut golok, dan mencacak tombak dalam menantang gelombang arus Bule yang hebat menawan seluruh dunia ini. Pak Dolmat telah menyaksikan bagaimana keris, golok dan tombak sudah tidak ampuh menantang kekuatan Bule-bule ini. Dia berkira-kira dengan Ibu Aishah, untuk mengirim saja Manan ke Malaya. Di sana, di Kelang sudah ramai rakan-rakanya hijrah dan khabarnya mereka sudah agak aman, boleh bertanam padi, kelapa dan karet. Tetapi, tidak semudah ini, untuk menyakinkan Manan untuk berangkat ke Kelang. Dia pasti mahu ke Tanah Jawa, untuk bergabung bersama bala tentara rakyat Indonesia, mengibarkan panji-panji perjuangan, panji-panji merah-putih, warna tulang keras dan darah panas, lambang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, yang kini ditantang dalam cabaran yang amat dahsyat oleh Bule Belanda ini. Khabarnya sudah tumbuh angkatan anak-anak muda pimpinan Sukarno sudah meyarung peci, tengah berjuang dengan jari dan kepala, bukan sekadar menyinsing lengan dan membuka dada, mahu memerdekakan seluruh Indonesia.

Pak Dolmat dan Bu Aishah, harus bertindak pantas, sebelum Manan melangkah pergi, mengamuk atau mungkin mati di muncung senapang para tentera Bule Belanda itu, mereka mesti memujuknya supaya hijrah jauh dari kemelut perang Belanda ini. Mereka tidak mahu anak tunggal, wira tunggal, waris tunggal mereka itu terkubur tanpa waris yang boleh berjalan lebih jauh. Berjalan lebih jauh mengheret harga diri bumi tercinta, bangsa tercinta ini. Tinggi, setinggi puncak segala gunung, tingginya pengharapan peyambung warsi Pak Dolmat dan Ibu Aishah pada anak mereka si Manan.

Manan, Pak Dolmat memanggil anaknya lembut. Mari ke sini, ayah sama ibumu mahu bicara dengan kamu. Duduklah di sebelah ayah ini. Mari, bersaksikan pelita ini, biar ayah katakan bahawa, perjuangan kemerdekaan ini sudah bermula. Negara kita pastinya akan merdeka lantaran keberanian Angkatan Pemuda Bangsa pimpinanmu dan teman-teman muda lainnya. Namun, kemerdekaan jika di capai, pasti akan punah kembali jika tanpa pengisiannya. Sambil bersila rapat, Pak Dolmat berbicara dengan halus dan hati-hati, sambil merenung tajam ke dalam anak-anak mata si Manan. Dalam sanubari Pak Dolmat diwiridnya ayat Kursi dan dihembuskannya nafas Kursi ke muka Manan, dengan doa semoga hati anaknya akan patuh atas perhitungannya beliau.

Begini, anakku, engkau pasti tahu, paman-pamanmu di Malaya sering berutusan kemari. Mereka tampaknya sangat berhasil di sana. Ya mereka membuka madrasah, perkampungan baru, bahkan sudah ada jadi pedagang yang berjaya dan sering ulang-alik ke Tanah Jawa dan Palembang ini. Ayah juga dengar, negaranya Malaya itu banyak sekali menjemput para bijak pandai kita ke sana, buat mendidik anak-anak Melayu di sana tentang apa saja ilmunya yang mereka boleh dapati. Sangat tinggi nampaknya akal Melayu Malaya itu, mereka sedang hebat menuntut ilmu, dan mungkin dengan cara itu bisa nanti mereka bersatu tenaga akal bagi mengalahkan Inggeris yang menjajah dan menjarah segala timah, besi, karet,dan segalanya yang ada di sana. Maka, kita mungkin dapat belajar dari akalnya Melayu ini. Sememangnya Malaya itu hanya sebuah negara yang kecil, namun tidak mengapa kita belajar dulu dari yang kecil. Biarpun mereka kecil, namun jika akal dan gaya mereka besar, pasti ada juga kebaikannya kita belajar dari yang kecil-kecil dulu. Saran Pak Dolmat kepada anaknya Manan.

Di negara kita ini, sudah ada gerakan mahu memerdekakan Negara, para kiai dan ulama kita sedang dengan perlahan-lahan mengumpul kekuatan tenaga bagi mengadu kemerdekaan kita, namun, kita tiada pengisian ilmu yang mantap. Lihatlah betapa biadapanya Belanda, berani mereka merampas negara ini dari tangan kita anak-anak pribumi. Telah kau saksikan betapa Kraton Sultan Yogyakarta. Lambang keagungan pemerintahan bebas kita, kini sudah tumbang, terkubur martabat sultannya. Para sultan itu, suatu waktu adalah payung bangsa kita, kini hanyalah anak-anak sampah pinggiran jalanan. Maka, kalianlah, anak-anak muda baru Indonesia ini yang harus punya akal yang lebih tajam dan bijaksana bagi memperjuangkan kemerdekaan kita. Keris, golok, dan tombak kita sudah tidak ampuh lagi untuk melestarikan kedaulatan ini. Kedaulatan ini mestinya diperkukuhkan dengan ilmu dan kepintaran. Maka, anakku, wajar bagimu dan semua teman-teman mudamu hijrah dulu ke Malaya, isikan dulu dada kalian dengan segala ilmu yang ada di sana.

Bapak sudah lama perhatikan. Kita di sini, sangat kuat menyelami ilmunya agama. Di setiap kampung pasti ada saja madrasah. Anak-anak kita dididik para kiai agar sentiasa berkupiah dan kerundung putih agar putih fikiran dan hati mereka. Itu bagus buat pribadi moral, namun kita juga mesti fikirkan tentang lestarinya hidup ini. Rakyat kita kian biak. Kita perlu punya fikiran jauh dan luas dari hanya mengasuh tentang keimanan, kita mesti juga mencari ilmu untuk hidup dan mendokong tugas kita sebagai khalifah Allah di bumi ini. Kita sudah tidak boleh, hanya ikut satu jalan, sedang jalan kehidupan yang lebih luas tidak kita lihat dengan fikiran yang lebih tajam. Kita kejari syurga. Kita kian lupa kehidupan di dunia. Kerana kelalaian satu ini maka kita telah khilaf dalam memperkuatkan diri dengan segala kepintaran mengamankan negara dan memakmurkan rakyat. Maka kita, biar saja kuat hatinya, namun lemahnya tenaga. Pak Dolmat terus berusaha sekeras akalnya bagi meyakinkan Manan agar mencari kebijaksanaan yang lebih hebat dari hanya bersandarkan keris, golok dan tombak untuk menjadi perwira bangsa.

Aku tidak mahu kalian terus berada di sini. Sampai waktunya, kita akan kalah juga. Belanda itu sangat kuat tekadnya, semua itu kerana tinggi ilmu hidupnya. Aku tidak mahu nantinya kamu jadi hamba di kebun karet, kebun cengkeh, atau mati di hujung bionet Belanda itu. Tidak boleh kita jadi begitu. Ke Malaya dulu kalian, jika sudah aman nanti, kalian bisa pulang dan menjadi pendokong agung kebebasan dan kemerdekaan ini. Biar ayah dan teman-teman yang lain bertahan di sini buat mengalih dulu mata Belanda ini. Pergilah ke Malaya, belajarlah jadi pedagang, pengusaha, pengkarya, kemudian pulanglah jadi pengerak membina bangsa kita ini. Usah khuatir tentang nasib kami, kami telah dulu tumbuh di sini, biar payah, kami pasti boleh hidup biar hanya sekadar seperti ulat dalam batu.

Sambil mengusap-ngusap lembut belakang anaknya, Ibu Aishah, menambah, pergilah nak. Ikut nasihat ayahmu. Kamu usah khuatir, doa kami akan tetap bersama kamu. Kakek kamu, Abdullah akan turut mengiringimu ke mana saja engkau pergi. Dia pasti setuju dengan ayahmu. Percayalah kami akan selamat. Dulu pun para macan lebih ganas dari Belanda, namun kami masih boleh mengalahkan mereka.

Manan hanya tertunduk. Halus dan tajam sungguh kata-kata ayahnya dan ibunya. Hebat nasihatnya itu. Jauh menusuk ke dalam hatinya, tentang kebenaran bicara ayahnya. Osman, sesekali memandang Manan, dan perlahan-lahan dia mengangguk-nganguk kepalanya tanda setuju. Baik , Manan, tetiba, Osman mengusul. Biar aku pulang dulu ke Riau. Kau menyusulku kemudian. Aku akan kumpul beberapa teman lagi. Kita berlayar ke Kelang, ke Malaya dalam sepekan lagi. Akan aku persiapkan semuanya. Usah kau khuatir, ayahku tentu setuju dengan usul ayahmu. Aku akan bicara dengan dia.

LANGKAH PEMULA

Bajeng anak muda ganteng tumbuh hasil penjajahan panjang Belanda, bukan kepalang jengkelnya. Sudah puas dia melihat anak-anak bangsanya cukup seneng di dagang para Bule ini. Jiwanya kian sempit. Pengajiannya di madrasah, membuat dia benci melihat ulah anak-anak Betawi yang kian lalai hanyut dalam kesenangan limpahan Bule ini, tanpa menyadari suatu hari, itu hanyalah umpan agar, mereka akan tetap miskin dan sengsara. Sejak sekian lama, dia sudah melihat, bahawa Belanda, mahunya hanya membeli apa saja yang bisa didagang dengan harga yang paling murah, kemudian, entah membawanya ke mana, dan pasti didagang dengan harga yang pasti paling mahal dan lumayan. Kalau tidak, masakan mereka tampak sebegitu hebat dan mewah sekali. Tegaknya, pakaiannya, kapalnya, peralatan perangnya semua hebat-hebat belaka. Dari mana mereka dapat biaya untuk semua itu, mereka tampak tiada berusaha, mereka tidak pernah bertani, kerja keras seperti bangsa Indonesia kita ini, hanya kembara, dan pastinya semua itu adalah hasil peresan dari semua anak jajahan. Sampai sebegitu jauh sekali, perkiraan dan kesangsian Bajeng pada manusia-manusia Belanda itu.

Mata dan hati Bajeng sudah tidak tertahan dan enggan lagi melihat anak-anak bangsanya dipersundal Bule-bule keparat ini. Sudah sekian lama bangsanya terjajah budaya dan fikiran. Mereka tampak sudah asyik sama hiburan, menghias anak-anak gadis manis seindahnya lalu berhibur seenaknya, kota-kota sudah dibangun dengan segala rupa yang bisa melekakan. Saban waktu bila melihat kereta kuda para bule lewat di jalanan hanyir Betawi, pasti ada tersosok gadis-gadis, anak-anak bangsa yang mungil-mungil, manis-manis pada raut dan darah, manis pada pengertian hidup, masih hijau segala, seperti pucuk paku yang masih paling enak dibuat tumis, kini gadis-gadis ini biar dari Surakarta, Bandung, Betawi, atau dari mana saja, jadi hiburan dan hidangan badan, kotor tangan rakus para bule itu. Begitu pilu dan seksanya, Bajeng melihat akan bangsanya yang sudah menyerah, biarpun bunga puteri bangsanya kepada para Bule ini. Pilu hatinya bagai ditancap kaca botol pecah, memikirkan betapa dari tubuh-tubuh puteri-puteri sundalan ini akan tumbuh bangsa baru, bangsa kopi susu, campuran darah dan nafas kotor para Bule dan hati kotor para puteri ini, dan mereka akan tumbuh dan biak, kemudian menjadi manusia yang akan mendokong negara bangsa ini. Alangkah, musibah bakal bertandang menyerang Indonesia, bila mereka ini, bangsa kopi susu yang tumbuh dari segala kotoran ini, memimipin bangsa kebanyakan nanti! Pasti akan kotor juga hasilnya! Menjijikan!

Perih hatinya Bajeng bertambah-tambah, melihat anak-anak Indonesia sudah para belajar menulis, bicara, dan mengikuti gaya Belada segala. Dulu hadrah, marhaban, kini sudah diganti irama Belanda yang sungguh enak didengar dan lihat, namun payah diterima adat. Para sekolahan Bule dan sekolah madrasah sudah punya sikap dan status berbeda. Biar anak-anak itu tetep pesek hidungnya, namun para sekolahan Bule sudah seperti berhidung tinggi lagak. Itu mahunya Bule, biar anak-anak Indonesia ini, perlahan dari menaruh kebencian pada bangsanya Bule kepada kebencian sesama sendiri. Hebat pemikiran Bule ini, halus, dan sangat tajam, dan panjang kesannya pada toto kromo budaya anak negeri ini. Teman-temannya terangguk setuju dalam dengan pendapat Bajeng ini.

Kini, dia merenung apa maksud pengajaran kiai Muhammad, di mana dia mahu, kalau kita lihat kemungkaran, maka betulkan saja dengan tanganmu, jika enggak kuasa, tegurlah, paling lemah sekalipun, berpaling saja mukamu dari sana. Dia memikiri, jika ku bunuh Bule ini, pasti lebih banyak Bule yang akan datang. Pasti lebih keras penindasan mereka ke atas bangsaku. Jika kutegur, pastinya bangsaku akan menantangku, dan tidak mungkin aku bisa melawan mereka, pastinya perjuangkan ku untuk merobah bangsa ku akan terkubur tanpa batu nisannya. Ternyata mereka sudah terlalu sesat. Dia juga teringat cerita kiai Muhammad, bahawa nabi saw, dulupun, seawalnya perjuangannya menegakkan syiar Islam, tidak boleh berbuat apa-apa tentang kekufuran kaumnya di Mekah, lantas dia membawa diri ke Madinah, buat mengumpul tenaga baru, supaya bisa dia bangkit menjadi lebih gagah dan jauh lebih maju. Sangat agung ilmu Tuhan, buat pedoman perjuangan ini, bisik Bajeng.

Bajeng, berkira-kira mahu ikut sunnah rasullullah. Namun, dia mahu hijrah ke mana? Dia berkira-kira, kenapa tidak ke Pontianak? Di sana, masih suci dari, si Bangsat Belanda yang menghancurkan ini. Di Pontianak, diharapkan, bangsa Indonesia di sana, masih bersih dari pengaruh perampok Belanda atau apa juga bangsa asing yang menjijikan ini. Ya. Dia mesti hijrah saja ke Pontianak, moga-moga di sana, dia bisa mengumpul segala kebesaran, nantinya buat membebaskan bangsanya. Maka, bersama, puluhan rakan-rakan muda yang sama fikirannya dan semangatnya, Bajeng nyeberang Selat Jawa ke Pontianak. Di Pontianak mereka membina perkampungan baru di sepanjang tebingan Sungai Kapuas. Atas usaha gigih dan kesepatan kental, hidup mereka kian makmur dan Kota Pontianak, saban harinya kian kembang dengan para penghijrah Tanah Jawa. Saban hari juga, Pontianak sedang didatangi pedagang-pedagang Tionghua yang mengembangkan usaha dagang seperti tumbuhnya jamur di pagi hari selepas hujan. Pontianak kian makmur.

Tidak jauh dari Pontianak, di bahagian utaranya, kini sedang tumbuh sebuah Kota baru, Kota Sambas namanya. Di sana sudah tumbuh sebuah pemerintahan Melayu yang amat tersusun. Sebuah Keraton pun sudah didirikan dan pemerintahannya sangat asli dan sedang menuju deras kepada pemerintahan Islam. Mendengarkan berita ini, hati Bajeng sangatlah girang sekali, lantas dia dan beberapa teman lainnya terus saja hijrah lagi. Hidup ini mesti berani mengorak langkah ke arah kebaikan, tekad Bajeng. Biar betapa payah. Kerana dia yakin, tiada yang mudah bagi yang berjaya!

Di sambas, ketemu Bajeng dengan sorang kenalan baru, namanya seakan dia, Bojeng. Bojeng adalah anak jati sambas. Berbadan tegap, namun sedikit gelap, sedang Bajeng, juga cukup tegap namun berkulit cerah. Ketegapan dua tubuh ini, tampaknya punya satu jiwa, iaitu jiwa peneroka yang mahu membina sebuah masyarakat baru yang suci dan utuh. Utuh pada pribadi, utuh pada semangat, dan ulet pada budaya jatinya nenek moyang mereka, yang penuh tertib, sopan, namum tidak mahu diinjak-injak. Mereka mahu jadi pemuda baru yang hidupnya cukup dengan segala ilmu dan kebijaksaan biar hidup dan kehidupan mereka jadi paling ulet, paling bagus, paling besar!

Bajeng dan Bojeng kini berganding bahu membina sebuah penempatan baru di pinggir sungai di seberang Kota Sambas bertentangan dengan Keraton. Kiranya, dari sana mudah bagi mereka, saban waktunya untuk menyeberang ke Kota sambil, jika perlu, untuk ketemu Sultan di Keraton. Desa baru ini di namakan keduanya, Desa Biak, dengan harapan, Desa ini akan kembang luas dan menumbuhkan angkatan baru yang lebih gagah dan bijaksana. Anak-anak hijrah yang ikut Bajeng ke Sambas, setelah mendapat izin dari Sultan, mulai satu-satu membina pondok seadanya di sana. Sagu, karet, kelapa, padi, jagung, dan segala macam ubian di tanam di Desa Biak. Desa ini, kian makmur dan kembang luas. Sultan Sambas, bukan main seneng hatinya melihat anak-anak Jawa ini, sudah sepakat dengan Melayu Sambas dalam membina kehidupan yang lebih maju ke depan. Kini, anak-anak Melayu Sambas sudah ada ikutan, dari kerajinan dan kecekalan anak-anak Jawa ini. Harapan Sultan, bisa besarlah jajahan pemerintahanya, dan nanti sudah pasti dia juga akan mahu mengembangkan daerah jajahannya ke serantaro Kalimantan. Sudah berangan-angan besar tampaknya Sultan ini.

Namun kedamaian dan kesejahteraan Desa Biak, tidak bertahan lama. Berlaku, tentangan antara kerabat Sultan mahu menguasai bahagian-bahagian tertentu Sambas. Berlaku pertelingkahan hebat di kalangan mereka, sehingga membawa kepada terbentuknya suku-suku yang enggan duduk semeja dan senyum bersama. Saban hari ada saja sengketa di Kota Sambas. Kalau ngak tarung lengan, pasti ada saja pertengkaran yang meresahkan. Keadaan ini amat mengecewakan Bajeng dan Bojeng. Mereka mengumpul masyarakat Desanya, dan mesyuarah bagi mengatur rencana terbaiknya. Saran beberapa orang anak Desa Biak, agar mereka ke persisir pantai dan membina desa baru di Paloh. Di sana, pastinya mereka akan lebih jauh dari kuasa kemelut cakaran kerabat Sultan-sultan ini.

Ditetapkan waktu, kerana anak-anak Desa Biak, semuanya punya perahu, dengan mudah pada suatu malam yang tiada bintang dan bulan, hitam dan kelam, mereka senyap-senyap menghilir Sungai Sambas, menghilangkan diri dalam lebih kurang sepuloh buah perahu semuanya. Ayam, itik dan anjing-anjing buruan di biarkan, tidak di bawa, mereka hanya berbekal beberapa guni lemantak buat menyambung nyawa. Dingin sepoi-sepoi bayu, pekat kelam malam, dan laungan para cengkerik mengiringi kepiluan para penghijrah ini, meninggalkan segala titik peluh, menghilir menjauh dari hati besar dan panas para penghuni Keraton Sambas. Mujur, kerana dingin, para anak-anak terus diam dalam pelukan hangat tubuh ibu-ibu mereka, membuat perjalanan ini begitu sepi dan licin tanpa ketahuan sesiapapun, sedang seluruh penghuni Sambas lainnya sedang nyenyak di sarung dingin malam.

Sesampai di Paloh, alangkah kecewanya mereka, bila didapati sebahagian anak-anak desa itu sedang siap-siap mahu belayar ke Sematan, Sarawak. Paloh tidak aman. Tanahnya terbatas. Saban hari bisa banjir limpasan air pasang sungai. Tanaman tidak bisa menjadi. Binatang peliharaan tidak bisa di usahakan. Sempit dan payah hidup di tanah paya bakau ini.

Lantas, mereka di ajak berangkat sama, dan mereka tidak boleh leka kerana diagakkan bahawa dalam dua tiga hari lagi dijangka ribut moonsun akan bermula. Waktu itu, pastinya laut akan bergelora, untuk setidak-tidaknya empat purnama. Mereka harus belayar sekarang juga. Di khabarkan, di Sematan sudah banyak anak-anak Sambas membina perkampungan baru dan mereka kian kembang. Bajeng dan Bojeng saling melihat antara satu sama lain, dan tidak boleh berbicara panjang, terus mengangguk untuk ikut sama seluruh rombongannya ke Sematan, Sarawak.

Genap tiga hari menyusuri pantai Paloh, kemudian membelok ke utara, mengelilingi Tg. Po, mereka akhirnya mendarat di Sematan. Mereka di sambut dengan penuh persaudaraan oleh para penghijrah terdahulu. Ada yang bertangisan, berpelukan, melahirkan perasaan yang amat gembira juga keharuan di atas pertemuan yang tidak terduga ini. Sebilangan keluarga yang dulu terpisah, kini bertaut, bersatu dan berikrar akan saling hidup bersama semula.

Bajeng dan Bojeng dengan segera mengamati sekelilingnya. Tiada bedanya Desa Biak, Paloh dan tempat baru, Sematan ini. Terlalu banyak yang mesti mereka lakukan sebelum mereka, mungkin untuk dapat berkembang, membina kekuatan secukupnya. Akhirnya, mereka khuatir, kerana usia yang kian menyembah bumi, apakah mereka akan dapat mengumpul kekuatan dan akhirnya pulang ke pangkuan bangsa sendiri. Tidak mungkin di tempat sekecil ini, Sematan tidak upaya untuk memberi kekuatan yang dicaridan bermakna dalam jalanan perjuangan mereka. Mereka tekad, mahu terus saja ke Kota Kuching, yang dikhabarkan cuma dua hari pelayaran ke utara melintasi dua batang kali.

Dua hari pelayaran, melintasi beberapa kepulauan kecil, dan persisir berpasir, akhirnya mereka sampai ke muara sungai di kaki gunung yang layaknya seperti seorang puteri sedangan berbaring, maka mereka langsung saja menghulu Sungai itu melewati Gunung Santubong nan biru dan indah itu, seharian mudik ke hulu, langsung membelok ke kiri di sebuah persimpangan dan akhirnya, lewat malam yang tenang yang nyaman, mereka akhirnya disambut pelita-pelita malam Desa-desa pinggiran Sungai Sarawak. Mereka berlabuh setentang Gedung Putih di seberang kanan dan bangsal atap panjang di sebelah kirinya Sungai Sarawak.

Bajeng dan Bojeng yakin, pasti inilah Kotanya Kuching, dan pasti Gedung putih itu adalah Keraton Pelayar Inggeris yang telah diangkat menjadi Rajah di Sarawak. Bojeng, kerana sudah mengerti akan betapa kesal dan pedihnya hati Bajeng bila melihat akan Gedung Putih itu, lambang penghambaan anak-anak pribumi, menhampiri temannya, menepuk-nepuk bahunya, sambil mengucapkan kata-kata agar mereka harus ada kesabaran yang tinggi. Kang Bajeng, dia menyeru temannya, kita netep saja di sini. Saya udah penat dan ngak mau terus saja belayar dan lari. Ayuh kita bina saja kekuatan kita di sini, dan kita bersatu saja dengan mereka yang mungkin telah ke sini duluan. Saya kira, Desa-desa Pinggiran Sungai sana itu pasti ada dari Sambas dan Tanah Jawa.

Ternyata benar telahan Bojeng, memang banyak kaum terdahulu dari Sambas dan Jawa telah menetap di sana melihat pada nama Desa-desa Gersik, Boyan, Surabaya, Semarang, dsb. Nama-nama itu adalah sama dengan nama-nama Desa di Sambas dan Jawa. Bojeng yang tumbuhnya dari anak tani, merasa kurang enak untuk menetap di desa-desa pinggiran sungai tersebut. Dia berputus janji dengan Bajeng untuk ke Desa Dahan yang khabarnya ada perusahaan karet milik Inggeris. Dia mahu ngongsi dulu di perusahaan itu dan mudah-mudah kemudiannya dia mahu bisa buka kebun karet sendiri. Khabarnya, Tuan Rajah itu amat sayang akan rakyatnya, dan mereka bebas untuk membuka tanah sekuatnya.

Di Pasar Chekor, pasar berbentuk bangsal panjang beratap nipah, Bajeng ketemu dengan beberapa orang rakan-rakan dari Tanah Jawa. Dia diajak untuk membuka tanah kebunan di Jalan Arang, Bt 4 Jalan Padang Terbang. Bersama-sama masyarakat Jawa di sana, Bajeng membangun sebuah kebun karet seluas lima ekar di atas tanah paya yang sangat payah untuk tumbuh apa saja yang mahu di usahakan terutama di musim hujan. Tiba musim tengkujuh, tanah ini pastinya bah dan mati segala yang ditanam. Kerana adanya sekumpulan anak-anak Jawa di sini, yang sebahagianya sudah punya kerjaan tetap dengan pemerintah Rajah Inggeris, maka Bajeng tekad mahu membina kehidupannya di tanah ini. Dia yakin, di sinilah nanti dia akan memulakan mengumpul kekuatan untuk kembali pulang membebaskan bangsanya. Tambahan lagi hatinya sudah di curi Nuriah, gadis jawa yang sedang tumbuh munggil, maka dia kian tekad mahu netep dan membina keluarga di Jalan Arang ini.

Nuriah sadar dia sedang diperhati dua mata hati yang baru Bajeng datang. Bunga cinta Nuriah kian tumbuh bersama tumbuh segala sifat ibu di tubuhnya. Saban waktu, bila mandi di perigi, di belakang rumahnya, yang kebetulan berhadapan dengan tempat diamnya Bajeng, Nuriah pasti pura-pura lama-lama berusaha keras menebar timba mencedok air peringi yang dalam. Bajeng, yang udah jauh dewasa, mengerti akan maksud pancingan anak gadis mungil ini, pasti datang, membantu dan mengisi gentong penuh buat mandian Nuriah. Olah percintaan dua hati yang begitu mudah dan ringkas ini berlangsungan dan diketahuan seluruh isi keluarga Nuriah.

Pernikahan Bajeng dan Nuriah ibarat kesatuan anak dan ayah. Bajeng yang usianya sudah menghampiri separuh jalan, sedang Nuriah baru saja bisa dandan sendiri, namun, kerana kepayahan hidup, ibu bapa Nuriah mengizinkan saja pernikahan mereka. Setidak-tidaknya Nuriah sudah ada yang menjaga, memelihara, dan tempat bergantung hidup. Dua manusia dari dua zaman berbeda ini, kerana kemurnian dan sejatinya kasih dan saling hormatnya, maka sampai tahun silih berganti, Bajeng dan Nuriah sudah dikurniakan dua cahaya mata, dinamakan Bahiyah dan Khartewi. Dua puteri yang lahir selang lima tahun beda antara keduanya. Dua zuriat hasil cinta pinggir telaga, diinginkan akan menyiram subur dan menyambung jalanan kemerdekaan seterusnya. Itulah pinta Bajeng, biarpun mereka hanya puteri dan bukan putera, baginya sama saja, pastinya Dia yang berkuasa sudah ada ketetapanNya.

Sedang Bojeng kini, juga telah bernikah dengan Khatijah, gadis campuran keturunan Sambas dan Brunei. Juga pernikahan perbedaan umur yang amat ketara seperti bambu dan rebung kayaknya. Dari hasil perkongsian hidup ini, Bojeng dikurniakan dua puteri dan tiga putera. Nur Intan, Alauwiah, Yusuf, Suhaili dan Ohek adalah nama-nama yang di berikan kepada sulur-sulur rebungnya Bojeng.

Buat sekian waktunya mereka terpisah, kini Bajeng dan Bojeng bersatu lagi. Kini, mereka sudah mulai melupakan cita-cita mereka untuk kembali ke Indonesia. Dari berita-berita yang di terima, anak-anak Indonesia di tanah airnya, sudah kian berani memberontak menantang perampok Bule-bule Belanda. Kini, negara Indonesia sedang menuju ambang kemerdekaan dan sudah tumbuh suara-suara lebih tegas dan berani dari Mas Sukarno dan teman akrabnya Mas Hatta. Keduanya teramat girang mendengar perkembangan ini, setidak-tidaknya, cita-cita kemerdekaan yang ingin dipikulnya, kini sudah terlaksana, biar oleh tubuh-tubuh yang berbeda. Kini, mereka sudah bisa, tekad dan punya keamanan jiwa untuk membina keluarga masing-masing.

Mereka cukup kuat bertani dan berdagang segala apanya. Hasil jualan karet, nenas, pisang dan segala hasil taninya, mereka kini sudah bisa mengumpul secukup wang buat mengupah orang untuk membikin mereka sebuah perahu layar. Jiwa pelaut, peneroka, dan pedagang mereka tumbuh kembali. Kebun yang ada, perkiraan mereka, sudah boleh ditinggalkan untuk peliharaan anak-isteri mereka. Kini, biar mereka seperti dulu lagi, belayar ke mana saja, merantau sambil dagang di bumi Sarawak, yang juga sedang pesat bersatu dan maju. Mereka mahu hidup merdeka kembali di bawa angin ke mana saja. Mereka mahu terus kembara, sambil melihat apa mungkin ada peluang baru yang lebih baik untuk keluarga mereka. Jiwa dagang mereka kembang berlayar semula.

Dengan perahu layar, dan berbekal pedoman dari rakan-rakan pelaut lainnya yang sering hilir mudik Sungai Sarawak, ada yang datang dari Saribas, dari Muara Tuang, dari Sadong, dan tidak kurang dari Brunei dan Sambas sendiri, mereka sudah bertukar-tukar cerita mahu menjelajah ke serata tempat ini. Bojeng, atas sifatnya anak pelaut dan suka akan dagangan, memborong apa saja gerobak pakaian dan alatan dapur yang datang dari Singapura yang terjual di pasar Chekor, dan dibawa dagang mula-mula ke Sematan, Santubong, Muara Tebas, dan Muara Tuang. Kian hari pelayaran mereka kian jauh sehingga suatu hari memudiki Batang Sadong. Di Sadong, hasil jualan mereka amat lumayan kerana di sini telah muncul peluang baru, dan di Desa Pendam, sebuah desa baru di muara batang Sadong, sudah mulai tumbuh penempatan anak-anak Sambas dan dari Tanah Bugis. Di hulunya, juga sedang tumbuh Desa Simunjan, penempatan yang asal anak-anaknya dari Sambas dan Brunei, dan di sini, di Batang Sadong, pengaruh Bugis dan Sambas sedang kembang biak dan dituruti oleh masyarakat Dayak. Kelapa, pisang, jagung, ubi-ubian, segala macam buah-buahan dan padi sudah ditanam dengan meluas di sini. Bajeng dan Bojeng, sudah melihat upaya dagang tukar barang di daerah ini.

Bajeng dan Bojeng juga terus menyebar berita, terutama kepada teman-teman sekampung mereka di Dahan dan Jalan Arang akan bagusnya tanah kebunan di Sadong. Mereka juga mulai membawa masuk lebih ramai anak-anak Jawa dan Sambas ke sana sehingga kembang biak masyarakat tersebut bersaing rapat dengan anak-anak Bugis

Bajeng dan Bojeng sudah punya gagasan, biar di sini, di bumi asing ini, di tanah Sadong ini, akan terbina bangsa Indonesia di perantauan yang akan saling bersaing, hebat dan sengit. Biar di sini bangkit bangsa baru yang punya asa yang tinggi, membina watak-watak gagah, perkasa, terus mengejar hidup dan kehidupan, biar dalam kepayahan yang paling perit. Di sini, harapan Bajeng dan Bojeng akan bangkit manusia waja, ulet, punya harga diri, terus tidak mengerti akan kekalahan, terus menantang arus, maju tidak undur. Di sini, di Tanah Sadong, ini, Kang Bajeng, kita mesti bina kekuatan bangsa baru, penggerak kemerdekaan dan kebebasan sebenar, ikrar Bojeng pada sahabat lebih tuannya Bajeng. Inilah mungkin sumpah setia mereka.

LANGKAH MENYUSUL

Dalam mempersiapkan diri untuk ke Riau, ada khabar mengatakan bahawa beberapa perahu layar telah berlabuh di muara Palembang. Gundah, seluruh penghuni Desa Tualang. Perahu siapakah itu. Apakah Belanda sedang menyusup ke mari pakai sampan-sampan kecil. Bukankah mereka punyai bahtera yang besar-besar. Manan, mengumpul berapa orangnya, menghilir Sg. Palembang, dan sembunyi di celahan bakau, memerhati siapa gerangan pendatang ini. Jika benar itu Belanda, kita serang mereka. Biar mereka hapus di telan paya bakau Muara Palembang ini.

Perkhabaran ini, buat Pak Dolmat dan Ibu Aishah membikin mereka jadi kian kelam. Mereka amat khuatir, jika itu benar-benar Belanda yang sedang menyusup, pasti Manan tidak akan mahu lepas meninggalkan hijrah jauh. Pasti dia dan rakan-rakannya akan bertancap menjegat para Belanda yang sudah di musuhinya itu. Ya Allah, janganlah kau cabut anakku dari jalanan perjuangan panjang. Berikanlah kepadanya waktu yang luas untuk menyambung nyawa yang lebih panjang, biar perjuangan ini, tidak dengan darahnya berhamburan, tetapi atas akalnya yang panjang dan luas. Ya Allah, dialah satu-satu anak kami, selamatkan dia! Kami gandaikan nyawa kami buat gantian jika itu perlunya. Begitu luhur dan tulus kasih sayangnya Pak Dolmat dan Ibu Aishah pada Manan, kerana mereka sadar di situ, ditubuh Manan itu adalah perjuangan panjang yang tidak boleh dikorbankan secepat ini. Pak Dolmat dan Ibu Aishah menadah tangan, perlahan-lahan menetes air mata, memohon keselamatan akan anak wira tunggalnya yang nafsu amarahnya sudah terbakar panas.

Alangkah leganya perasaan Manan dan rakan-rakannya. Sebetulnya sekumpulan sepuloh anak muda dari Betawi, telah berlepas dengan dua perahu layar menyusur barat pantai Jawa, atas niat mahu ke Acheh. Di sana, rencananya mahu mengumpul kekuatan bagi membuat gempuran ke atas Belanda melalui Bandung. Namun kerana gelora Selat Melaka, mereka membuat keputusan untuk berlabuh sementara di Muara Palembang. Manan, menjemput, rombongan pemuda-pemuda Betawi-Jawa ini yang diketuai, Marikan untuk ikut dan istirehat di Desa Tualang. Malam itu Manan dan Marikan saling bertukar-tukar cerita tentang kerakusan dan kebiadapan Belanda di Betawi. Paling membakar jiwanya Manan, betapa bangsa Betawi kini juga sudah hilang budaya dan jati dirinya dalam gentingan gitar dan gemersik dansa Belanda.

Selat Melaka terus saja bergelora. Kerana tidak mahu membebankan masyarakat Desa Tualang, sebahagian dari pemuda-pemuda Betawi ini memutuskan untuk ke Padang dan langsung seterusnya ke Medan melalui denai-denai hutan tropika Sumatra. Marikan berencana mahu ikut Manan ke Kelang. Dia sebetulnya sangat kepingin mahu ke sana. Pamannya, khabarnya sudah menetap di Batu Pahat, negeri bahagiannya Johor. Dia mahu ketemu adiknya, Nur Hidayah yang telah sekian lama di bawa pamannya lari dan menetap di Batu Pahat. Sudah dua puloh tahun lamanya dia tidak ketemu adik kesayangannya itu. Rindunya amat tinggi dan dia mahu pasti adiknya dijaga dengan sempurna oleh pamannya.

Marikan mahu, agar Nur Hidaya tahu, bahawa, dia masih punya saudara, dia bukan sebatang kara. Kepingin sekali dia melepas rindu pada adiknya itu, kerana dia pasti, di mata Nur Hidayah, pasti tersimpan pancaran sirna kasih ibunya yang telah gugur akibat musibah kesengsaraan penindasan Belanda. Ayah, dan dua adik-adiknya turut gugur kerana henyakan kemiskinan dan sekitaran perkampungan yang kotor dan jijik, yang membiak segala penyakit menulari dan membunuh sebahagian anak-anak kampung. Semua ini, adalah kerana si Belanda bangsat yang telah merampas segala kekayaan hasil keringat mereka sedang kehidupan mereka tidak di pelihara sebaiknya. Hatinya Marikan, begitu marah dan dendam akan Belanda.

Tiga orang dari rombongan asalnya, Sukar, Mahpol, dan Kurian mahu ikut dia ke Malaya juga. Marikan adalah ketua mereka sekampung. Mereka telah ikat janji akan sehidup semati. Ke mana Marikan pergi, mereka akan membontot saja. Biar ke lubang kubur sekalipun.

Genap sepekan, Manan, Marikan, Sukar, Mahpol dan Kurian belayar ke Riau. Biarpun masih agak bergelora, mereka tempuhi saja gelora samudera Melaka. Mereka khuatir, nantinya jika dilambat-lambatkan, Osman akan kebinggungan, dan mungkin akan ke Malaya tanpa mereka. Tiga harian mereka meyusuri pantai dan celahan pohon-pohon bakau gugusan Riau untuk sampai ke Desa Panji Alam, kampungnya si Osman. Perahu layar mereka kecil saja, dengan tanpa muatan yang banyak, bagi memudahkan mereka untuk dapat kelajuan yang lebih tinggi, dan jika perlu, bisa saja menyusup ke mana-mana anak sungai bagi melindung diri dari gelora samudera Melaka ini.

Setiba di Desa Panji Alam, Osman terus saja menjemput mereka ke rumahnya. Rumah Osman agak besar, kerana ayahnya, Pak Kechut adalah tukang kayu yang handal di rantau ini. Rumah limas Melayu asli, Melayu Riau. Lagipun, di sini, kayu-kayu keras seperti meranti, selangan batu, keruing, cenggal, dan kapur mudah di perolehi. Maka agak mudah untuk membina rumah yang lebih bagus dan besar di Desa Panji Alam. Masyarakat di sini adalah nelayan. Bertani adalah hanya kerja sambilan. Maka, sifat pelaut Osman, adalah waris asli masyarakat di sini. Perahu-perahu layar di sini tampaknya jauh lebih besar dari milik para nelayan di Palembang. Di Riau, para nelayan biasa merantau di laut yang lebih terbuka dan luas.

Malam itu, Osman mengumpul rakan-rakannya yang lain di rumahnya. Sapiee, Rasmadi, Yos, dan Bakar berkumpul dan saling berkenalan dengan Marikan, Sukar, Mahpol dan Kurian rakan-rakan pimpinan Manan. Inilah, anak-anak Melayu Riau dan Betawi-Jawa yang akan menyeberang Selat Melaka dan bercita-cita akan menjadi pejuang jati bangsa Indonesia. Mereka mengikat janji akan sehidup semati dan tidak sekali-kali akan khianat sesama sendiri. Perjuangan dan kepayahan bagai rantai yang mengikat utuh persaudaraan hati mereka!

Kesatuan mereka tampak kukuh dan teguh. Niat mereka, satu, memperkuat ilmu di dada, dan kembali membela memerdekakan sepenuhnya bangsa yang sengsara ditindas. Mereka sepakat, mengangkat Manan sebagai ketua. Mereka mahu semangat dan sifat kembara dan meneroka pada Parameswara yang sebati dalam darah daging anak-anak Palembang akan terus di warisi dan berkobar segar pada tubuh Manan yang sememangnya punya gaya kepimpinan yang jauh lebih hebat dari Marikan dan Osman. Melayu Palembang, hatinya keras, mungkin kerana sudah biasa di ganggu para macan dan para ahli sihir hitam yang kembang sama hebatnya dengan kembangnya agama Islam di Sumatra.

Dini hari itu, selesai solat subuh, perlahan-lahan dan senyap-senyap, perkumpulan sepuloh pemuda itu, menyelinap ke perahu layar mereka, dan berbekalkan satu iringan bacaan kusri dan doa selamat dari Pak Kechut, mereka membelah dingin-sepi subuh itu menetapkan arah ke Timur-Laut. Mereka seperti menjejaki Bahtera Parameswara, mengharung samudera, menuju Melaka. Naluri pelaut Osman, tahu bahawa angin subuh adalah jauh lebih tenang, dan itulah masa paling sesuai untuk belayar. Gelora laut biasanya tiba waktu agak sore, dan jika itu terjadi, pastinya mereka sudah jauh di tengah lautan, dan sudah terlalu lewat untuk berpatah pulang. Dalam perkiraan Osman, inilah satu-satunya cara, agar mereka terus tekad membelah samudera menuju arah tujuan asal mereka. Mereka pastinya akan tekad mengharungi apa juga halangan secara membujur lalu, melintang patah, dalam mencapai pesanan Pak Dolmat dan Pak Kechut. Semangat kejantanan mereka pasti tidak akan tergugat. Mereka mesti berpantang undur, maju terus!

MENJEJAK KASIH

Selepas tiga hari mengharung samudera Melaka tanpa gelora yang dihkuatiri, mereka mendarat di Kampung Laut, sebuah desa kecil pinggir pantai Melaka. Dari sana mereka menyusur pantai ke utara, dan seterusnyna memasuki sungai Melaka. Dari Kota Melaka, biarpun ke semuanya seperti separuh mati, mereka langsung menumpang kenderaan seadanya ke Kuala Lumpur. Dua hari perjalanan, barulah mereka dapat menjejakkan kaki ke Kg. Baru, Kuala Lumpur. Di Kg. Baru, mereka telah disinggahkan ke kongsi para kuli dari Indonesia dan di situ mereka menginap untuk dua hari bagi menghilangkan segala kepenatan. Di kongsi ini, mereka dapati, anak-anak Indonesia, Tionghua, dan India sedang dalam upaya untuk di hantar ke kongsi-kongsi pekerja kontrak di ladang-ladang karet, lombong timah, dan besi yang sedang gigih di usahakan oleh para pengusaha Inggeris dan beberapa taikor Tionghua.

Para kuli itu, kelihatan kurus, mata ke dalam. Jalanannya goyah. Entah seberapakah sisa daging yang masih melekat di tubuh mereka. Semuanya, semangat merdeka mereka sudah jauh pergi, kini cuma ingin untuk hidup sehari-hari menanti mati. Mereka sengsara yang bukan sedikit dalamnya. Beginilah, bila kita sudah jadi lemah, ke manapun kita lari, tetap juga sengsara menyambut datang.

Bukan kepalang sakit hatinya Manan, melihat segalanya ini. Di negara tumpah darahnya, dia lari dari penghambaan, tetapi di sini dia seakan-akan tengah terjerumus di kancah penghambaan, juga dari bangsanya Bule, di sini bukan Belanda tetapi Inggeris. Tiada bedanya. Ke mana saja Melayu, tampaknya kudratnya adalah penghambaan. Dia menjadi pilu, sakit, kecewa, dan menangis tanpa air mata. Nafasnya tertahan-tahan. Marahnya bukan kepalang. Osman dan Marikan berusaha keras mententeramkan jiwa marahnya Manan. Tidak mengapa, esok kita ke Kelang. Di sana, kita cari paman saya. Kita akan mulakan segalanya di sana.

Subuh itu, kesepuloh mereka menyusup lagi ke tiga buah gerobak barang menuju ke Kelang. Agak seharian, di jalan yang berlobang-lobang, bengkang-bengkok dan becak di sana sini, barulah mereka sampai ke Kelang. Tulang dan tubuh mereka seperti diinjak-injak kerbau sawah rasa penat dan sakitnya. Sesampai di Kelang, mereka menuju ke pasar dan bertanya-tanya kepada sesiapa saja yang tahu di manakah boleh dapati penempatan para penghijrah dari tanah Jawa dan Sumatera. Malangnya, mereka di suruh ke Banting atau Tanjung Karang. Di dua daerah ini, banyak penghijrah dari Tanah Seberang telah berkampung di sana. Sekali lagi, mereka terpaksa menumpang seadanya kenderaan ke Tanjung Karang.

Kerana kasihnya Allah yang maha esa, di Tanjung Karang dengan mudah di ketemukan Osman dengan Pamannya Pak Kadir. Bukan main girangnya, pertemuan dua sedarah sedaging ini. Pak Kadir yang sudah hampir dua puloh tahun tidak pernah pulang ke Riau, sangat gembira ketemu anak adiknya, Pak Kechut. Pak Kadir mengusahakan tanaman padi, kebun kelapa, pisang dan segala macam buah-buahan. Namun tanah miliknya tidaklah seluas mana, cuma lima ekar sahaja. Biar hanya kecil, kerana hasil jualan usahanya boleh mendapat harga yang agak baik, maka kehidupan Pak Kadir jauh lebih lumayan dari kehidupan asalnya di Panji Alam, Riau.

Penduduk di Sungai Burung, nama kampung Pak Kadir, mereka terpaksa berkongsi tanah sama dengan penduduk Melayu asli di sini. Istimewanya, orang-orang Melayu asli ini sangat pemurah dan baik masyarakatnya. Tampak tidak wujud perbedaan penerimaan layanan mereka kepada bangsa Melayu, Jawa, bahkan Banjar dari Indonesia. Mungkin inilah apa yang dikira sebagai jiwa bangsa serumpun yang dimiliki kedua belah bangsa ini.

Di Kampung Sungai Burung ini, tampak anak-anak di sini tidak ke madrasah, tetapi ke sekolah-sekolah Melayu, berkemeja putih, bersongkok hitam, tidak berkupiah putih. Cuma yang samanya, mereka tetap berkaki ayam! Manan, Marikan dan Osman saling berpandangan antara satu sama lain melihat anak-anak ini berbaris-baris berboyong-boyong ke Sekolah Melayu, seperi para bangau sedang terbang pergi kayaknya. Mungkin inilah apa yang di ceritakan oleh Pak Dolmat, ayah Manan, tentang kebijaksaan akal orang Melayu Malaya, bisik hati mereka. Ya, orang Melayu mahu anak-anaknya berjiwa putih, sedang otak-fikiran mereka harus hitam. Fikiran hitam, yang mengambarkan tekad mereka untuk hidup secara lebih praktis, otak yang terisi dengan segala ilmu kehidupan, selaras dengan tuntutan dunia. Ya punya fikiran yang praktis, sedang hatinya mesti putih! Inilah pelajaran kebijaksanaan pertama Melayu Malaya yang sedang mereka perhatikan.

Setelah sepekan di Sungai Burung, Marikan mahu berangkat ke Batu Pahat. Dia mahu menjejaki adiknya Nur Hidayah. Marikan tetap di temani saudara-saudaranya dari Betawi, Sukar, Mahpol, dan Kurian. Manan ikut sama. Dengan menaiki bus usang, jalan tersekat-sekat, mereka menunju balik ke Kuala Lumpur, dari sana mereka, berencana akan menaiki apa saja kenderaan yang boleh membawa mereka ke Batu Pahat. Dua hari perjalanan menumpangi lori terbuka, tanpa atap, hujan dan panas di tempohi lima bersaudara ini, sempat singgah seketika melepas kesakitan seluruh badan di Seremban dan Melaka, akhirnya mereka di unjukkan di pasar Batu Pahat. Di sana, mereka bertanya, di mana adanya penempatan anak-anak hijrah Tanah Jawa atau Sumatra. Masyarakat dagang di Pasar Batu Pahat, kebetulan sebahagiannya adalah para penghijrah dari Tanah Jawa dan Bugis, maka mudah saja bagi mereka menjejaki paman Marikan, Wak Kerto bin Mortopo. Mereka di suruh ke Parit Sulong, di sana boleh ditemui, Wak Kerto.

Wak Kerto adalah imam surau Parit Sulong. Kerana usianya yang sudah jauh melewati separuh abad, dalam 70an, maka dia tidak ada kerja lain melainkan mengimami dan mendidik anak-anak Parit Sulong mengaji dan sembahyang. Bukan kepalang girangnya Marikan mendapati pamannya masih hidup. Terus saja dia minta seorang kenalan baru, Loso, yang kebetulan adalah anak muda jawa dari Sukabumi, Desa Pinggir Betawi, kini telah hijrah ke sini sejak lima tahun yang lepas, membawanya ke Parit Sulong. Setiba di surau Parit Sulong, kelihatan seorang tua, terbongkok-bongkok, pipi berkeriput, mata yang agak sayu, dengan terbatok-batok menyahut salam Marikan dan teman-temannya.

Apa bapak ini Wak Kerto bin Mortopo, dari Jalan Guntur, Betawi Barat, tanyai Marikan kepada orang tua itu. Saya, Marikan anaknya Pak Hirman bin Wahid, dari Betawi. Ya, saya Kerto yang kau maksudkan anakku. Ibumu pastinya Tuminah anak Hj. Mersat. Yah, Pak jawap Marikan dan tanpa membuang masa terus saja dia mencapai tangan kurus, namun lembut dan menggigil-gigil Wak Kerto lalu menciumnya sepuasnya. Wak Kerto didakapnya erat. Sampai terbatuk-batuk Pak Kerto kesempitan nafas dalam dakapan tumpahnya kasih dan kerinduan Marikan.

Wak Kerto adalah saudara tertua keluarga sebelah ayahnya. Wak, ayah dan ibu sudah meninggal dua tahun sudah, bisik Marikan ke telingga orang tua itu. Mereka terkecundang kerana serangan malaria. Bukan hanya mereka berdua, malah adik saya Zubaidah dan Aminah juga turut terkorban. Kini saya hanya punya Nur Hidayah dan paman untuk menyambung kasih. Dengan bibir terketar-ketar, air mata mulai mengenangi mata tua Wak Kerto, seluruh badannya bergoncang, tanda kesal kerana tidak punyai kesempatan menemui adik kesayangannya, Hirman. Dia masih ingat, bagaimana akrabnya dia berdua, sering saja ke sana sini menyusur batas-batas sawah, memancing lele dan gabus buat gulai lemak hidangan sekeluarga. Selepas panen, dan sawah dikeringkan, mereka akan cukup berakal memerangkap burung terutut atau puyuh dan wak-wak.

Jalan Guntur, Betawi sungguh damai dan makmur sehinggalah datangnya Bule Belanda, menghambakan dan membikin seluruh warga Betawi sengsara di peres tulang dan keringat mereka mengkayakan Bule-bule penjajah itu.

Maaf Wak, ini teman-teman saya, Sukar, Mahpol, dan Kurian mereka dari Betawi, juga dari Jalan Guntur. Ini Manan, dia dari Palembang, perkenal Marikan rakan-rakanynya yang hampir dilupakannya, mereka yang sudah lama tercegat terpegun dan simpati akan bertautnya kasih kedua tubuh manusia di depan mata mereka. Dengan senyum terpaksa, sambil masih kabur digenangi air mata suka berbaur duka, Wak Kerto menghulur tangan bersalaman dengan semua mereka. Ayuh kita ke rumah, ajak Wak Kerto. Adikmu, Nur Hidayah ada di sana, katanya sambil terus berpegangan tangan dengan Marikan, seakan dia sedang membimbing adiknya si Hirman, ayahnya Marikan, melalui denai-denai sawah di pinggir kota Betawi.

Air mata Wak Kerto pelahan-lahan terjun dari kelopak maatnya. Tangan Marikan digengamnya kuat. Hatinya sangat rindu pada adiknya Hirman, yang kini rohnya hanya dapat di rasakannya sedang meniti dari tubuhnya Marikan. Semua yang melihat tragis tautan kasih ini, juga melimpahi air mata masing-masing, menetes mengiringi di setiap langkah dari surau ke rumahnya Pak Kerto.

Assalamualaikum! Hidayah! Seru Wak Kerto, sesampai dia di muka pintu rumahnya. Waalaikum salam. Sahut suara lembut tenang. Dengan penuh hormat, menundukkan wajah, Hidayah, menyambut dan terus membimbing Wak Kerto ke kerusi malasnya di ruang tamu. Hidayah, ini Marikan, kakakmu, katanya sambil menepok-nepok bahu Marikan. Nur Hidayah, hanya berdiri kaku. Abang saya, abang yang selalu Wak ceritakan tu, tanya Hidayah terperanjat besar.

Tanpa sadar, Nur Hidayah terkulai layu disambut cepat oleh Marikan. Marikan memeluk erat adiknya. Seluruh kasih dan kerinduan Marikan tumpah bagai air terjunam selepas luruhntya hujan deras. Mereka saling berpelukan erat, saling menciumi pipi, tangan, dan mengusap-ngusap keras lengan dan badan masing-masing. Abang, telah terlalu lama hati ini, menanti saat pertemuan ini. Setiap malam Hidayah berdoa sepanjang yang mungkin untuk hadirnya saat ini. Hidayah seperti merintih, menagih kasih dari saudara sedarahnya.

Pelahan-lahan Wak Kerto bangkit dari sandaran kerusinya, mengusap-ngusap pundak kedua ponakkannya. Sudah nak. Kita harus tenang kini. Kita harus istirehat dulu. Sarannya Wak Kerto.

Bila abang sampai? Mana ayah dan ibu? Mereka tak ikut sama? Kenapa mereka tak ikut sama? Abang dah makan? Bertubi-tubi soalan di kemukakan Hidayah kepada abangnya. Maaf bang, Hidayah tak biasa bercakap macam orang Jawa. Abangpun tahu, saya datang ke sini, sejak dari umur sangat kecil lagi. Air matanya di kesatnya dengan lengan baju kebaya hijaunya.

Syukur Hidayah, kamu sudah dewasa. Kamu sangat manis. Kakang seneng ketemu kamu. Sangat bersyukur, sekurang-kurangnya, kakang masih ada kasih sedarah. Ya, buat ayah dan ibu, kamu banyakkan saja berdoa untuk mereka. Pastinya doa kamu akan membahagiakan mereka. Kamu juga punya dua lagi saudara, doakan saja kesejahteraan pada mereka. Usah khuatir mereka aman saja. Tanpa mahu menceritakan yang sebenarnya kepada adiknya yang baru saja ditemuinya ini. Dua puloh tahun mereka terpisah, kini Hidayah sudah berusia 22 tahun dan biar sudah cukup dewasa, namun dia tidak mahu menghancurkan rasa bahagia pertemuan ini, dengan berita celaka keluarganya. Nanti, sedikit masa lagi dia akan ceritakan semuanya.

Abang datang ini, atas urusan apa?, tanya Hidayah. Hidayah, lebih baik kamu, siap-siap makanan, dan biarlah mereka ini semua istirehat dulu. Kamu dan kakang kamu punya masa yang cukup banyak untuk saling mengkhabari. Biar mereka istirehat dulu. Usul Wak Kerto pada ponakkannya itu. Hidayah beredar lalu, membongkok lewat di depan abangnya.

SEMANGAT ANAK MANDIRI

Seperti biasa Osman, sangat rindu pada laut. Memang dasar anak pelaut. Tidak mahu betah, bertani saja. Kalau tidak ketemu laut, pasti hutan belantara di redahnya. Pak Kadir sudah tidak mahu menasihati apapun pada Osman. Dia mengerti benar akan tabiat anak pelaut ini. Biar dia kembara terus. Nanti sampai masanya, mendarat juga akhirnya dia.

Osman, kerana ada sedikit persekolahan, tamat sekolah dasar, boleh menulis dan membaca dengan baik, dia yakin, kebolehan itu cukup bagus baginya untuk mencari rezeki di Kuala Lumpur. Dulu, memang dia mahu ke Kota Betawi untuk cari kerja di sana, lantas gara-gara kedatangan Bule, cita-citanya terhenti di situ saja. Hanya tiga purnama dia di Sungai Burung, dia pamitan sama Pak Kadir dan terus menumpangi lori gerobak ke Kuala Lumpur. Di sana, dia menetap bersama beberapa orang teman di Lorong Raja Muda Musa, di Kg. Baru. Dari rumah sewaannya, mudah saja dia ke Kantor Tanah , bagi mendapat kerja sebagai jurukur. Kebetulan banyak kerja ukur tanah sedang diperlukan bagi pembangunan dan pembesaran jalan-jalan baru di Kuala Lumpur. Kuala Lumpur tampaknya kian kembang akibat penemuan banyaknya longgokan timah di Sungai Besi. Banyak pelombong Tionghua dari serata Malaya, mulai berpusu-pusu ke Kuala Lumpur. Urusan dagang di Kuala Lumpur juga kian kembang pesat.

Setahun lamanya Osman kerja kontrak di Kuala Lumpur. Dia begitu bangga sekurang-kurangnya, dia ikut dalam permulaan pembangunan Jalan Tuanku Abdul Rahman, Jalan Pudu dan Lebuh Pasar. Pasar Benteng, duduknya di seberang Masjid Jamek, yang dibangun masyarakat Tionghua, adalah nadi asalnya KualaLumpur. Masjid Jamek, di persimpangan Sungai Gombak dan Kelang adalah tempat di mana dia selalu melepas lelah, sebelum menyusur lorong-lorong batu dan tanah becak untuk kembali ke rumah sewanya di Kg. Baru. Begitulah hidupnya dia saban hari, ulang alik berbasikal melewati lorong-lorong tanah becak, dari Lorong Pudu ke Kg. Baru, bermula seawal usai subuh sehingga selepas isya. Dia seringnya maghrib di Masjid Jamek dan Isya di surau Kg. Baru.

Osman sesekali berbicara pada dirinya, ya lorong-lorong becak Kuala Lumpur, mungkin juga nama itu di mulai di titik terbinanya Masjid Jamek, iaitu di muara hasil pertemuan Sg. Kelang, di kanan dan Sg. Gombak, di kiri, dan dari sana terus sepanjang Lorong Tuanku Abdul Rahman, Ke Pudu dan Pasar Besar, lorong-lorong yang becak berlumpur. Muara yang berlumpur. Kuala Lumpur. Pasar Benteng ini, kerana sifatnya pasar, sering jadi tumpuan ramai. Bila hujan, pasti keributan manusia dagang dan pelanggannya, membuat sekitar Pasar ini berlumpur seperti danau kubangan kerbau. Muara yang berlumpur, becak, hanyir, itulah tempatnya dinamakan Kuala Lumpur. Begitulah perkiraan Osman, bagi memuaskan dirinya akan asal terciptanya nama Kuala Lumpur. Dia tersenyum, setidak-tidaknya dia punya cerita yang bisa dia khabarkan tentang asalnya Kuala Lumpur!

Osman menerima khabar dari Riau, adiknya Aminah sudah ikut turut hijrah ke Tanah Melayu. Dikhabarkan, dia ke Telekong, Kelantan, kerana mengikut dan menjadi pembantu kepada pamannya mengajar di Pondok Tok Rashid di Telekong. Lantas, dengan menaiki keretapi dia terus ke Kota Bharu dan dari sana terus saja ke Telekong. Setelah puas bahawa, adiknya adalah selamat, serta punyai kehidupan yang agak terjamin, dia kembali pulang ke Kuala Lumpur dan seterusnya menyusuri Marikan di Batu Pahat.

Di Batu Pahat, Marikan dan Manan mencuba menjalani kehidupan baru. Mereka membantu Wak Kerto membuka tanah baru, atas izin Sultan dan pembesar Batu Pahat. Namun mereka tidak dapat membuka tanah seluasnya, biar mereka punya upaya yang sangat teguh. Unus, Mahpol dan Kurian, pemuda-pemuda petani Betawi, sangat suka bertani dan bila-bila saja akan mahu membantu. Mereka menanam kelapa, pisang, segala macam ubi, namun mereka agak sukar untuk bersawah. Tanah Parit Sulong adalah tanah paya gambut. Tidak sesuai untuk bertanam padi. Itik dan ayam merteka pelihara, dan saban hujung minggu pasti menghantar sebahagiannya ke Pasar Batu Pahat di jual sama taukey-taukey Tionghua di sana.

Marikan, Manan, Osman, dan bahkan seluruh rakan-rakan hijrah mereka sadar bahawa sangat berbeda Tanah Melayu ini berbanding Tanah Jawa, Sumatra bahkan Riau. Di sini, desanya hidup cukup aman. Tidak diganngu para Bule. Mereka dibiarkan menjalani hidup sendiri-sendiri. Mungkin kerana adanya para Raja-raja Melayu maka Bule Inggeris tidak mahu menggugat kerukunan masyarakat Melayu ini. Atau juga mungkin, seperti di baca mereka di koran, bahawa masyarakat India di India sudah bangun memberontak akan pemerintahan Inggeris kerana tidak setuju dengan cara Inggeris mengurusi hal-hal negara mereka. Di India, Inggeris sudah merosakkan segala aturan azali pemerintahan di sana, raja dijadikan hamba rakyat, dan rakyat dijadikan raja. Segalanya dikebalikan. Maka, mungkin dengan ini, di Tanah Melayu, segalanya dibiari seperti azali, agar tiada timbul pemberontakkan.

Manan juga yakin, anak-anak desa Melayu dibiari di mana dan dengan apa saja yang mereka buat, itu bukan atas tidak mahu mencampuri urusan namannya. Mereka sedang di pinggiri dengan halus. Biarlah orang-orang Melayu dengan desa dan hidup bertaninya. Sedang di kota-kota Tanah Melayu, Kuala Lumpur, Pulau Pinang, Melaka, Singapura dan segalanya sedang tumbuh para pengusaha dari Tioghua dan India. Mereka ini jadi masyarakat dagang dan pengusaha yang kian hebat. Mereka inilah akhirnya jambatan kekayaan para Bule, sedang anak pribumi akan terus hidup di desa terpinggir dari arus kemajuan yang lebih hebat dan lebih bermakna. Masyarakat Melayu hanya akan terus tumbuh seadanya, dan suatu ketika nanti, bila telah kembang biak terlalu ramai seperti bangsa Jawa, Bugis, dan Madura, pasti kemiskinan dan sengsara akan menghimpit mereka. Orang-orang Melayu akan tidak boleh berdagang, biarpun agama mereka sudah mengusul sembilan puloh peratus rezeki hidup adalah dari dagang. Mereka akan terkeluar dari kota-kota besar Tanah Melayu.

Juga, diperhatikan di Tanah Melayu, anak-anak Melayu yang berpelajaran, sangat di kasihi Bule Inggeris. Mereka diangkat jadi pemerintah negeri dan desa. Mereka juga di beri gelaran pelbagai namanya, ada Datuk, ada Temenggung, ada Penghulu, ada segala yang membuat orang-orang Melayu di sini merasa mereka adalah Tuan di Tanahair sendiri. Cuma, kadang-kadang timbul dalam benak Manan, bukankah ini juga penjajahan secara halus. Bule Inggeris ini sedang mempergunakan para sultan dan raja-raja Melayu, untuk menguasai sepenuhnya, bahkan menghambakan fikiran anak-anak Melayu. Pasti nanti anak-anak Melayu ini akan lalai dengan segala pangkat dan gelaran yang tiada taringnya, melainkan hanya untuk jalan menghambakan orang-orang Melayu. Wah, hebat sungguh buah fikiran Bule ini, siapapun mereka, pasti hatinya mahu saja untuk terus menjadi penjajah. Semua ini membuat Manan, terus tidak aman.

Sesampai saja Osman di Batu Pahat, Manan dengan tegas mengatakan dia mahu keluar dari Tanah Melayu ini. Dia kian jijik melihat bagaimana masyarakat Melayu dan juga masyarakat Jawa, Riau, Bugis, Acheh dan segalanya sudah mulai di jajah di bumi Tanah Melayu ini. Dia mendapat khabar, bahawa di Kalimantan, di Kota Sambas, terbangun sebuah keraton, ada raja yang masih asli. Sambas masih bebas dari segala pengaruh Bule-bule. Dia berkira, mereka sepuloh orang ini, boleh membangunkan suatu kehidupan yang lebih pasti di Sambas, sekurang-kurangnya di Tanah Indonesia sendiri. Dari sana, mungkin mereka boleh mengatur jalan pulang lewat Pontianak dan langsung ke Betawi, yang kini, khabarnya sudah di tukar jadi Jakarta.

Osman, kerana sudah faham benar akan pendirian Manan, dan pandangan siasahnya, akur dan mengusul agar mereka bertolak saja ke Singapura. Dari sana mungkin ada kapal dagang yang akan ke Sambas. Mereka boleh naiki kapal itu nantinya. Marikanpun setuju dengan pandangan Manan dan Osman. Maka kumpul segala sepuluh penghijrah, dan bersiaplah mereka untuk ke Sambas.

Di Singapura, mereka ke Tg Katong. Di sana ramai pelaut dari Bantam. Seperti biasa, Osman yang lebih arif tentang laut dan kehidupan pelaut, memulakan perundingan dengan pemilik kapal dari Bantam. Perjalanan dengan kapal api dari Singapura ke Sambas, lewat Bantam, makan masa seminggu. Melintas Laut Natuna, yang kadang-kadang jauh lebih ganas dari Selat Melaka. Setelah putus segala, dengan berbekal wang yang terkumpul sekalian mereka perolehi semasa di Batu Pahat dan Kuala Lumpur, di beli sebuah kapal kecil pelaut Bantam dengan harga 800 ringgit, lengkap segala.Ianya bukanlah kapal sebenarnya, hanya sebuah perahu layar yang agak besar dan punya sebuah enjin api yang kecil, buat terus melayarkan perahu bila angin sudah mati atau kecil saja tiupannya.

Sudah lima hari di laut, kini tampak puncak gunung yang biru di kejauhan. Agaknya dalam separuh hari perjalanan, pasti mereka akan mendarat ke pantai. Bukan kepalang girang Manan dan rakan-rakannya. Mereka melaungkan Allahuakbar, tanda syukur di atas peliharaan Allah disejauh perjalanan mereka. Namun, Osman agak sangsi dengan hadirnya gunung itu. Dia tahu, dari cerita bapanya, Sambas letaknya di tanah paya, rata, maka tidak mungkin gunung itu, gunung Sambas. Sambas tidak ada gunung! Kesangsian Osman, kian jelas, lantas, terus disergah Manan, apa ini Osman, kau yang mengemudikan kapal ini, masakan kita sudah berpatah ke Tanah Jawa. Tidak mungkin itu Gunung Merapi. Tiada asap merapinya. Tidak mungkin. Di mana kita agaknya. Kini seisi kapal sudah semakin sangsi. Ah, bentak Marikan, di manapun kita, di bumi Allah juga adanya. Sedang ulat dalam batu, boleh hidup, kenapa kita yang siap punya otak dan anggota yang lengkap tidak berani untuk menempuh ke mana dan apa saja di bumi Allah ini. Lihat si Bule-bule itu, apa mereka ketahuan apa di hadapan mereka. Yang ada pada mereka adalah keberanian dan akal yang panjang. Kita juga harus sama saja seperti mereka. Ayuh, usah khuatir, Osman, dan Manan jangan kau mengherdik lagi, nanti boleh kocor semua teman-teman kita yang lain.

Ya, kini, anak-anak hijrah ini, sudah menampakkan firasat masing-masing. Manan dan Osman, kerana darah Melayunya, lebih gemar pakai hati kasarnya, sedang Marikan, kerana darah Jawa, lebih gemar berbicara dengan kata hati halusnya. Namun, gabungan keduanya, pasti ada tindakan yang tangkas tapi penuh perhitungan. Maka, dalam apa juga bicara, Manan dan Osman pasti duluan, sedang Marikan akan mengambil sedikit masa untuk menyatakan pendiriannya. Tapi bila saja dia sudah membuat keputusan, maka dia tidak akan berpantang alah, tidak akan menoleh kebelakang. Perjalanan panjang dan payah yang telah mereka lalui selama setahun lebih ini, telah mengajar mereka akan kesatuan yang abadi. Kesatuan atas dasar perhitungan yang cermat, dan tindakan yang tangkas. Tiada apa yang harus dipersiakan. Itulah ikatan setiakawan sepuloh bersaudara ini, biar darah mereka tidak pernah dari satu.

KARAMNYA KESATUAN BERSAUDARA

Dalam mereka masih berkira-kira tentang rencana seterusnya, tiba-tiba di ufuk barat awan hitam sudah memekat. Angin ribut sedang bertiup kencang hala ke Timur menghambat perahu mereka. Layar putih yang tadinya begitu damai kini tegang seperti mahu terkoyak digempur angin ribut entah berapa kuasa tiupannya. Osman, mengarah agar layar diturunkan, dan enjin api dihidupkan. Dia mahu mengimbangi gempuran ombak dari buritan perahunya. Namun belum sempat mereka mematuhi arahan Osman, segalanya telah bertukar menjadi tidak karuan. Perahu layar mereka sudah terlalu sukar untuk di kawal. Ia menyusur bergitu kencang dalam tiupan ganas angin ribut yang datang menyerang bersama butiran-butiran hujan yang sangat lebat dan pedih bila menikam tubuh-tubuh anak hijrah tersebut. Sesekali ombak besar melambung perahu itu seakan-akan melambung tinggi sampai entah ke langit mana. Kecut habis urat perut para anak-anak hijrah itu. Muka mereka pucat dan bibir terketar-ketar lantaran kerana kesejukan dan kekhuatiran yang teramat sangat. Beberapa tali layar sudah putus. Ini menambah sukarnya bagi Osman untuk mengawal hala perahu itu. Kayu palang layar, sudah tidak dapat dikawal, ianya berhanyunan dan boleh saja menjadi senjata pembunuh yang maha hebat. Manan dan Marikan dapat menyentap tali ikatan tengah palang itu, lantas membuangnya di bawa ombak menganas. Kini cuma tinggal tiang seri layar, dengan kain layar yang koyak berkibar berpecah-pecah. Namun, kerana ombak yang tinggi, angin ribut yang kuat, tiang seri ini pasti membawa padah yang tidak kurang hebatnya kepada para anak kapal tersebut. Bila-bila saja perahu ini boleh terbalik, kerana tiada kestabilan.

Senja yang tadinya damai dan meyakinkan kini bertukar perlahan-lahan menjadi gelap gulita. Osman, tidak hilang akalnya. Dia mengarahkan semua anak-anak kapalnya supaya membuka semua pakaian mereka, hanya berkatok kolor, biar, jika terjadi apa-apa musibah, mereka akan dapat berenang dengan lebih mudah. Dia juga mengarahkan agar mereka berpaut dengan kuat di tali-tali ikatan pinggiran perahu.Dia berpesan agar mereka terus saja berpaut kuat pada tali-tali itu. Dia tahu, kerana, angin dan ombak sedang memukul dari buritan, pasti jika kapal ini karam atau pecah sekalipun pasti mereka akan di pukul ombak ke pantai juga akhirnya. Bertahan pada tali-tali itu, sekurang-kurangnya mereka akan dapat mengapungkan diri bersama apa juga sisa tubuh kapal itu nantinya. Dia pasti, kerana kapal itu terbuat dari kayu sepenuhnya, dan kayu pasti timbul dan boleh membantu.

Saat getir seperti ini, air mata ketakutan sudah tidak bermakna lagi. Ketakutan sudah berganti keazaman untuk mahu hidup, mesti hidup dan bersabung untuk hidup. Ketakutan dengan sendirinya bertukar menjadi bara untuk mahu hidup. Jiwa pasrah masing-masing kian menggunung, mereka masing-masing seperti sudah tahu, bahawa inilah ujian sendiri-sendiri yang Tuhan sedang jalankan. Keselamatan mereka sudah tidak tertanggung pada kesatuan setiakawan, ianya hanya tertanggung sepenuhnya pada kecekalan dan kudrat masing-masing. Halilintar kian sambung menyambung dan saling bersambaran dikegelapan ini, seolah-olah Tuhan sedang menhenyak kuat agar mereka gugur, dan hanya yang benar-benar cekal dan masih waras sahaja akan disambung nyawanya.

Osman terus saja bertahan memegang kemas kemudi perahu. Dia mesti pastikan perahunya tetap mendahului angin ribut ini. Dia sudah mengikat kemas, tubuhnya pada gagang kemudi perahu itu. Sebagai nakhoda, dia tahu, biar apapun terjadi, sumpahnya ialah biar dia hancur bersama perahunya. Dia mesti cekal tentang tanggungjawapnya untuk memastikan keselamatan anak-anak kapalnya. Biarpun dirinya perlu dikorbankan, yang lain mesti selamat. Terhuyung hayang dia menetapkan haluan perahunya. Hanya bunga-bunga pecahan ombak yang di sinari kilat menjadi pedoman haluannya.

Tetiba satu dentuman kuat terjadi, dikuti laungan Allahuakbar. Segalanya berterbangan, bertebaran, di udara dan lautan. Berkecai, terpisah, dihempas ombak ganas. Kemudian, hanya deruan angin, pecahan ombak dan simbahan hujan saja yang kedengaran. Sudah tiada lagi suara Osman, Manan, bahkan Marikan. Perahu mereka pecah terlanggar batu karang entah sebesar mana yang tersembunyi di dasar lautan. Omak dan ribut terus menganas. Nyawa dan kehidupan anak-anak kembara ini kini tergantung pada apa saja yang mereka capai, cebisan-cebisan papan-papan perahu pecah, apa saja. Kini, kesatuan mereka tengah teruji deras, tiada lagi mereka dapat saling membantu, hanya sesekali suara entah siapa, melaung sayup dan hanyut, hilang terlintas di telingga. Air mata, ketakutan sudah semuanya terbang, kini, masing-masing harus berjuang untuk hidup, sekuat usaha, berenang, entah kemana tujuannya dalam gelap yang sesekali diterangi panahan halilintar. Cuma, naluri mahu terus hidup, mengajar mereka, kerana tadinya ombak dari belakang, maka harus saja mereka masing harus jangan berenang menantang ombak, ikut saja, mudah-mudahan dengan izinNya, benar-benar izinNya, mereka akan bersatu kembali. Masing-masing seperti tahu, pasti ombak akan memukul mereka ke tepian pantai.

Siulan camar kian jelas membisik di telinga Osman. Terasa panas mentari membakar kulit tubuhnya yang hampir telanjang bulat. Sedang deburan anak-anak ombak menyentuh-nyetuh hujung jari-jarinya. Perlahan-lahan matanya terbuka, masyaAllah, di mana aku? Itulah semburan kata-kata pertama Osman, sambil tangannya mengagau pasir bercampur lumpur yang menyelubungi mukanya. Dia menguat diri memgumpul semua sisa tenaga untuk bangkit, biar payah, termanggu menadah langit, dengan linangan air mata antara duka dan sedih. Oh, Tuhan, maha besarnya Engkau, selamat aku rupanya. Ya Allah, ketemukan aku dengan semua saudara-saudaraku yang lain dalam aman, sambil menadah tangan sedang matanya liar mencari-cari di mana Manan, Marikan, Sukar, Mahpol, Kurian, Shapiee, Madi, Yos, dan Bakar. Di kejauhan, terdengar teriakan manusia yang muncul dari semak-semak di belakang pantai. Mereka berlarian menuju Osman yang kini sangat payah untuk berdiri apa tah lagi membawa diri

Para penduduk Kg. Teluk Melano, memapah Osman dalam usungan karung guni. Osman antara sadar dan mati, sudah tidak mahu memikirkan apa-apa. Mulutnya cuma tercungap-cungap bertasbih kesyukuran atas hadirnya manusia-manusia ini di saat genting ini. Dia terus saja tertidur mati.

Man, loh bangun! Seharian sudah kamu tiduran! Badan Osman terasa di goncang-goncang, sambil membuka perlahan-lahan mata beratnya, dia, wah alangkah girangnya dia melihat Manan dan Marikan ada di sisinya. Perlahan-lahan dia duduk mencangkung. Mana yang lain tanyanya pada Manan. Alhamdullilah, Dia masih sayangkan kita. Semuanya selamat, dan kamu adalah yang paling akhir diketemukan penduduk Kg. Telok Melanau ini, kita sekarang berada di negeri bahagiannya Sarawak. Kita kandas di sini, bukan di Sambas, bicaranya Manan. Syukurlah, kita semua selamat. Tidak ada yang celaka!

Petang itu, selepas menjamah sedikit makanan pemberian para penduduk Telok Melanau, Manan mengumpul semua teman-temannya di pantai. Osman, seperti tidak puas, terus saja memerhati keliling. Yah, katanya, Gunung di sana itu, itulah gunung yang kita lihat dari kejauhan lautan sana. Aku agak, kita sudah tersasar terlalu ke barat semasa pelayaran kita. Mengikut penduduk setempat, itu lah Gunung Puih, di kakinya terbina perkampungan Sematan, perkampungan para penghijrah dari Sambas yang sudah sampai ke sana mungkin sudah lebih separuh abad lamanya.

Osman pernah mendengar cerita terbinanya Sematan, semasa dia di Batu Pahat lagi, dari sana, katanya kita boleh ke kotanya Kuching. Mereka kini tekad mahu mara terus ke Sematan dan seterusnya ke Kuching. Keesokkan harinya, tanpa membuang masa, mereka seperti berbaris berjalan di sepanjang pantai Tg. Melano-Sematan, meninggalkan jejak-jejak panjang dan payah. Mereka perlu berlari-lari menghambat waktu bagi lari dari air pasang tinggi. Mereka tidak mahu terperangkap sampai ketiduran di pinggir pantai yang pastinya penuh dengan agas dan nyamuk.

Agak-agak remang magrib, mereka akhirnya sampai ke Sematan, lantas ke masjid terdekat, mohon sembahyang dan tumpang berteduh sambil menanti hari esok. Di Masjid mereka disambut baik penduduk setempat, diberikan makanan, dan persalinan. Malam itu semua mereka tidur mati, tubuh mereka terlalu lelah dan sakit-sakit. Hanya azan subuh bilal saja yang membangkitkan mereka. Selepas subuhan, mereka di undang Pak Imam untuk sarapan di rumahnya. Pak Imam, kebetulan adalah juga Kepala Desa Sematan.

Dalam sarapan, mereka berkira-kira mahu terus saja ke Kota Kuching, maka Pak Imam, menghulur saran agar mereka menumpang kapal dagang yang kadang-kadang akan ke Kuching. Mereka setuju, maka dengan jasa baik Pak Imam, mereka ketemu sama jurumudi tongkang dagang yang akan berlepas ke Kuching seawal subuh keesokannya.

Seharian di lautan luas, akhirnya menjelang remang senja, mereka mudik Sungai Santubong dan agak sebelum tengah malam mereka sudah berlabuh di Pasar Chekor. Subuh hari berikutnya, mereka terus meniti tebing menyusur Lorong Jawa, langsung ke Masjid Jamek Kota Kuching. Di Lorong Jawa, di antara rumah-rumah yang dilewati, kedengaran mereka yang betah berbicara Jawa, dan mereka pasti, mereka itu pastinya anak-anak Jawa yang datang duluan jauh dari mereka. Usai subuhan, mereka akan mohon bantuan mereka ini untuk perjalanan seterusnya.

Kebetulan juga di Pasar Chekor, ada beberapa pemuda Jawa sedang dagang satay, rojak, mee, dan segalanya di sana. Dari mereka ini, Osman mendapat petunjuk tentang beberapa perkampungan Jawa yang baru yang mereka boleh ikut bina. Osman, Mahpol, Sukar, Kurian, Yos, dan Bakar memilih untuk ke Jalan Arang. Manakala Manan, Marikan, Madi, dan Shapiee mahu ikut kelompok Jawa-Sambas ke Dahan.

RUMPUN YANG KEMBANG BIAK

Di Jalan Arang, Jalan Padang Terbang, Osman dan Sukar sudah berjinak-jinak dengan keluarga Bajeng. Wak Bajeng, yang punya dua pohon seroja yang kian kembang, Khartewi dan Bahiyah kian diintip Osman dan Sukar. Wak Bajeng, sadar akan telatah dua pemuda Riau dan Sunda ini. Dia secara diam membenarkannya. Dia berkira-kira, sekurang-kurangnya, darah Jawa dan anak bangsa Indonesianya akan terus lestari di sini, jika di izinkan Allah mereka bisa bersatu. Seperti pinta manusia, di restui yang Maha Esa, Sukar mengahwini Bahiyah. Tiada lama, hasil hidup Sukar-Bahiyah, lahirlah Remini. Hanya setelah sekian waktu, Osman juga turut menikah dengan Khartewi.

Belum sempat mereka mengecap kebahagian hidup berumah tangga yang hebat, di khabarkan bahawa Singapura sudah digempur manusia samurai yang pendek-pendek dari matahari terbit. Inggeris yang tampak besar dan gagah, sudah hancur berkubur dan sedang undur pulang lewat India. Wira-wira samurai kini, sedang mengempur kuat rantau Pasifik, memaksa semua bangsa hidung tinggi bertempiran ngak karuan. Mereka kini tampak sangat kerdil, kalah ditangan orang-orang pendek bulat berpanjikan matahari terang merah ini. Mereka sedang berlarian bertelanjangan bulat sperti tikus-tikus yang siksa di serang bala tentara semut-semut api. Juga ada seperti coro kudung. Sebilangan seperti keldai, menangis ngek-ngekkan ngak karuan.

Semua ini diikuti dengan penuh tekun oleh Manan. Hatinya sungguh girang, kembang. Ya, Bule-bule ini rupanya saja besar, selama ini kita cuma takut sama suara besarnya. Lihat, manusia Jepang yang jauh lebih kerdil itu, bisa mereka menelanjangi manusia bongkak, rakus itu, para Bule. Ayuh, kita sama-sama angkat tenaga, mengusir mereka terus dari bumi nusantara ini. Biar kita pribumi ini, di sini jangan diganngu, biar kita belayar sendiri, merempoh segala samudera biar seluas mana. Yah, dia seperti hidup selepas mati, melompat setinggi-tingginya, kita harus merdeka sakarang juga.

Namun, tanpa di sadari Manan, si pendek Samurai ini, juga punya angan-angan mahukan seluruh Asia tunduk kepadanya. Dia mahu bikin Asia-Japonika Raya kayaknya. Kini, mereka sudah mendarat di Kuching. Padang terbang sudah musnah diledakki sejak subuh tadi. Para pedagang kian menghulu Sungai Sarawak, mengosongkan Kota Kuching, sebelum tibanya Jepang.

Wak Bajeng sudah bukan kepalang gusarnya. Dia sangat khuatir akan keselamatan keluarganya yang baru tumbuh. Dia mengumpul anak-anak dan para cucunya, kita undur dulu ke Dahan dan dari sana kita harus terus ke Sadong. Sukar dan Osman ikut sama perundingan ini. Para Jepang ini, tidak kepingin ke desa-desa tropika itu. Mereka takut malaria. Mereka takut segala penyakit, yang sekiannya sudah menjadi sahabat mereka, mereka mahu undur saja ke Sadong sebelum mendaratnya Jepang, usul Wak Bajeng. Semua setuju turut undur, kecuali Mahpol yang sudah punya keluarga yang lebih tegep. Dia mahu pasrah saja di Jalan Arang.

Di Dahan, sudah kumpul beberapa keluarga lainnya mahu hijrah sama ke Sadong. Wak Bojeng, Manan, dan Marikan juga sudah punya rencana yang sama, mereka mahu menghilir Sungai Samarahan dan seterusnya menjauh ke Sadong. Bila rombongan Wak Bajeng tiba di Dahan, mereka tidak berlengah-lengah terus saja mendapatkan perahu-perahu layar yang sudah tersedia lantas mengilir Sungai Samarahan. Mereka harus bergerak di waktu malam, kerana tidak mahu dijejaki pesawat-pesawat Jepang yang sedang ganas meledakkan Kota Kuching. Semalaman belayar dalam dingin malam yang mengigit tajam, sebaik melawati Muara Samarahan, mereka terus menghala ke utara, dan bila remang fajar menyinsing, mereka sudah selamat di telan Mulut Sadong. Osman, tetap menjadi kapitan rombongan pelayaran ini, dan kali ini dia cukup hati-hati mengamati tiupan angin dan anak-anak bintang agar tidak tersasar lagi seperti sebelumnya.

Tidak berapa jauh dari Muara Sadong, mereka singgah di perkampungan nelayan, yang namanya Pendam. Di sana mereka mendapat khabar bahawa sudah ada anak-anak Jawa dan Bugis membuka kebunan di sini. Kerana tidak mahu rebutan sama masyarakat yang sudah ada, mereka meneruskan perjalan agak ke hulu sedikit. Di selekoh sebuah Tanjung dari Desa Pendam, mereka singgah di sebuah anak sungai bagi mengambil sedikit air buat bekalan seterusnya. Kebetulan, di muara anak Sungai Bundung, namanya, sudah ada penempatan kaum Dayak, yang sangat mesra dan simpati akan kepayahan yang sudah dilalui rombongan Wak Bajeng dan Wak Bojeng ini. Mereka mempelawa, rombongan ini untuk menetap saja di sini, dan membuka kebunan. Kaum Dayak ini mahu belajar hidup dengan msyarakat penghijrah ini, yang mereka dapati punya kepandaian yang jauh lebih tinggi dari mereka.

Tawaran Tuai Dayak, bernama Logom di terima baik oleh Wak Bajeng. Namun mereka telah di agihkan untuk ke hulu sedikit dari kawasan Bentang Sungai Bundung, dan kebetulan di hulu sedikit sudah ada seorang Bugis, bernama Daeng Loso sudah mulai membuka kebunan kelapa di sana bersama beberapa orang temannya yang lain. Dengan nasihat dan batuan Daeng Loso, Wak Bajeng, telah memutuskan agar keluarganya menetap saja di sini. Baginya, tanah di sini amat subur, bahkan lebih subur dari di Jalan Arang. Mereka pasti bisa lebih makmur di sini, usulnya Wak Bajeng. Osman, Sukar, Marikan, Yos, Bakar, Shapiee, Madi, dan Kurian ikut sama keputusan Wak Bajeng

Wak Bajeng, sanggat syukur atas kebijaksanaannya Allah, di bumi garuda asalnya, tidak pernah dia bermimpi menyatukan anak-anak Jawa, Bugis, Sunda, Riau, dan Sambas dalam satu kandang, di sini di bumi asing ini, di tanahnya Sadong ini, dia meneteskan air mata tentang kebesaran Allah ini. Mudah-mudahan kesatuan ini akan terus kembang dan gagah menjadi satu bangsa baru yang lebih gagah dan besar dari asalnya, Wak Bajeng menadah tangan isya, sambil di amini semua pengikutnya.

Bojeng mempunyai perkiraan lain. Dia mahu lebih ke hulu lagi. Dia berkira, seandainya dia dan Bajeng berpisah dan bangunkan perkampungan yang berbeda, jika ada kecelakaan apa-apa, mereka boleh saling membantu kemudiannya. Agak kurang selamat, jika semua mereka hanya menetap di Desa yang sama. Manan yang sudah mengintai-ngitai Nur Intan ikut saja saranan Pak Bojeng. Mereka terus menghulu keesokan harinya dan mampir di Desanya Simunjan. Di sana sudah terbina perkampungan Melayu Sambas dan Brunei. Ada juga penghijarh dari Banjarmasin turut sudah menetap di sana. Sudah agak besar Desa ini, dan tampaknya para penduduknya adalah amat mesra dan saling membantu. Jiwa Manan juga sudah bertaut pada Desa ini. Sawah padi dan sungai yang luas dan pastinya banyak ikan, mengingatkannya akan Palembang Kota asalnya. Kita netep di sini saja Pak Bojeng, saya bisa bikin sawah dan bina keluarga di sini, usul Manan, sambil mencuri mata Nur Intan. Pak Bojeng senyum manis mengerti maksudnya akan lirikan Manan pada anak sulungnya Nur Intan

TUMBUHNYA WARISAN WAK BAJENG

Tuai Logom dan Daeng Loso, banyak membantu Bajeng dalam membangunkan Desa barunya. Daeng Loso, dengan kerja keras rakan-rakan asalnya dan di bantu oleh rombongan Bajeng telah membuka dan memanjangkan Sungai Bundung sehingga jauh ke dalam hutan. Pembukaan Sungai Bundung ini, membolehka lebih banyak tanah akan dapat di buka untuk keperluan perkebunan rakyat yang kian tambah. Tambahan ke utara Sungai Bundung ini di namakan sempena kaum kerabat Deang Loso, iaitu Sungai Bugis. Siap membangun Sungai Bugis, Bajeng meminta bantuan Daeng Loso dan anak-anak buahnya membina anak sungai yang melintang ke Timur merentasi sempadan tanah Tuai Logom dan anak-anak buahnya di selatan.

Sedang yang lelaki gigih membuka hutan dan membikin kebunan, para perempuan rombongan Bajeng gigih mencari apa saja dibuat panganan. Paling mereka suka ialah menagang atau menangguk anak-anak udang sewaktu air pasang samada di Muara Sungai Bundung, atau Sungai Bugis, dan dikala itu, kerana air kalinya Sadong sangat di penuhi udang dan segala ikan, hasil tanggukan mereka sentiasa lumayan. Lebihan udang mereka tumbuki lumat jadi terasi biar boleh di simpan dan tahan sangat lama untuk bekalan terutamanya di waktu tengkujuh

Dimusim tengkujuh, terasi bakar sama cabek rewet adalah lauk yang paling enak dan kegemaran istimewa Wak Bajeng. Paling enak jika dibikin sambel ulek, bisa ngucur keringat, biar hanya makan dengan nasi kosong saja. Namun dia tetap syukur, kerana di sini anak-anak buahnya bisa nangkap gabus dan lele. Biar tidak punya kelapa tua untuk bikin masak lemak, di bakar dan di makan dengan air garam tumbukan cabek rewet saja sudah cukup untuk menyambung hidup esoknya. Daun-daun pakis, pucuk-pucuk ubi dan segala dedaun hutan sudah cukup buat sayuran. Sesekali mereka akan dapat menangkap rusa, kancil dan kijang.

Begitulah, mulanya hidup Wak Bajeng dalam membina Desa barunya. Rumah-rumah anak buahnya terbina dari anak-anak kayu bulat tersusun rapat buat lantei dan dinding, sedang tingkap dan atap hanyalah dari daun-daun nipah yang dianyam rajin para perempuannya Wak Bajeng pimpinan Ibu Nuriah, isterinya yang sudah penat dengan seribu dugaan dan kesengsaraan hidup, namun tetap setia bersama jiwa dan darah hidupnya Wak Bajeng.

Suatu hari, bila dia melihat, bahawa para pengikutnya sudah mulai aman, sudah punya kebunan masing-masing maka Wak Bajeng mengusulkan agar Desa ini harus dipisahkan dari Sungai Bugis dan Sungai Bundung. Masing-masing anak buahnya ingin menamakan dengan nama desa asal mereka. Sambil tersenyum, dia menepelak mereka, kalian di sini, selama ini, dihidupan apa? Cuba kalian harus punya jiwa terima kasih pada yang diinjak, yang jadi teman kalian, yang selama ini bisa buat menyambung nyawa dan kehidupan kalian, kita semua ini. Aku mahu, desa ini di namakan Desa Terasi, tegas Wak Bajeng. Wah, Wak, nanti semua orang tertawa jika mereka tahu nama desa kita Desa Terasi. Kok terasi yang mambu, dari tumbukan udang-udang yang mambu, kita namakan Desa ini sempena nama itu. Aduh Wak, cari saja nama lain. Orang di sini bilang, terasi itu belacan, pasti mereka tertawa besar kalau kita namakan desa ini Desa Terasi , Desa Belacan! Tidak, sudah terlalu banyak jasanya terasi pada kita, dan kita tetap namakan Desa ini Desa Terasi. Terasi adalah lambang kepayahan kita. Terasi adalah penyambung nyawa kita. Setidak-tidaknya, terasi adalah nama asal bahasa kita. Itu kalian mesti ingat dan mesti pertahankan, biar betapa kuat orang lain mahu tertawakan nama itu. Mendengar akan kesungguhan Wak Bajeng mempertahankan nama itu, yang lain pelahan-lahan undur, sedang Ibu Nuriah terus saja tunduk, tanda setuju dengan suaminya yang sangat matang dalam firasat hidup. Ya, mahunya dia, anak cucunya besok, akan terus ingat dan mahu membongkar di sebalik namanya terasi itu. Terasi, biar baunya saja busuk, namun segala apa yang ditambahi terasi akan bisa enak. Nasi goreng, sambel-sambelan, gorengan sayur, bahkan apa saja sayuran pasti kurang bisanya jika ngak dibubuhi terasi. Ya, dengus Ibu Nuriah, terasi, tampak jelek, namun jasanya tersimpan terlalu besar. Begitulah fikirnya, kita biar jelek, biar payah, namun tidak sekali-kali hidup tidak berjasa! Terasi adalah lambang kepayahan, perih, dan keazaman. Itulah rakaman waktu buat Wak Bajeng dan Ibu Nuriah pada tanah barunya ini, Desa Terasi

Sekian waktu, penyatuan Osman dan Khartewi membuahkan sulur-sulur yang kian kembang, Aishah, Sapinah, Bujang, Sawal, Khartini, dan Khartiman. Wak Bajeng hanya mampu mendengar tangisan singkat Aishah, sebelum sempat menatang cucu tertuanya, dia pergi untuk selamanya.

Sedang, gandingan Sukar dan Bahiyah sudah membuahkan Remini, yang kini sudah meningkat dewasa, maka Ibu Nuriah selepas kembalinya Wak Bajeng, lebih enak untuk hidup bersama dengan anak tuannya ini. Sekurang-kurangnya Rumini boleh menjadi teman setianya di kebunan tinggalan suaminya.

Marikan, yang sudah agak mengunung umurnya, belum juga ada pasangan hidup. Sememangnya agak payah mahu mencari calon isteri di masa itu, apa tah lagi dalam Desa yang baru dibangunkan ini. Anak-anak gadis samada belum tumbuh atau masih terlalu bocahan. Namun, Remini, biar usia masih ubun-ubunan tetapi sudah tampak kedewasaan yang agung. Badannya, sudah sedia untuk jadi ibu. Akalnya, sudah cukup dewasa untuk memikul seribu tanggungan hidup. Maka, terbula hati Marikan untuk meminang Remini. Sebetulnya, usia Marikan tidak berapa jauh dari usianya Osman dan Sukar. Wah, kini, teman-temannya sudah jadi bapa mertua, namun kehendak mahu menyambung zuriat tidak membataskan usia dan persahabatan, kiranya, mungkin itu sudah kudhrat dan boleh membina satu keakraban yang lebih utuh.

Begitulah kembangnya Desa Terasi, dengan Madi, Yos, Shapiee, dan Bakar semuanya ketemu jodoh dari perkampungan-kampungan terdekat dan punya sulur-sulur yang membiak ramai. Cuma Kurian, sudah tekad untuk mahu hidup sendiri, lantaran usia yang sudah mendasari maghrib. Osman, secara kebetulan agak pemurah orangnya, mengambil Kurian sebagai pembantunya membuka kebunan. Kurian, pastinya sebatang kara, amat seneng dengan sikap Osman, dan beliau menumpah sepenuh taatnya kepada Osman. Osman juga amat gembira, kerana anak-anak lelakinya bisa menuntut apa juga ilmu hidup yang ada pada Kurian. Begitulah, saling bertalinya masyarakat Desa Terasi, hidup dengan penuh kerukunan

Di Simunjan, seisi keluarganya Bojeng dan Manan telah dapat di terima baik oleh masyarakat Sambas dan Brunei di sana. Nur Intan, yang kini sudah tumbuh dewasa, langsung saja di sunting oleh Manan. Bersama-sama adik-adik Nur Intan yang lain, Manan telah membuka sebuah perkampungan baru ke hilir sedikit dari Simunjan. Tempat ini di namakan Sedilo. Nama ini, mengambil sempena nama Sungai Sedilo yang menyaliran hutan paya di pedalamannya. Pak Bojeng yang sudah menjamah tanah usia dan tenaganya tidak mampu lagi banyak membantu. Kepimpinan keluarga Pak Bojeng kini tertanggung di pundak Manan. Dia seolah-olah memikul sepenuhnya urusan harian keluarga ini, lantaran anak-anak Pak Bojeng yang lainnya masih teramat kecil, dan belum mengerti urusan dunia ini.

Kebetulan, Khatijah yang punya darah Sambas-Brunei, sudah ada susur galurnya hijrah duluan ke Simunjan. Atas talian sungai darah ini, Manan sebagai menantunya Khatijah, tidak sukar untuk menapak di hati para penduduk awalan Simunjan. Beliau dengan sifat lebih banyak diam dari bicara, lebih banyak kerja dari diamnya, lebih banyak berfikiran dari bertanya, lebih banyak bertanya dari malu tak karuannya, hatinya lebih banyak berbicara dari lidahnya, lebih banyak kemurahannya dari apa yang diterima, berpanjang akal dalam sagala, dengan mudah di terima dan langsung diangkat jadi ketua pimpinan masyarakat Simunjan.

Nur Intan, seperti camar madu, lincah dan tegas. Sifatnya yang jelas dari hati ke bibir, berkata apa saja atas niat mahukan untuk kemuliaan, teguh hatinya mengalahkan lelaki, mungkin kerana segala onak dan ranjau yang telah dilaluinya, mengajarnya tentang keberanian untuk hidup. Nur Intan, pasangan yang begitu cocok bagi Manan. Keduanya, tampak mewarisi jiwa perkasa yang saling melengkapi. Kini mereka bergandingan, memimpin kaum sejenisnya, membina satu bangsa yang ketal dan tidak mahu menyerah biar tercabut nyawa dari tubuh mereka.

Manan sadar, tubuh-tubuh manusia Simunjan akan kian kembang. Dia merencanakan agar tanah perkebunan mereka mesti diperluaskan. Sudah setahun dia menetap di Simunjan, kian hari dia melihat banjiran manusia sedang lari dari henyakkan Jepang di kota-kota dan persisiran. Tanah di Simunjan bukan seluas mana bagi menampung tanaman padi. Di pedalaman adalah hutan paya yang hanya bagus ditumbuhi hutan. Apa juga ditanam di sana, pasti ditengelami air bah, pada hujung tahunnya. Kawasan baru perlu di cari dan dibuka buat menampung keperluan bangsa baru ini.

Manan mengumpul beberapa orang anak yang masih hijau tenaga lelakinya. Dia mengajak mereka menghulu Batang Sadong. Di sebuah latong, namanya Pale, mereka menemukan tanah yang amat subur untuk bersawah. Tanah bakau yang ditumbuhi pepohon, ada yang menyebutnya pedada, sebilangnya menyebutnya perpat, mudah saja dikerjakan. Setelah puas dan sah akan bagunya tanah baru ini, Manan mengusulkan dengan segera di bangunkan perkampungan baru di sini. Beberapa penghijrah baru, serta mereka yang mahu memperluaskan tanah kebunan mereka perlu kesini dan tidak berasakkan di Simunjan sahaja.

Selang beberapa purnama, bermulanya musim kemarau, Manan dan beberapa puloh anak-anak muda, berduyun-duyun ke Pale, berbekal segala parang, kapak, beliong, cangkul dan segalanya memulai menebang hutan, menyediakan tanah lapangan baru. Riuh rendah segala monyet menjerit-jerit kaget melihat para pohon saling bertumbangan. Kini, para monyet ini, sudah pasti, rumah dan hutan mereka kini sudah perlu di kongsi dengan mahluk Tuhan bernama manusia. Selang beberapa pekan kemudian, bila panas telah membakar kering semua dedaun, api dinyala memarak membakar apa saja di lalui. Semua batang, dahan, tunggul-tunggul habis dibakar. Jagung, ubi kayu, keladi, pisang, kelapa, segala macam sayur-sayuran kini mengantikan segala hutan tebal. Sang monyet yang tadinya, sangat gusar akan punahnya ladang panganannya, kini sudah jelas, boleh saja menumpang tuah pada hasil kerja keras sang manusia. Mereka kini sudah punya pilihan, dan seringkali perkongsian makanan ini menjadi keributan perebutan antara mahluk monyet dan manusia.

Dangau-dangau sementara mulai didirikan di sepanjang tebing sungai, berderet-deret, rapat antara satu sama lain. Ibu-ibu dan anak-anak, sudah mulai menemani para bapa, bersama membangun kebunan di tanah baru ini. Kegirangan baru jelas pada anak-anak dan ibu-ibu. Tampak di sini, di Pale ini, rezeki mereka lebih lumayan dari di Simunjan. Tanah di sini tampak lebih subur dan segala apa saja boleh tumbuh dan dengan mudah membuahkan hasil.

Namun kemakmuran, Desa Pale sedang diperhatikan curiga oleh masyarakat Dayak yang diam di Sg. Alit, hanya ke hulu, setanjung dari Pale ini. Mereka sudah sekian lama mengidam untuk menguasai tanah baru ini. Pohon pedada yang sangat banyak dan subur itu adalah tempat segala monyet yang sekali-kali mereka akan datang menyumpitnya dan dipanggang buat hidangan bersama. Mereka amat khuatir, dengan penebangan pohon-pohon pedada itu, pasti akan memusnahkan lapangan perburuan mereka. Secara diam, sudah timbul sengketa antara dua masyarakat ini, cuma belum ketahuan oleh kelompoknya Manan.

Sebilangan anak-anak muda Dayak ini, sedang memerhati rapat, akan semua pergerakkan para kaum lelaki kelompok Manan ini. Lagaknya, mereka tidak terhenti di Pale sahaja. Mereka sekali-sekala meninjau-ninjau banyak lagi kawasan di hulu Batang Sadong. Sekelompok pemuda Dayak ini, pasti, akan lebih ramai masyarakat Laut, satu panggilan orang Dayak bagi masyarakat Melayu ini, akan datang dan membuka lebih banyak lagi kawasan di sekitar Sg. Alit ini. Kini mereka mulai merasa terancam. Kawasan perburuan mereka akan menjadi lebih sempit. Ini tidak boleh dibiarkan. Kemaraan masyarakat Laut ini perlu di sekat.

Secara diam, Abong, ketua segelintir pemuda Dayak ini, merencana membuat onar di Pale, khususnya terhadap para perempuan dan kanak-kanak Laut bila para lelaki mereka sedang pergi berjauhan. Maka suatu hari, sedang para lelaki Laut telah jauh mudik ke hulu, maka Abong melihat ini sebagai peluang terbaik bagi menjalankan rencananya, beliau lalu memimpin dalam kelompok lebih kurang dua puloh orang pemuda Dayak, menghilir dalam lima bangkong, dan mendarat di tebing Pale.

Tengahari itu, perasaan Nur Intan agak tidak enak. Benaknya merasa tersangat gusar tidak keharuan. Firasatnya agak meragukan. Tengahari itu, dia mengajak semua para perempuan dan anak-anak berkumpul di rumpunan pohon pedada yang besar-besar yang tumbuh dekat dengan danau buaya. Danau buaya, terletak betul-betul di bawah rimbunan pepohon pedada, dan di dalamnya ada beberapa buaya betina sedang mengawal sarangnya. Buaya-buaya betina itu tampak ganas dan pastinya akan menyerang apa saja yang mahu menganggu keselamatan anak-anak mereka. Danau itu agak terlidung oleh tumbuhan perupok yang tinggi serta sangat tajam dedaun dan sulurnya.

Nur Intan, berkira, di keliling pedada itu adalah tempat yang paling baik untuk berselindung jika ada apa-apa musibah yang akan menjelma. Sepekan yang lalu, dari serambi dangaunya, Nur Intan merasa seperti ada mata-mata mengendap dan memerhatikan para perempuan di Desa Pale ini. Cuma dia kurang pasti dan mengambil sifat diam diri, namun waspada. Firasatnya hari ini, lain dan dia pasti akan ada yang tidak baik akan terjadi. Semakin mentari mencondong, semakin betambah gundah hatinya Nur Intan.

Dia mengambil tekad, membawa semua para perempuan dan anak-anak, mendekati rumpunan pepohon pedada itu. Dia meminta semua para perempuan terus saja membawa para anak mereka memanjat pepohon itu dan diam di dahan yang paling tinggi. Tiada siapa harus merasa ribut, gusar, terjerit-jerit yang tak keharuan. Semua harus tenang. Dia akan memberikan arahan selanjutnya, yang dia belum pasti. Beberapa bilah parang dan golok di bawanya memanjat sama, di agihkan kepada beberapa perempuan yang kuat-kuat sahaja. Yang lain-lain diarah untuk menenangkan anak-anak supaya tiada berlaku keributan. Anak-anak telah diberi amaran, supaya tidak rebut, supaya tidak menangis, supaya tidak takut, Nur Intan, memberikan amaran barang siapa engkar akan arahannya, akan dicampak ke danau buaya, biar dimakan buaya-buaya itu.

Tiba-tiba dari kejauhan, rumpun-rumpun perupok mulai bergoyang-goyang, seperti keributan sedang diredah sang badak. Nur Intan, dapat melihat, ada beberapa tubuh sedang menaiki beberapa dangau yang sudah tertinggal kosong. Tegak mereka bukan lelaki pimpinan suaminya. Kelihatan mereka seperti mahu mengamok, dengan parang dan tombah dijulang-julang sambil menari-nari bersama gendang perang. Nur Intan tahu, telah nyata kegundahannya. Musibah sedang bertandang sedang para suami dan lelaki mereka tiada di rumah. Lantas seperti halilintar akalnya berjalan, dia mengisyaratkan agar para anak-anak terus diam, sedang dia mulakan menjerit melambai-lambai agar para pengunujung yang tidak diundang mara terus merempuh perupok-perupok menghala ke pepohon pedada tempat perlindungan mereka.

Seperti terduga, pemuda-pemuda Dayak ini, berlarian seperti sang singa kehausan darah, bekerjaran menuju rimbunan pepohon pedada tempat persembunyian para perempuan dan anak-anak mereka. Semakin mereka hampir, semakin kuat dan lantang Nur Intan dan para perempuan itu menjerit-jerit dan mencabar mereka.

Sebentar seperti secepat kilat, seperti sang pahlawan monyet, Nur Intan terjun ke tanah memasang api pada longgokan dedaun kering dan ranting-ranting kayu yang sudah terkumpul di sebelah utara. Asap tebal yang terhasil dari pembakaran pandukkan itu boleh menyembunyikan para anak-anak yang sedang sembunyi di sebelah selatannya. Di samping itu, api yang marak dari pandukan ini akan memaksa para penyerang untuk hanya menghampiri mereka dari sebelah selatan sahaja. Paling bagus, akalnya si Nur Itan, dengan menyosong asap tebal, sudah pasti menjadi jalan serangan para pemuda Dayak itu, menjadi payah. Nur Itan mahu menjebak mereka untuk terus berlari ke dalam danau penuh berisi buaya-buaya betina yang sedang mengeram. Juga, asap tebal tebal itu, pastinya akan kelihatan oleh para lelaki mereka dari kejauhan, tanda bahana sedang melanda anak-isteri di kebunan. Kebetulan, Manan telah mengeluarkan arahan agar tiada pembakaran dilakukan pada lewat hari, kerana biasanya angina deras biasa terjadi disebelah petang, dan ini boleh mendatangkan bahaya kebakaran yang tidak dapat dikawal. Ini sudah menjadi aturan yang mesti di patuhi oleh semuayang membuka kebunan di Pale.

Seperti terduga, tanpa pemerhatian teliti, para pemuda Dayak it terus saja meluru melalui tanah lumpur danau di sebelah selatan rimbunan pedada, tanpa menyadari buaya-buaya ganas sedang sembunyi dalam air Lumpur tersebut. Agak, sudah beberapa orang sampai ke tengah danau, maka buaya-buaya itu baru menampakkan diri lantas menyerang beberapa pemuda yang kaget dan tidak dapat mengundur diri. Beberapa orang dari mereka telah ditangkap dan dihempas, berhaburan darah dan isi perutnya. Hiruk pikuk perang kini telah bertukar jadi kecoh dan kebisingan ketakutan dan teriakan keperitan sengsara gigitan buaya-buaya ganas itu. Melihat akan kejadian itu, yang lain seperti tunggul tercegat kekagetan yang tidak kepalang melihat empat dari rakan-rakan mereka telah terkorban. Darah hanyir mulai tertebar luas Desa Pale, di bawa hanyut angin petang yang sudah mulai bertandang.

Abong, tanpa berfikir panjang terus saja mengarahkan orang-orangnya untuk lari pulang. Dengan tidak tentu arah jalannya, mereka berlarian mengundur diri ke bangkong-bangkong masing-masing. Tubuh-tubuh mereka yang tiada berbaju, dan hanya bercawat perang, kini menjadi habuan siatan daun-daun perupok yang tajam seperti sembilu, sedang kaki-kaki telanjang mereka tengah tertusuk hebat oleh sulur-sulur perupok yang sangat berbisa. Teriakan kekalutan dan penyesalan teramat jelas pada Abong dan anak-anak buahnya.

Namun, apakah kecelakaan seterusnya, belum pun sempat mereka menaiki bangkong masing-masing, deboran benak, gelombang terhasil pertembungan air pasang dan air surut, sudah menganas menghempas semua bangkong yang tertinggal. Bankong-bangkong itu semuanya pecah berkecai di henyak di batang-batang dan tunggul-tunggul pedada yang membarisi tebingan Desa Pale. Abong terpinga-pinga dan meraung menangis kesal. Bersama pemuda Dayak yang lain, wajah mereka sudah menjadi pucat, sedang seluruh tubuh mereka berlumuran darah akibat luka-luka siatan dedaunan dan tusukan sulur-sulur perupok. Ketakutan mereka bukan amat kepalang. Terbayang betapa akan hukuman akan dijatuhkan ke atas mereka oleh Tuai Bentang Alit jika perkabaran ini nanti diketahuinya. Pasti Abong dan rakan-rakannya akan di suruh keluar Bentang, satu hukuman buang daerah dan pecah keluarga yang pastinya terlalu sukar untuk diterima. Kini Abog sedang pusing kepala terlalu hebat, di Batang Sadong ini, banyak buaya berteduh didasar-darasnya, dan dicelah-celah pohon-pohon bakau yang tebal itu, sedang para bangkong mereka sudah musnah semuanya. Air pasang yang sedang deras, tidak memungkinkan mereka untuk dapat berenang pulang. Sebentar lagi, akan pulanglah para lelaki Laut ini, akan matilah semua mereka dibunuh Laut-laut ini. Fikiran Abong seperti sudah sampai kehujung dunia. Hanya kematian yang dia nampak.

Sedang asap tebal berkepulan dari pandukan yand dibakar, Manan dan rakan-rakannya sedang berteduh di Lubok Buntin di seberang Sg. Pale. Air dalam lubok itu, mematikan serangan benak yang pada perkiraan Manan adalah paling tinggi kerana, di timur kelihatan bulan sedang perlahan-lahan bangkit dari tidurnya, kian mengambang penuh. Namun, asap itu, yang kelihatan pada matahari yang sudah jauh condongnya, amat mencurigakan hati Manan. Lewat saja gelombang kepala benak, Manan, mengarahkan anak-anak buahnya berkayuh pantas ke tebing Pale. Dari kejauhan, Manan terus mengamati dangau-dangau di persisiran tebing Pale, tampak kosong, gundahnya bertambah hebat. Dia menempik kuat, ayuh kita kayuh kuat-kuat, kita beradu lomba siapa boleh sampai duluan. Hati-hati semua, kita jangan berpecah. Siapkan semua golok dan parang. Teriakan Manan itu seperti isyarat kepada dua puloh rakan-rakannya akan ada banaha sedang menanti. Mereka pasti, Manan sedang menghidu sesuatu. Mereka tahu, Manan mempunyai gerak hati yang sangat tajam.

Alang-kepalang kagetnya seluruh lelaki Melayu itu, bila saja menginjak kaki keluar dari perahu masing-masing mereka di serbu Abong dan rakan-rakannya yang bertelanjangan dan bertangisan meminta keampunan. Seraya terpinga-pinga, para lelaki pimpinan Manan para menghunus golok, sambil menangkap setiap kepala pemuda Dayak itu, seolah-olah mahu dipenggal saja kepala mereka.

Ampun tuai, ampun tuai, kami salah, kami ngakon salah, rayu Adong pada Manan yang sedang keras memerhati keliling takut ini hanya sebagai satu helah perang masyarakat Dayak ini. Sebentar, kedengaran para perempuan dan anak-anak mereka turut meluru menghampiri. Kemudian, terdengar suara Nur Intan, mengarahkan semua pemuda itu ditangkap dan diikat.

Setelah sadar segalanya berjalan aman. Sambil memeluk erat anak sulongnya Muhammad yang masih hanya baru tumbuh dua gigi kapak digusinya, dia mengarahkan semua pemuda Dayak itu jangan di apa-apakan. Para isteri disuruh pulang dan menyediakan makanan apa adanya dengan seberapa segera. Sekumpulan lelaki siap dengan golok dan tombak di arah mengawal Adong dan rakan-rakannya.

Selesai makan, dan segala luka di badan Adong dan rakan-rakannya dirawati ala kadarnya, Manan dengan tegas memerintahkan Adong untuk pulang dan menceritakan sepenuhnya apa yang terjadi kepada Tuai Alit. Mereka juga diminta untuk membawa Tuai Alit datang keesokkan paginya ke Pale bagi urusan mayat mereka yang di serang di danau buaya dan semua urusan perdamaian lainnya. Manan meminjamkan dua buah sampan kepada Adong dan rakan-rakannya untuk pulang.

Dalam pertemuan Manan dan Tuai Bentang Alit, mereka mengerti akan kekhilafan anak-anak buah yang muda-muda itu. Manan, telah meminta supaya tiada persengketaan dan dendam panjang antara masyarakat Dayak dan Laut ini, memohon agar anak-anak muda itu tidak dihukum terlalu berat. Dia merayu ikhsan bagi anak-anak muda yang masih mentah itu. Air mata kelihatan berlinangan pada Adong dan rakan-rakannya, mendengar dan mendapati akan kemulian dan keesanan Manan dan para orang Laut ini. Tuai Bentang Alit lantas mengeluarkan hukum bahawa Laut-laut ini bebas membuka tanah di mana saja mereka suka, biar di Alit sekalipun, mereka tidak boleh diganggu.

Manan sangat berterima kasih kepada hukumnya Tuai Bentang Alit. Dia membalas bahawa, mulai saat ini, mereka adalah bersaudara, sambil terus berpelukan dan berjabat lengan. Ini diikuti oleh Adong dan semua yang lainnya. Kita akan saling membantu, kita sama-sama bertani, berkebunan, dan sama-sama kita membina bangsa baru disini, jangan terasing lagi antara Laut dan Dayak, ucap Manan pada saudara-saudara Dayaknya itu. Tuai Bentang Alit dan Adong mengangguk setuju

Lantaran musibah yang telah melanda, Manan mengusulkan agar Pale di kosogkan saja. Tidak usah dibina kampong tetap di sini. Cukup hanya untuk tanaman padi dan kebunan jagung sesekali sahaja. Biarpun sudah terikat janji Tuai Bentang Alit, namun, para keluarga yang anak-anaknya mati dihempas buaya, tetap akan ada luka. Manan tidak mahu luka itu terus terbuka dan berdarah, bernanah. Tidak wajar, baginya, masyarakat Melayu dan Dayak ini, yang sama-sama anak-anak hijrahan, biar cuma berbeda waktunya, bertancap bermatian, sedang musuh sebenar sedang mengempur hebat kota-kota Kuching dan lain-lainnya. Kita perlu kesatuan yang utuh, agar mereka tidak boleh mengembangkan wilayah jarahan mereka sampai ke Sadong ini. Manan, membuat perhitungan pada anak-anak buahnya.

JEPANG YANG KERDIL BERHATI BESAR

Khabar dari para pedagang Singapura, Jepang kini sudah menguasai sepenuhnya Tanah Melayu. Singapura sudah diambang kejatuhan. Kini, Jepang sedang berperang besar di rantau samudera Pasifik. Negaranya Filipina, sudah tertawan. Kepulauan Papua juga sudah didarati. Kini, Jepang sedang berkira-kira mahu menyeberangi Great Barrier Reef menawan negara Kangaroo. Kepulau Hawaii, negara bahagian ke 51 Amerika Syarikat juga sudah diledak. Di Indonesia, Jepang sudah mengempur Belanda dari dua arah, dari Surabaya di Timur dan Bandung di Barat. Indonesia sudah selingkuh dalam kandang panji-panji Matahari merah.

Sandakan, negeri bahagiannya Sabah sudah didatangi Jepang. Kota Jesselton, kian di hampiri. Negara bahagiannya Brunei juga sudah diintip pesawat-pesawat peledak Jepang. Semua, seluruh tanah jajahan Inggreis, Belanda, Portugis, dan Sepanyol, di rantau sebelah Pasifik sudah hampir semua ditawan Jepang.

Kini mereka sedang mengalih pandang ke utara, negaranya Burma sedang diidam-idamkan. Begitu juga, Indochina, tanah besar China dan Korea. Begitu hebat Jepang ini, biar kakinya pendek-pendek, namun hati dan fikirannya bulat-bulat seperti bulat perut-perutnya, mereka mahu membentuk Asia-Japonika Raya. Mungkinkah, kerana tubuh mereka itu, amat berbeda dari seluruh bangsa Asia, dari Tanah Arab sehingga Ke Korea, mungkin otak mereka tidak di kepala, tapi di perut gendutnya mereka itu. Maka itu mungkin, nafsu otaknya lebih besar dari tampak tubuhnya. Mungkin juga, kira-kira Manan bila ketahuan bahawa orang-orang Jepang yang kerdil punya keberanian yang amat hebat!

Urusan dagang di Kota Kuching kian lemah. Masyarakat Tionghua di sana, sudah pada mudik ke hulu, ke Bau, ke Lundu, ada yang kian menjauh ke Serian membangun kota-kota baru, jauh dari tangannya Jepang. Kerana peperangan di tanah besar China, Marshall Yamamoto sudah mengeluarkan amaran agar semua bala samurai harus hati-hati sama semua anak-anak Cina biar di mana mereka berada. Kebetulan semangat Mao Tze Dung dan Chiang Kai Sek sedang menular hebat ke rantau Asia Tenggara tanda simpati atas dua Gajah China yang sedang bertarung gagah mahu membangun sebuah China yang lebih bersatu hati, satu atas dasar Kebebasan Jalur Merah Putih, sedang satu lagi atas Hak Rakyat Merah segala. Kedua-duanya sedang mengarap segala kesatuan dan dokongan dari mana saja anak-anak Cina agar tercapai segala hasrat mereka.

Jepang amat memerhatikan perkembangan ini. Jepang tidak sekali-kali mahu kuasa barat baik Amerika atau Rusia mencampuri urusan di Asia. Biar Asia, milik Asia dan dipimpin Asia, dan Jepang adalah pilihan tunggal Asia, bukan China, Korea, India, hanya Jepang. Kerana mahunya banyak negara Asia berteduh di bawah payung merah, maka itu Yamamoto memgibar panji-panji matahari merah sebagai lambang penyatuan Asia. Dalam perkiraan Yamamoto, merah yang mereka cari, merahlah panji-panji pilihan penyatuan samurai. Jika putih yang mereka cari, panji-panji itu juga ada putihnya. Maka panji-panji matahari terbit, adalah pilihan tunggal bagi semua Asia. Di sana ada putih, di sana ada merahnya. Semuanya sempurna.

GRONTOL GANTINYA NASI

Kerana asakan Jepang, kini segala urusan dagang di senantaro nusantara sudah macet. Kehidupan rakyat kian ribut. Hari-hari yang payah kian mengasak. Para tentara Jepang, tiada lain ulahnya, melainkan merampas apa saja yang boleh menguatkan cenkaman mereka. Sesiapa saja, yang menantang pastinya mati katak tertancap bionet terhunus di muncung senapang mereka. Kalau ndak, pasti makan tempeleng Jepang, dikeplak dengan dua belah tangan sampai muncerat darah dari mulut, siapa saja yang mahu melawan. Segala apa juga pangangan dan hasil tani sudah sukar untuk didagangkan. Rakyat sudah tidak lagi kecukupan beras. Siapa yang punya simpanan beras, pasti di rampas diangkut buat simpanan para tentara Jepang. Dagang beras dari China, Indochina, dan Indonesia semuanya sudah macet.

Nur Intan, tidak mahu ketinggalan membantu Manan dalam mencari akal membantu menangani kepayahan panganan yang sedang dihadapi masyarakat pimpinannya. Kebetulan, Khartewi, isteri temannya Manan, si Osman, juga punya akal memasak yang hebat. Asalnya anak Jawa, yang sudah biasa dengan kepayahan sengsara di bawah cengkaman Belanda, Khartewi mengajari Nur Intan agar mencampuri masakan nasi dengan rebusan biji jagung serta di campur sedikit ubi-ubian, paling bagus dengan singkong.

Atau paling-paling kalau ngak ada beras, rebus saja biji-biji jagung di campurkan sama rencetan singkong. Bila sudah masak, paruti saja kelapa, di campur sedikit garam. Inilah gerontol namanya. Paling enak di makan sama gereh, ikan asin dan air kopi. Begitulah gandingan kepala Nur Intan dan Khartewi dalam menangani keperitan yang sedang melanda, bukan hanya keluarga mereka,namun sudah menular ke mana-mana.

Manan sadar, Simunjan juga tidak jauh dari angin sengsaranya Jepang. Kian hari, kian ramai saudara-saudara baru datang hijrah, datang berduyun-duyun dari Jalan Arang, Dahan, Kolong, apatah lagi yang baru tiba dari Sambas, Pontianak, Brunei, Tanah Jawa, dan Tanah Bugis, semuanya sedang berpusu-pusu memudiki Batang Sadong. Manan dapat merasakan bahawa akan timbul kemelut kurang pangganan yang hebat. Mungkin juga akan ada gelora penyakit yang hebat. Kini dia mulai mengumpul para pengikutnya. Semua pendatang ini harus diurusi dengan baik. Mereka itu anak-anak Tuhan yang sedang payah. Mereka sedang pasrah nyawa dan masa depan ke dalam tangannya. Dia perlu ambil tanggungan memikul sekuat mungkin akan cobaan Allah ini.

Dia segera berhubungan dengan Osman di Terasi. Osman di dapatinya juga sudah dibebani pendatang yang kian banyak. Mereka, atas pengalaman bapa-bapa mertua mereka Bajeng dan Bojeng, kini sekali lagi benganding sepertinya Bajeng-Bojeng melihat semua tempat di mana mereka bisa menghantar semua asakan pendatang ini agar mereka bisa hidup dan memulakan penghidupan baru. Dari seberangnya Terasi, mereka mengarahkan beberapa kelompok untuk membuka beberapa desa baru, Selangkin dengan diketuai Pak Tendero, anak Bugis yang baru datang dua pekan yang lepas, kemudian Tg. Pisang ke tangannya Pak Hj Mersat, anak jati juga dari Bugis, bersama-sama beberapa kumpulan dari Sambas, diseberangnya Simunjan, terbuka desa Tanjung Palas dengan di ketuai oleh Syed Ahmad, seorang darah arab yang sudah bermastautin duluan di Simunjan, ke hulu sedikit dibuka Sg Ba oleh Pak Bojet, seorang Sambas, dan seterusnya paling ke hulu, Lubok Buntin dibawah pimpinan Pak Kederi, juga keturunan Samas-Brunei.

Simunjan itu sendiri kini sudah terpecah kepada empat buah perkampungan yang berbeda. Kg Nanas di utara, ke pedalaman menghala Gunung Ngili, kini pengembangannya di ketua oleh Pak Derim, yang secara kebetulan adalah sepupu kepada Nur Intan, Kampung Lintang dan Kelaka di bawah kempimpinan Pak Sulong, dan Kampung Sageng di bawah kepimpinan Pak Salleh yang juga punya persaudaraan jauh dengan Nur Intan. Hati Manan kini amat senang, kerana sekurang-kurangnya sudah tertebar pembangunan perkampungan di sepanjang Batang Sadong. Dia yakin, semua ini pasti amat berguna buat pertahanan yang amat tersusun bagi menghambat serangan Jepang.

Di muara Sadong, di daerahnya Pendam juga sudah tumbuh banyak perkampungan-perkampungan baru. Iboi, Pelandok, Jaee, Bilis, Rangkang, Sg. Putin, dan Rangawan sudah semuanya terisi dengan segala jenis manusia yang semuanya adalah penghijrah entah dari mana saja. Namum Manan dan Osman, dan seluruh ketua-ketua yang ada melihat ini sebagai satu anugerah Allah, atas peluang bagi penyatuan yang maha besar, biar lewat waktu mereka mungkin tidak kesampaian, namun pasti akan diteruskan oleh anak-cucu mereka nanti.

Selepas agak setahun Jepang menapak di Kuching, kini mereka sudah menjejaki perluasan kekayaan baru dipersisiran. Beberapa kapal para pengkaji Jepang sudah mendarat di Simunjan. Entah bagaimana tajamnya hidung mereka, mereka berpusu-pusu ke Gunung Ngeli, melintasi Kg. Nanas, dan mula mendongkel-dongkel tanah kaki gunung itu. Bukan kepalang kagetnya anak-anak di Simunjan, Jepang sudah menemui batu bara di kaki Gunung Ngeli. Berita ini seperti berita gembira, namun ianya juga adalah berita duka bagi semua para lelaki di Simunjan. Dalam beberapa pekan sahaja, lebih banyak, bukan Jepang biasa, tetapi bala tentara Jepang sudah berkumpul di Simunjan. Para lelaki Simunjan sudah dikumpul segala, kini mereka diambil jadi pelombong batu bara di Gunung Ngili. Mereka tidak dibenarkan bertani, itu hanya kerja perempuan. Dan kerana ketidak cukupan tenaga, sebilangan tenaga wanita juga telah diambil sebagai pekerja kayaknya separuh paksa.

Kerana sudah ramai yang tidak boleh bertani, terpaksa kerja separuh paksa di lombong batu bara Jepang, maka hasil tani masyarakat Simunjan kian merosot. Upah yang diberikan juga terlalu sedikit. Manan yang kini dipaksa jadi Mandor diberi upah sebanyak 30 sen. Sedang boroh biasa cuma dapat 20 sen. Upah ini hanya cukup untuk membeli garam, sedikit beras, gula, dan pakaian yang sebetulnya amat payah untuk diprolehi.

Cuma syukur bagi Manan, kerana dia punya Osman, di hilir Sadong, dan tidak diganggui Jepang, dia masih dapat bekalan pangganan yang agak lumayan kiriman Osman. Cuma segala urusan terpaksa dibuat secara sulit.

Agaknya kerana sudah terlalu banyak sengsara dan bebanan yang dipikul, Manan semakin hari semakin lemah kesihatannya. Sejak kerja sebagai Mandor dilombong batu bara Jepang, dia sering saja batuk-batuk. Ada kalanya sampai menyembur darah. Dadanya kian sakit. Badannya sudah semakin hilang daging-daging pejal, kini timbul tulang-tulang kurus. Pipinya kian kerepot, matanya kian ke dalam. Namun, bila ditanya Nur Intan, apa dia sakit, disembunyinya segala. Dia tidak mahu keluarganya jadi gusar. Anak-anaknya Muhammad, Noraini, dan Masni semuanya masih kecil-kecil. Paling tua, Muhammad hanya baru 10 tahun umurnya, sedang Noraini baru saja berusia dua tahun dan Masni masih lagi bayi yang belum tahu apa-apa. Kesemua anak-anaknya masih terlalu muda. Dia tidak sanggup melihat mereka jadi gusar.

Suatu hari, bila Osman bertandang mengunjungi dia dirumahnya, dia berbicara sulit dengan Osman, tentang kemungkinan dia terpaksa pergi duluan. Dia, memohon agar, jika dia sudah tiada, anak-isterinya dipertanggungjawapkan pada Osman dan bagi mengikat erat persaudaraan mereka, harus Muhammad di nikahkan dengan anak perempuannya Osman. Tiada apa yang terkata oleh Osman. Dia tahu sahabatnya itu tidak pernah dusta, dan amat pilu rasanya dia melihat sahabatnya itu sedang begitu sengsara.

Manan, usah kau khuatir. Sebegitu setiaku padamu di waktu kita di tanah tumpah darah kita, di samudera, di perantauan, di sini akan tiada bedanya samada kau ada di depan mataku atau sudah tiada. Keluargamu adalah keluargaku juga. Janganlah kau berhiba hati, cobalah banyak bersabar, dan jika perlu istirehat banyak-banyaklah. Aku akan sering kemari bersama anak dan isteriku. InsyaAllah, Aishah anakku yang paling tua, sampai waktunya akan kujodohkan dengan Muhammad. Aku bersumpah atas nama persahabatan kita, itu akan kupatuhi niatmu Kang Manan.

Tiada lama kemudian, enam purnama kemudian, Manan pulang dalam tidur yang amat lena. Di waktu itu, di hari itu, panji-panji Matahari Terbit juga sudah berlabuh turun. Pihak Bersekutu telah menang perang di Pasifik, Marshal Yamamoto sudah menyerah.

Keluarganya Nur Intan, kini antara suka dan duka. Gembira kerana sengsara peresan Jepang sudah usai, sedang mereka juga sudah hilang tubuh yang begitu gagah mengasihi dan melindungi mereka dari segala bahana. Paling duka, Muhammad belumpun sempat belajar erti hidup, belumpun sempat mengenali ayahnya secara halus dan dalam. Pada usia semuda itu, ayahnya adalah cuma teman sepermainan, bukan teman perguruan ilmu hidup. Noraini dan Masni bila sudah besar esok, pastinya tidak kenal rupa ayahnya, mereka terlalu kecil untuk ingat dan tahu apa-apa.

Nur Intan kini termanggu, kini dia bukan hanya bapa kepada anak-anaknya, bahkan bapa kepada adik-adiknya Alauyah, Yusuf, dan Ohek, yang belum bergitu dewasa. Dia pasrah, dan tekad akan terus menetap di Sedilo, dan tidak berganjak biar sudah puas Osman dan Khartewi mengajaknya pindah saja ke Terasi. Sukar baginya untuk meninggalkan Sedilo dan Simunjan yang telah banyak menyimbah air mata dan keringat kepayahan suaminya Manan.
INTAN PERMATA DELIMA

Nur Intan, yang usianya baru menjangkau lewat 30an, biarpun belum puas bertemankan seorang suami, kini, berbekal semua perjalanan hidup ayah-ibu dan suaminya, sedang mengatur perjalanan hidup barunya sebagai ketua keluarga. Atas tanggungan barunya, kini dia lebih banyak bersama anak-anak dan adik-adiknya. Muhammad biar usianya baru melepasi 10 tahun, adalah anak lincah yang cepat mempelajari apa saja. Dia tahu, ayahnya sudah pergi, kini dia mesti sama memikul beban menghidupkan adik-adiknya.

Nur Intan, membimbing Muhammad akan segala ilmu hidup, bersawah, berkebunan, menangkap ikan, segalanya. Dia memastikan anak itu tumbuh sebagai lelaki yang tegas dan kuat. Saban malam, dia akan mengumpul anak-anak dan adik-adiknya tidur sekelambu, bercerita tentang penghidupan nenek moyang mereka. Kepada Muhammad sering diingatkan bahawa arwah ayahnya Manan mahu dia menjadi lelaki yang berjiwa besar dan pemurah. Dia tidak mahu sekali-kali Muhammad menjadi manusia lalai, dia harus rajin, berani, dan mesti ringan tulang bila ada kesusahan pada orang lain. Dia sering diingat akan sifat-sifat arwah ayahnya. Nur Intan mahu, agar Muhammad terus menjadi Manan yang baru dalam hidupnya. Dia mahu, jiwa dan semangat Manan terus hidup agar dia juga dapat terus bertahan. Perlahan-lahan segala sifat Manan tumbuh subur pada diri Muhammad, dan Nur Intan kian tampak permata delima hatinya, Muhammad kian subur dan dewasa

GENERASI PASCA MERDEKA

Sekian waktu berlalu, Muhammad sudah menjadi dewasa, begitu juga Aishah. Atas pintanya rakannya Manan, Osman mengajukan kepada Nur Intan agar mereka berdua disatukan bagi mengikat terus kekerabatan Bajeng-Bojeng. Nur Intan, bukan kepalang gembiranya, kecil sawah di ladang, satu Simunjan dia tadahkan bagi menyambut permintaan almarhum suaminya.

Dalam masa yang sama, juga, Nur Intan telah disunting oleh Yunus, seorang jejaka Banjar yang datang dari Kalimantan Tengah. Dengan segala penyatuan jodoh ini, maka keluarga Nur Intan kembali utuh dan segala bebanan hidupnya kini dapat diurus secara saksama.

Aishah, kerana, agak sukar untuk berpisah dengan ibunya Khartewi, meminta Muhammad untuk sering ulang alik ke Terasi, di mana akhirnya Muhammad memutuskan saja untuk menetap di sana, sedang selang beberapa minggu dia akan terus mengunjungi ibu dan adik-adiknya di Sedilo. Perjalanan berperahu, antara Sedilo-Terasi secara berdayung mengambil masa separuh hari. Pasang, mudik, surut, menghilir. Begitulah keberadaannya di waktu itu.

Di Terasi, Muhammad memajak sebidang tanah, dari seorang rakan Iban bernama Usop. Di tanah tersebut, dia membina sebuah dusun kelapa, buah-buahan, dan menanam padi pada sebahagiannya. Jagung, tembikai, labu, kacang tahu (soya), kacang hijau, dan kacang tanah adalah tanaman giliran di musim kering, semua ini untuk pangganan ayam dan itik, dan simpanan lauk di musim tengkujuh yang biasanya kebanjiran besar. Begitulah kehidupan Muhammad-Aishah di awal kehidupan berumahtanganya mereka. Hidup penuh kepayahan, namun tetap berdikari, berjuang terus dalam menyambung zuriat bangsa.

Perjuangan mereka tidaklah sehebat Bajeng- Nuriah, Bojeng-Khatijah bahkan Manan-Nur Intan dan Osman-Khartewi, namun pastinya, hari muka mereka tetap sama, belum pasti ketentuannya.

Di Kuching, sudah ada ura-ura gerakan kemerdekaan,sebagai ikutan kemerdekaan Malaya pada 1957. Kebetulan, di masa ini, sudah mulai terjual radio-radio berbateri basah, dan berita sudah mulai terpancar dari Suara Singapura dan sekali-sekala di kejauhan malam, pasti juga terdengar suara-suara Malaya. Rosli Dobi juga sudah diberitakan menumpahkan darah Wakil Brooke di Sibu, dan gerakkan kemerdekaan di Sarawak sudah kian pasti.

Muhammad kerana diam dalam sekitaran yang jauh lebih aman dari yang pernah di lalui oleh nenek moyangnya Pak Abdullah, Pak Dol, Ibu Aishah, dan Bojeng tidak punyai jiwa kebangsaan yang tebal seperti mereka. Juga lantaran segala kepayahan hidup membuka dan membangunkan segala desa hanya dilaluinya di zaman anak-anaknya, tidak banyak yang dia mengertikan tentang gerakan kebangsaan Sarawak, Malaya, dan bahkan Indonesia. Hidup dewasanya kini perlu dipenuhi untuk hidup membina keluarga, membina kekuatan masing-masing. Sama halnya, dengan segala generasi seangkatannya, mereka hanya mahu melepaskan kemelut kehidupan keluarga yang kian membesar dan banyak. Kebetulan di waktu ini, penjajahan Brooke sudah kian lemah. Gangguan penjajahan asing sudah kian berkurangan. Beberapa negara di rantau Asia juga telah mulai bebas dari berlenggu penjajahan. Seperti juga Muhammad, negara-negara ini, kini seperti sedang sibuk untuk membina kekuatan masing-masing sebagai sebuah negera merdeka.

Bila berita Tunku Abdul Rahman mengistiharkan pembentukan Malaysia pada 16 Septembar, 1963, Muhammad bersama dua jaguhnya, Shamsuddin dan Munshi sedang bersila menghadap hidangan kopi malam dan gorengan keladi. Aishah, pula, di bawah pelita yang bejelaga kuat sedang menjahit tangan pakaian anak-anaknya yang kian nakal dan comel, si Sham dan Munshi. Di hati keduanya, Manan dan Aishah, mereka sadar, telah merdeka negara ini, telah bebaslah anak bangsa ini dari belenggu penjajahan. Dalam sanubari mereka berdoa, mudah-mudahan anak-anak mereka akan kembang dan tumbuh bersama kemerdekaan dan kebebasan yang maha agung ini. Semoga segala sengsara dan kepayahan nenek moyang mereka tidak akan pernah terjadi pada diri anak-anak ini. Mudah-mudahan mereka akan terus tumbuh menjadi bangsa yang terus merdeka dan perkasa.


ORANG-ORANG TERKUCIL:

dari sudut-sudut mataku
mengalir butir air bening
ku hapus dengan rambut anakku
yang tidur dipeluk ibunya
hari demi hari ku lewati
usai sudah hukumanku
kuayun langkah kebebasan
kuhirup nafas kerinduan
kini aku pulang semoga dapat diterima
ingin kubuktikan maknanya bertobat
seperti impianku akan kubangunkan kecerahan
kubaktikan sisa hidup untuk kebajikan
namun ternyata apa yang kuterima
semburan ludah sumpah serapah
dalam kegelapan ini
dukaku panas terbakar
apapun yang didepanku
rasanya ingin kuhempaskan
betapa aku terluka perjuanganku sia-sia
apakah orang sepertiku
harus terkuncil selamanya
kemanakah harus kubuang kegetiran
langit yang kutatap pun berpaling dariku
dimanakah keluhanku akan didengar
semua jalan telah tertutup buat namaku

yang kupelajari dari buku suci
tak ada kata terlambat untuk bertobat
nyatanya jiwaku tetap terpidana
sesungguhnya aku telah mati dalam hidup


(Abiet G. Ade, Yogyakarta)


------------------------------------------------------------------------------------
Nota: Coretan ini adalah terbuat dari perkisahan oleh adinda nenek saya, Yusuf Bojeng (dan rakan-rakan nenda saya Syed Ahmad, Ami Sulong, dan Nek Derim yang sering bertandang ke rumah kami) selepas saya dan adik-adik siap belajar mengaji di waktu malam hari. Beberapa nama, tempat, watak, kejadian diolah bagi mendramatiskan coretan dan segala kebenaran dan kejituan coretan ini tidak mungkin dapat saya pastikan kerana, kini semua mereka sudah pergi. Mudah-mudahan ada yang lainnya akan dapat memberikan imbasan yang lebih jitu buat ingatan dan teladan anak-anak bangsa di hari muka. InsyaAllah.

(Kuching, 29.04.09-17.05.09)

15 comments :

Anonymous said...

Sejarah... mengingatkan kita akan pelarian...gabungan...perjuangan...kemelut dan akhirnya...satu persoalan, adakah benar masih ada Melayu yang benar-benar Melayu Malaysia??? Satu persoalan...

Anonymous said...

I believe that "Mixed" are most in Malaysia....

Anonymous said...

Allahuakbar....
Saratnya kisah ini...saya cuma browse ke bawah tanpa membaca penuh...Ayat-ayat dalam kisah ini begitu berat...Kawan yang berusia 26 tahun pernah berkata, dia ada singgah di sini, di laman blog En. Abdullah, tetapi disebabkan artikel yang terlalu sarat, dia tidak membaca dan menganggap, artikel ini sarat seperti saratnya usia En. Abdullah. Mungkin encik akan berkata, golongan muda malas berfikir tetapi cuba encik jadikan diri encik mempermudahkan bahasa dan gaya penyampaian supaya dapat dikongsi golongan muda yang kurang ilmu dan pengalamannya ini dan menjadikan sesetengah artikel disampaikan isinya dalam nada yang lebih santai. Wallahua'lam....(maynis99)

ABDULLAH CHEK SAHAMAT said...

Terima kasih. Namun, seperti kita meneguk air sejuk, apakah ilmu yang kita dapat. Pastinya, tak banyak yang perlu kita fikirkan. Cuba kita di minta meminum air yang tengah mendidih apa pula yang akan kita fikirkan.

(2) Samalah halnya jika kita kata 1+1=2, pastinya semua orang akan setuju dan tak perlu berfikir, namun bila kita kata 1+1=1 dan atau 1+1=0,1,2,3,4,5.....mungkin sampai infiniti, pastinya kita kena perah otak sedikit mencari apa maksudnya.

(3) Saya tengah belajar bagaimana mahu mengajak manusia berfikir...kerana di dalam Al Quran, entah berapa ribu kali Allah mencabar kita...tidakkah kamu orang-orang yang berfikir!

Anonymous said...

Menarik.. Sejarah yang dilakar... Pengembaraan yang bersebab... Semangat yang membara...Pertemuan..Perpisahan.. Teruskan menulis...Semoga ada yang berfikir...

Anonymous said...

Jika kita kira memudahkan sesuatu perkara adalah mudah sebenarnya ia mengundang perkara yang lebih berat.(bermasalah) Saya kira permudahkan cara adalah lebih elok dari memudahkan pengakhirannya. Saya pengunjung tetap blog ini, bagi saya banyak perkara terselindung didalam penulisan saudara Abdullah. Baca saja tidak cukup tetapi memahami dan terus saja diikuti fikiran yang matang bukannya "emosi" kerna dek sikap keras saudara Abdullah di kantornya mahupun dilapangan.
Saya berdepan dengan masalah dengan orang kampung dek kecuaian sahabat yang memudahkan pengakhiran sesuatu pekerjaan. "Disebabkan nila setitik rosak susu sebelanga" itu perumpamaan orang tua. Namun saya yang menjadi susu itu tidak akan terus ianya rosak begitu saja...tabah dan tegas dalam menjalankan amanah yang telah diberikan. Maaf jika cerita ini menyimpang dari pemikiran saudara Abdullah. Aku tidak meminta tapi aku bahagia untuk berjuang dan berbakti memajukan ekonomi orang kampung.Kepada sahabatku janganlah terlalu bangga seperti lalang ...sekali sekala jadilah seperti padi penuh berisi. semakin berisi semakin tunduk. Bukan tunduk mengalah tapi melihat apa yang tidak kita nampak.

Anonymous said...

Orang kata aku lahir dari perut mak..
(bukan org kata...memang betul)

Bila dahaga, yang susukan aku....mak
Bila lapar, yang suapkan aku.....mak
Bila keseorangan, yang sentiasa di sampingku.. ..mak
Kata mak, perkataan pertama yang aku sebut....Mak
Bila bangun tidur, aku cari....mak
Bila nangis, orang pertama yang datang ....mak
Bila nak bermanja, aku dekati....mak
Bila nak bergesel, aku duduk sebelah....mak
Bila sedih, yang boleh memujukku hanya.....mak
Bila nakal, yang memarahi aku....mak
Bila merajuk, yang memujukku cuma....mak
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah....mak
Bila takut, yang tenangkan aku....mak
Bila nak peluk, yang aku suka peluk....mak
Aku selalu teringatkan ....mak
Bila sedih, aku mesti talipon....mak
Bila seronok, orang pertama aku nak beritahu.... .mak
Bila bengang.. aku suka luah pada...mak
Bila takut, aku selalu panggil... "mmaaakkkk! "
Bila sakit, orang paling risau adalah....mak
Bila nak exam, orang paling sibuk juga....mak
Bila buat hal, yang marah aku dulu....mak
Bila ada masalah, yang paling risau.... mak
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. mak
Yang selalu masak makanan kegemaranku. ...mak
kalau balik ke kampung, yang selalu bekalkan ulam & lauk pauk.....mak
Yang selalu simpan dan kemaskan barang-barang aku....mak
Yang selalu berleter kat aku...mak
Yang selalu puji aku....mak
Yang selalu nasihat aku....mak
Bila nak kahwin..Orang pertama aku tunjuk dan rujuk......mak

Aku ada pasangan hidup sendiri....

Bila seronok, aku cari....pasanganku
Bila sedih, aku cari....mak

Bila berjaya, aku ceritakan pada....pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada....mak

Bila bahagia, aku peluk erat....pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat....emakku

Bila nak bercuti, aku bawa....pasanganku
Bila sibuk, aku hantar anak ke rumah.....mak

Bila sambut valentine.. Aku bagi hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan “Selamat Hari Ibu”

Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu.. mak ingat kat aku

Bila-bila... aku akan talipon pasanganku
Entah bila.... aku nak talipon mak

Selalu...aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah bila... aku nak belikan hadiah untuk emak

Renungkan:
"Kalau kau sudah habis belajar dan berkerja... bolehkah kau kirim wang untuk mak?
mak bukan nak banyak... lima puluh ringgit sebulan pun cukuplah".
Berderai air mata jika kita mendengarnya. .......

Tapi kalau mak sudah tiada..........
MAKKKKK...RINDU MAK.... RINDU SANGAT....




Berapa ramai yang sanggup menyuapkan ibunya....
berapa ramai yang sanggup mencuci muntah ibunya......
berapa ramai yang sanggup mengantikan lampin ibunya.....
berapa ramai yang sanggup membersihkan najis ibunya...... .
berapa ramai yang sanggup membuang ulat dan membersihkan luka kudis ibunya.....
berapa ramai yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya......

dan akhir sekali berapa ramai yang sembahyang JENAZAH ibunya......

Seorang anak mendapatkan ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur lalu menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera mengesatkan tangan di apron menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak lalu membacanya.Kos upah membantu ibu:

1) Tolong pergi kedai : RM4.00
2) Tolong jaga adik : RM4..00
3) Tolong buang sampah : RM1.00
4) Tolong kemas bilik : RM2.00
5) Tolong siram bunga : RM3.00
6) Tolong sapu sampah : RM3.00
Jumlah : RM17.00

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak sambil sesuatu berlegar-legar si mindanya. Si ibu mencapai sebatang pen dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.

1) Kos mengandungkanmu selama 9 bulan - PERCUMA
2) Kos berjaga malam kerana menjagamu - PERCUMA
3) Kos air mata yang menitis keranamu - PERCUMA
4) Kos kerunsingan kerana bimbangkanmu - PERCUMA
5) Kos menyediakan makan minum, pakaian, dan keperluanmu -PERCUMA
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - PERCUMA

Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh siibu. Si anak menatap wajah ibu,memeluknya dan berkata,

"Saya Sayangkan Ibu". Kemudian si anak mengambil pen dan menulis "Telah Dibayar" pada mukasurat yang sama ditulisnya.
-membuatkan aku terkenangkan ibu yang jauh dimata- membuatkan aku terfikir.

ABDULLAH CHEK SAHAMAT said...

Jika itu natijahnya, alangkah malang sesiapa saja menjadi bapa? Siapakah yang mencari bapa, menyebut bapa, nengenang bapa, berdoakan bapa, ...mungkin cuma Mak (dalam diam)!

(2) Pernah aku bertanya pada sulur-sulurku, kalian anak siapa, biar baru mahu tumbuh gigi, mereka serentak berkata....emak dan bapak! Aku pasti, apapun jua, tidak segalanya mak, kerana kita bukan Nabi Isa yang tiada bapa? Jangan ada bedanya di antara keduanya! Biar niat, biar kata, biar olah!

Anonymous said...

Esok hari Ibu lah BRO....

ABDULLAH CHEK SAHAMAT said...

Kenapa ngak diraikan saja hari seisi keluarga...biar berbeda, tetap berbeda,....namun biar semua terhormat.

Anonymous said...

Kalau hari Ibu mestilah semuanya meraikan kecuali yang diceraikan atau mati laki...Atau sik beranak...Alahai

Anonymous said...

Aoklah sik salah nyambut ari IBU. Bapak ada juak if i am not mistaken. Eh benda kecik pun nak dibesar-besar..kata pemikir BESAR?? ~sik tauklah~

Anonymous said...

Saya kira penceritaan saudara Abdullah di dalam blog kebanyakkan bukan cerita-cerita rekaan atau dijelma dari pemikiran namun hasil dari pengalaman yang lepas. cuma nama-nama dalam penceritaan telah diubah bagi menambahbaik penyebutan dalam cerita dan terselit nama-nama yang betul(biarkanlah). Untuk semua pembaca di blog ini, SEDILO sebuah tempat yang telah membentuk perjalanan Abdullah menjadi lebih baik. Tentu pekerja2 PELITA masih ingat saudara Abdullah telah membawa melihat ulu sedilo beberapa tahun yang lepas. -Andalusia-

Anonymous said...

Mun sik experience sik lah dapat nok bercerita.. But sometime we tend to be imaginative ... Futuristic...

Bayu Senja said...

Kiranya saya bisa berkongsi tentang pengorbanan ibu. Baru-baru ini diadakan anugerah ibu cemerlang di Hotel Nikko ,Kuala Lumpur, maka semua kami telah ke sana untuk menghadirinya. Ibu memenangi anugerah tersebut bukan kerana jumlah anaknya yang ramai (8), tetapi kerana anak-anaknya semua berjaya di dunia dan dalam pemerhatianku, dalam akhirat. Bertuahnya ibu, dia menangis, dan ayah cuma tersenyum apabila ibu menang anugerah.Kami benar-benar gembira ,bukan kerana hadiah yang diterima atau gembar gembur media, tetapi kemenangannya dalam mendidik anak-anak yang punya semangat juang yang gigih.Dan kini cucu-cucunya seramai 25 orang sudah mula menampakkan potensi masing-masing.

Cerita ini saya kongsi bukan untuk menunjuk, tetapi saya lihat ibu yang saya kenal sejak 20 tahun yang lepas tidak pernah sekalipun lupa untuk berdoa buat anak-anaknya. Itu sesuatu yang mungkin sering dialpakan oleh ibu-ibu muda zaman sekarang.

Dan ibu selalu didahului ayah yang juga tidak pernah melupakan penciptanya. The key to everything in life, i see it now....before this i took it for granted because i was taught to do this and that.Now it's in my head and my heart...and by being part of this blog has made made 'see' things beyond normal horizons.

To all, tq and may Allah bless you

Back To Top